KLATEN, CHANEL7.ID – Kamis sore suasana di jalanan Kecamatan Jatinom berubah menjadi panggung kemeriahan budaya. Ribuan masyarakat dan pengunjung memadati pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi kirab Gunungan Apem Yaa Qowiyyu, yang begitu meriah dengan iringan gamelan dan tari tradisional menambah semarak perjalanan rombongan. Deretan gunungan apem berjejer di atas tandu hias, siap untuk diarak keliling desa. Senyum dan riuh tepuk tangan menandai antusiasme warga Klaten dan wisatawan yang hadir (07/08/2025).
Suasana makin semarak dan meriah karena kehadiran Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, yang ikut ambil bagian dengan berjalan bersama rombongan. Di sela arak-arakan, ia menebar apem kepada penonton yang berdiri di pinggir jalan. Aksi sederhana itu langsung menjadi magnet, membuat warga bersorak gembira sambil berebut mendapat apem. Tak hanya apem dan roti manis, Beberapa rombongan pawai juga membagikan hasil bumi berupa sayur dan buah dari petani lokal. Kehadiran dan keterlibatan aktif Pemimpin Daerah ini menegaskan komitmen membangun harmoni dan kebersamaan.
Menurut Sugiyanto salah seorang warga lokal Jatinom mengatakan
“Tradisi Yaa Qowiyyu di Jatinom bermula dari kisah Ki Ageng Gribig pada abad ke-17. Sepulang menunaikan ibadah haji di Mekah, beliau membawa roti manis yang kemudian dikreasikan menjadi apem lokal. Apem itu dibagikan sebagai sedekah kepada masyarakat yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Sejak saat itu, kegiatan tebar apem menjadi simbol permohonan ampunan dan rasa syukur. Warisan ini diwariskan turun-temurun, membentuk identitas budaya khas Jatinom saat ini,” ujarnya.
Dirinya juga menceritakan “Dahulu, tradisi Yaa Qowiyyu digelar selama hampir 20 hari berturut-turut setiap bulan Safar. Pergeseran zaman dan kebutuhan modern membuat penyelenggara memadatkan rangkaian acara menjadi hanya sekitar satu minggu. Perubahan ini bertujuan menjaga antusiasme tanpa membebani sumber daya masyarakat. Meski lebih ringkas, esensi kebersamaan dan nilai kearifan lokal tetap terjaga utuh. Siklus tahunan tetap setia digelar, mengundang animo sama kuatnya dengan tempo dulu.” papar Sugiyanto.
- Advertisement -
Rangkaian kegiatan kirab budaya ini dimulai dengan kirab budaya dari kecamatan Jatinom, yang menampilkan rombongan paskibraka, budayawan, pelajar, seniman, pesilat, aparat pemerintahan daerah, drumband pelajar, ondel-ondel dan berbagai atraksi budaya lain yang mengelilingi desa, menampilkan juga berbagai gunungan apem sebagai titik pusat perhatian. Malam harinya, Car Free Night dan gebyar UMKM disajikan gratis untuk memperkaya unsur edukasi dan hiburan. Puncaknya, esok seusai prosesi shalat Jum’at prosesi sebar apem akan digelar di sekitar kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig yang dipadati ribuan warga. Tak hanya apem, masyarakat juga menyiapkan beragam hasil bumi untuk disumbangkan secara swadaya. Semua elemen ini bersatu memaknai semangat berbagi dan memupuk kebersamaan.
Pelibatan warga lokal menjadi kunci kesuksesan acara, mulai dari pembuatan apem hingga dekorasi gunungan. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis), BUMDes, PKK, dan relawan bahu-membahu menyiapkan segala kebutuhan. UMKM di sekitar Jatinom juga memanfaatkan momentum untuk mempromosikan produk kuliner dan kerajinan khas. Wisatawan antusias memborong apem kemasan, dan produk kerajinan, hingga kuliner khas produksi desa. Pendapatan tambahan ini membantu meningkatkan kesejahteraan dan memberdayakan ekonomi lokal.
“Tebar apem ini bukan semata ritual keagamaan tetapi juga sarana menanamkan nilai sedekah dan solidaritas. Tradisi rebutan apem yang dilempar dari menara melambangkan bahwa berkah datangnya dari atas, namun butuh usaha untuk mendapatkannya. Nilai gotong royong terpancar dari kebersamaan warga dalam menyiapkan dan memberikan apem. Lebih jauh, ritual ini menjadi pelajaran moral bagi generasi muda untuk peduli dan berbagi. Budaya ini merangkum harmoni antara spiritualitas, kemanusiaan, dan kearifan lokal.” tutur Sugiyanto.
Tradisi Yaa Qowiyyu telah tumbuh menjadi daya tarik wisata budaya yang khas Klaten. Tak heran jika pengunjung dari berbagai daerah rela datang untuk menikmati keunikan ini. Ipunk, seorang pemandu wisata lokal dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community, mengajak rombongan wisatawan menyerap pengalaman langsung di Jatinom. Semua tamu juga pulang membawa oleh-oleh berupa apem dan kerajinan UMKM, sekaligus kisah inspiratif untuk diceritakan kembali. Potensi ini membuka peluang kolaborasi antara sektor pariwisata, pemerhati budaya, dan pihak swasta.
Ipunk yang antusias menjelaskan prosesi kirab hingga perayaan Yaa Qowiyyu kepada tamu dan rombongan yang dibawanya berharap potensi kearifan lokal dan tradisi seperti ini bisa terus ada melengkapi berbagai sarana dan prasarana wisata yang ada di Klaten. Sehingga pariwisata Klaten terus melonjak dan juga kesejahteraan masyarakat sekitar bisa ikut terdongkrak.
- Advertisement -
Terpisah Bupati Hamenang Wajar Ismoyo berharap tradisi Yaa Qowiyyu terus lestari bersama perkembangan Klaten sebagai kota wisata. Ia menekankan pentingnya dukungan infrastruktur, promosi digital, dan pelatihan UMKM agar nilai acara terjaga. Komitmen pemangku kebijakan perlu diwujudkan melalui anggaran berkelanjutan dan kolaborasi lintas dinas. Partisipasi kaum difabel serta kelompok rentan diharapkan semakin diperkuat agar acara makin inklusif. Dengan demikian, Klaten tidak hanya dikenal lewat candi dan mata air, tetapi juga kekayaan budaya dan semangat gotong royong.
Kirab Pawai Gunungan Apem Yaa Qowiyyu 2025 yang dihadiri Bupati Klaten menjadi bukti betapa tradisi dapat mempererat ikatan sosial. Perpaduan sejarah, makna spiritual, dan kekuatan ekonomi lokal dipresentasikan dalam satu rangkaian acara yang singkat namun sarat makna. Masyarakat Jatinom serta pengunjung menunjukkan antusiasme tinggi, mencerminkan keberlanjutan budaya yang hidup. Dukungan pemerintah dan pelaku UMKM menjadi fondasi agar tradisi ini kian terkenal. Semoga Yaa Qowiyyu terus menjadi warisan yang memicu kebahagiaan, kesejahteraan, dan kebanggaan warga Klaten.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

