SURAKARTA, CHANEL7.ID –
Kepergian Drs. Bonyong Munny Ardhie Sajid meninggalkan ruang hening yang dalam di dunia seni rupa Surakarta dan segenap komunitas yang pernah bersentuhan dengan kebaikan hatinya. Sosoknya yang ramah, rendah hati, dan penuh dedikasi bukan hanya menjadi panutan bagi generasi seniman muda, tetapi juga menjadi jembatan antara tradisi lokal dan ekspresi kontemporer. Berita berpulangnya beliau pada 14 Mei 2026 terasa seperti kehilangan satu pilar yang selama puluhan tahun menopang kehidupan artistik di kota kelahirannya (15/05/2026).
Bonyong lahir pada 21 Juni 1946, dan sepanjang hidupnya ia menorehkan karya-karya yang sederhana namun sarat makna. Karyanya tidak mencari gemerlap popularitas, ia memilih bahasa visual yang jujur, menyentuh, dan akrab bagi banyak orang. Bagi para mahasiswa dan kolega, beliau bukan sekadar pengajar atau rekan, beliau adalah teladan yang mengajarkan bahwa seni sejati lahir dari ketulusan, kerja keras, dan rasa hormat terhadap akar budaya. Banyak yang mengingat bagaimana beliau menuntun tangan-tangan muda untuk menemukan suara mereka sendiri, sambil tetap menghargai tradisi batik, wayang, dan estetika Jawa yang halus.
Di balik reputasinya sebagai perupa besar, Bonyong dikenal sebagai pribadi yang membumi. Ia sering terlihat berbincang santai dengan mahasiswa di teras kampus, saat masih aktif mengampu prodi Seni Rupa Murni ISI Surakarta, memberi komentar yang membangun tanpa menggurui, atau sekadar tersenyum ketika melihat karya yang lahir dari kegigihan. Sikapnya yang hangat membuat ruang belajar menjadi tempat yang aman bagi eksperimen dan kegagalan kreatif, dua hal yang menurutnya esensial dalam proses berkarya. Banyak seniman muda yang menyebutnya sebagai “guru yang memberi ruang”, karena ia selalu mendorong muridnya untuk berani mengambil resiko estetis.
Keluarga yang ditinggalkan, istri tercinta M.Y. Ning Yuliastuti, anak-anak Adria Vitalya Gemilang dan In Magma, serta menantu Tri Septa Nurhantoro, tentu merasakan duka yang tak terperi. Kehilangan seorang suami, ayah, dan mertua yang juga merupakan figur publik membawa lapisan kesedihan yang kompleks, duka pribadi yang bercampur dengan penghormatan publik. Upacara pemakaman yang dilaksanakan di Makam Karangturi pada sore hari ini, menjadi momen berkumpulnya komunitas seni, sahabat, dan keluarga untuk memberi penghormatan terakhir. Dari rumah duka di Jl. Gelatik 73 Perum Dosen UNS IV, Triyagan, Sukoharjo, rombongan berangkat membawa kenangan, doa, dan karya-karya yang akan terus hidup sebagai warisan.
- Advertisement -
Bagi eks mahasiswa seni rupa murni ISI Surakarta angkatan pertama yang pernah belajar langsung darinya, kabar ini mengejutkan dan menyayat. Banyak yang mengenang pelajaran-pelajaran yang lebih dari sekadar teknik menggambar atau melukis, mereka mengingat pelajaran tentang etika berkarya, tentang bagaimana menjaga integritas artistik di tengah godaan komersialisasi, dan tentang pentingnya menjadikan seni sebagai sarana untuk memahami kemanusiaan. Bonyong mengajarkan bahwa seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal empati, kemampuan melihat dan merasakan dunia dari sudut pandang orang lain.
Warisan Bonyong tidak hanya terpatri pada kanvas atau instalasi, ia hidup dalam cara orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya memandang proses kreatif. Banyak muridnya yang kini menjadi pengajar, kurator, atau seniman aktif, meneruskan semangatnya untuk membimbing generasi berikutnya. Karya-karyanya yang tersisa menjadi dokumen visual yang merekam perjalanan estetika seorang seniman yang setia pada akar budaya namun terbuka pada dialog global. Pameran-pameran retrospektif yang akan datang kelak pasti akan menampilkan bukan hanya karya, tetapi juga cerita-cerita kecil tentang kebaikan dan kebijaksanaan yang ia bagikan.
Di saat duka ini, kita diingatkan bahwa kehilangan seorang maestro adalah panggilan untuk merawat warisan yang ditinggalkannya. Mengunjungi karya-karyanya, menuliskan kenangan, atau meneruskan tradisi pengajaran yang ia jalankan adalah bentuk penghormatan yang paling nyata. Bagi keluarga, sahabat, dan komunitas seni, doa dan kenangan menjadi penghiburan sekaligus pengikat yang menguatkan.
Rest in peace, Bonyong Munny Ardhie Sajid, semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahnya, menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, memberi ketabahan dan kekuatan kepada istri, anak-anak, dan keluarga yang ditinggalkan, serta menjadikan warisan seni dan teladan hidupnya sebagai cahaya yang terus menerangi langkah generasi penerus, terima kasih atas segala yang telah engkau berikan, ilmu, inspirasi, dan keteladanan, semoga perjalananmu tenang dan karya-karyamu terus berbicara, menginspirasi, dan mengingatkan kita bahwa seni adalah nafas yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan, Amin.
Di penghujung perjalanan ini, biarlah kenangan tentang Bonyong Munny Ardhie Sajid tetap hidup dalam setiap goresan, bisik tradisi yang diwariskan, dan keberanian para muridnya untuk terus berkarya, ketika kanvas-kanvasnya sunyi, suara dan ajarannya justru semakin nyaring, mengingatkan kita bahwa seorang guru sejati tak pernah benar-benar pergi, melainkan terus hadir lewat karya, teladan, dan cinta yang ia tanamkan pada generasi yang meneruskan langkahnya.
- Advertisement -
@ Pitut Saputra

