JABAR, CHANEL7.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah Kalimantan. Kebakaran yang terjadi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur berdampak pada lingkungan, kualitas udara, serta aktivitas masyarakat.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Taman Nasional Tanjung Puting, yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Kawasan konservasi tersebut menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk orangutan, sehingga kebakaran berpotensi mengancam kelestarian ekosistem.
Dalam laporan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada rapat penanganan karhutla, Senin (12/10/2026), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut luas kawasan yang terbakar di Taman Nasional Tanjung Puting mencapai sekitar 513,89 hektare.
Angka tersebut merupakan data yang dilaporkan pada tanggal tersebut dan tidak dapat langsung dianggap sebagai luas kebakaran terkini. Perkembangan luas area terdampak masih memerlukan pembaruan dari petugas di lapangan.
- Advertisement -
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Jadi Prioritas Penanganan
Kementerian Kehutanan sebelumnya menyampaikan bahwa pengendalian karhutla diperkuat melalui operasi darat dan udara. Dalam siaran pers tertanggal 3 Oktober 2026, kementerian tersebut menyoroti peningkatan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Pemantauan titik panas menggunakan satelit menjadi salah satu instrumen deteksi dini. Namun, titik panas tidak selalu berarti kebakaran yang telah terkonfirmasi. Karena itu, pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memastikan keberadaan api dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Pentingnya verifikasi tersebut juga terlihat dari laporan mengenai Kalimantan Barat. Berdasarkan pemberitaan Media Indonesia pada September 2026, BNPB menyebut bahwa dari 166 titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, sebanyak 61 titik terverifikasi sebagai titik api setelah dilakukan pemeriksaan lapangan.
Pemadaman Menghadapi Kendala Medan dan Ketersediaan Air
- Advertisement -
Upaya pemadaman di sejumlah lokasi Kalimantan menghadapi tantangan, terutama akses menuju titik api dan terbatasnya sumber air ketika kondisi kering berlangsung.
Dalam laporan pada 12 Oktober 2026, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, menjelaskan bahwa petugas Manggala Agni tetap melakukan pemadaman meskipun sejumlah lokasi sulit dijangkau. Pemadaman juga melibatkan masyarakat, sementara sumur bor dikembangkan sebagai alternatif sumber air di wilayah tertentu.
Pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas instansi untuk mendukung penanganan karhutla. Langkah ini diperlukan agar pemadaman tidak hanya berfokus pada api yang sudah muncul, tetapi juga mencakup pencegahan kebakaran baru.
- Advertisement -
Kabut Asap Berdampak pada Kesehatan dan Aktivitas Masyarakat
Selain kerusakan lingkungan, karhutla dapat menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, khususnya bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Reuters dalam laporannya pada 15 Oktober 2026 memberitakan kondisi kabut asap yang memburuk di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan. Laporan tersebut juga mengutip keluhan warga Palangka Raya mengenai terganggunya aktivitas sehari-hari akibat asap.
Meski demikian, tingkat pencemaran udara dapat berbeda antara satu lokasi dan lokasi lainnya. Kondisi udara di setiap daerah perlu merujuk pada hasil pemantauan yang terukur, bukan semata-mata berdasarkan ketebalan asap yang terlihat.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika polusi meningkat, serta menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap.
Pencegahan dan Penegakan Hukum Perlu Diperkuat
Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. Pengawasan kawasan rawan, edukasi masyarakat, pengelolaan lahan tanpa pembakaran, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara melanggar hukum juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Penyebab setiap kebakaran harus ditelusuri melalui penyelidikan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa hasil pemeriksaan yang memadai, tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa kebakaran tertentu dilakukan oleh individu atau perusahaan tertentu.
Perlindungan kawasan konservasi seperti Taman Nasional Tanjung Puting juga memerlukan perhatian khusus karena kerusakan habitat dapat berdampak panjang terhadap keanekaragaman hayati.
Karhutla di Kalimantan menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan, keselamatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan saling berkaitan. Penanganan yang cepat, koordinasi lintas lembaga, transparansi data, dan pencegahan berkelanjutan menjadi faktor penting untuk menekan dampak kebakaran.
®Redaksi

