SURAKARTA, CHANEL7.ID –
Malam yang semestinya menjadi titik balik bagi Persis Solo berubah menjadi luka mendalam. Ketika bertanding di Banten International Stadium, Persis menutup musim dengan kemenangan meyakinkan 3–1 atas Persita Tangerang melalui gol J. Ferreira de Souza (43′), M. Maričić (73′), dan D. Tumbas (90+1′) yang sukses menjebol gawang Persita (23/05/2026).
Di lapangan, para pemain menampilkan intensitas dan determinasi yang layak diapresiasi, kombinasi tekanan tinggi, pergerakan tanpa bola, dan penyelesaian akhir yang lebih klinis dibandingkan beberapa laga sebelumnya membuat kemenangan itu terasa pantas. Namun euforia itu segera meredup ketika kabar dari Gelora Bangkalan Madura datang, rival terdekat Madura United menaklukkan PSM Makassar 2–0 berkat dua gol J. Brandão, sehingga kombinasi hasil tersebut memastikan Persis turun kasta ke Liga 2.
Suasana nobar di Solo dan berbagai titik kumpul suporter menjadi saksi kontradiksi emosi yang tajam. Ribuan pendukung berkumpul di Stadion Manahan, cafe, dan lapangan terbuka, menonton lewat layar besar sambil berharap hasil lain berpihak. Setiap serangan Persis disambut sorak-sorai, setiap peluang yang berbuah gol memicu ledakan kegembiraan. Namun layar-layar yang menampilkan skor pertandingan lain perlahan menutup celah harapan. Ketika kepastian degradasi datang, suasana berubah haru, flare dinyalakan, nyanyian Satu Jiwa menggema, dan banyak suporter menahan air mata sambil memberi penghormatan pada perjuangan tim sepanjang musim.
Reaksi dari internal klub dan pendukung langsung mengalir. Presiden DPP Pasoepati Arif Djodi Purnomo menyatakan kekecewaannya atas hasil akhir musim ini. Menurutnya, dukungan suporter sepanjang musim tidak boleh dianggap remeh, dan meski tim berjuang sampai pekan terakhir, nasib kompetisi ditentukan oleh perjalanan panjang, bukan satu malam heroik. Djodi mengajak para owner dan manajemen untuk duduk bersama membahas berbagai persoalan klub sebagai bahan evaluasi menyeluruh menghadapi musim depan. Ajakan itu menekankan perlunya perencanaan jangka panjang, transparansi, dan sinergi antara manajemen, pelatih, dan suporter agar Persis bisa kembali lebih kuat.
- Advertisement -
Dari sisi suporter, pernyataan yang mewakili perasaan banyak orang datang dari Choirul, salah satu yang hadir di nobar Stadion Manahan. Ia mengatakan, “Kami bangga dengan perjuangan pemain malam ini, mereka sudah berjuang sampai titik terakhir. Degradasi ini menyakitkan, tapi dukungan kami tidak akan luntur Persis harus bangkit, dan kami akan tetap di belakang tim saat mereka membangun kembali.” Ucapan itu merangkum kekecewaan mendalam sekaligus komitmen untuk tetap setia, modal emosional penting ketika klub harus menghadapi realitas kompetisi yang lebih berat di level kedua.
Secara teknis, degradasi Persis Solo bukanlah hasil dari satu faktor tunggal. Sepanjang musim, inkonsistensi menjadi masalah utama, kemenangan gemilang kerap diselingi hasil imbang dan kekalahan pada momen-momen krusial. Pertahanan yang rapuh di menit-menit akhir, kesalahan individu yang berulang, serta cedera pemain kunci mengikis poin-poin penting. Di lini serang ada kilasan kualitas, terbukti dari gol-gol yang tercipta di laga penutup, namun efektivitas penyelesaian peluang tidak selalu stabil sepanjang kompetisi.
Aspek non-teknis juga berperan. Rotasi pemain yang belum optimal, kesiapan fisik yang menurun pada fase akhir musim, serta tekanan psikologis mempengaruhi performa tim. Manajemen perlu menelaah skema transfer, perencanaan rotasi, dan program kebugaran agar tim lebih tahan terhadap tekanan kompetisi panjang.
Manajemen kini dihadapkan pada tugas berat namun jelas, evaluasi menyeluruh dan perencanaan strategis. Skema transfer harus dievaluasi agar kebutuhan tim diisi dengan tepat, pengembangan akademi perlu dipercepat untuk memastikan aliran talenta lokal, dan kesiapan finansial harus ditata agar klub mampu bertahan dan bersaing di Liga 2 tanpa kehilangan identitas. Keterlibatan suporter dalam proses pembenahan, melalui komunikasi terbuka dan program komunitas, akan membantu meredam kekecewaan dan menumbuhkan kembali optimisme.
Degradasi adalah pukulan, tetapi bukan akhir cerita. Kemenangan 3–1 menunjukkan bahwa jiwa juang dan kualitas masih ada, itu bisa menjadi titik awal pembenahan. Jika evaluasi dilakukan jujur dan langkah perbaikan dijalankan konsisten, Liga 2 bisa menjadi medan pembenahan yang membawa Persis kembali lebih matang dan siap menghadapi tantangan berikutnya. Kini tugas bersama dimulai, merajut kembali fondasi, belajar dari kesalahan, dan menyiapkan langkah agar Persis Solo kembali menaklukkan puncak kompetisi. Cerita kebangkitan itu harus dimulai sekarang.
- Advertisement -
@ Pitut Saputra

