YOGYAKARTA, CHANEL7.ID –
Momentum peringatan Hari Kartini tahun ini di Yogyakarta menjadi panggilan aksi yang tegas ketika Wuri Rahmawati, Ketua Wakanda (Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif) Yogyakarta, menyoroti kondisi nyata yang dihadapi perempuan pekerja di era ekonomi digital saat ini (19/04/2026).
Saat dikonfirmasi jurnalis Chanel7.id Ketua Wakanda Yogyakarta tersebut menyatakan dan mengingatkan dengan lugas, bahwa “Perayaan peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti pada simbolisme kebaya dan seremoni, makna Kartini harus diterjemahkan menjadi upaya konkret untuk memperjuangkan keadilan sosial, terutama bagi driver ojek online perempuan yang kerap luput dari perhatian publik.” tegasnya.
Wuri menegaskan bahwa Kartini modern kini hadir di jalanan, perempuan yang mengendarai sepeda motor, menjemput penumpang, mengantarkan makanan, dan menanggung beban ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. “Hari Kartini bukan hanya tentang kebaya dan seremoni. Hari Kartini adalah tentang keberanian perempuan mengambil peran di ruang publik.” ungkapnya.
Hari ini, kami melihat Kartini-Kartini itu ada di jalanan, “Mereka adalah driver ojol perempuan yang bekerja tanpa lelah, melawan stigma, dan bertahan di tengah sistem yang belum berpihak. Jika Kartini dulu memperjuangkan suara perempuan, maka hari ini ojol (ojek online) perempuan memperjuangkan hidupnya sendiri,” ujar Wuri.
- Advertisement -
Dalam paparan yang disampaikan kepada awak media, Wuri juga mengkritisi narasi yang sering dipromosikan oleh platform ojek online, yakni “fleksibilitas kerja”, Menurutnya, klaim bahwa siapa saja bisa bekerja kapan saja tanpa tekanan justru menutupi realitas kontrol algoritma Ai yang menentukan distribusi order, insentif, dan penalti.
Algoritma Ai yang diklaim netral itu tidak mempertimbangkan beban ganda yang dipikul banyak perempuan. Ketika seorang driver perempuan harus berhenti sejenak untuk mengurus anak atau urusan rumah tangga, sistem tidak memberi toleransi dan pengertian, yang ada justru konsekuensinya yakni penurunan performa, berkurangnya order, dan hilangnya insentif yang berdampak langsung pada pendapatan keluarga, disinilah ketidakadilan itu terjadi.
Wuri menekankan bahwa masalah ini bukan sekadar teknis. “Teknologi dan sistem yang seharusnya membantu, justru memperkuat ketimpangan yang sudah ada. Perempuan dipaksa bersaing dalam aturan yang sejak awal tidak dirancang untuk mempertimbangkan kondisi mereka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa platform online diduga secara halus telah memindahkan seluruh risiko kepada driver, tidak ada kepastian pendapatan, perlindungan sosial minim, dan setiap kesalahan, termasuk yang disebabkan oleh sistem, tetap menjadi beban driver. Dalam kondisi seperti ini, driver perempuan menjadi kelompok yang paling rentan.” paparnya.
Kritik Wuri juga menyasar penggunaan istilah “kemitraan” oleh perusahaan platform. Menurutnya, jika benar kemitraan, maka harus ada pembagian risiko dan kewajiban yang adil. Namun kenyataannya, relasi yang timpang justru terjadi, platform memegang kendali penuh melalui mekanisme teknis, sementara driver hanya bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang dibuat tanpa partisipasi yang setara. Wuri menuntut agar istilah kemitraan tidak lagi dipakai untuk menutupi ketidakadilan struktural.
- Advertisement -
Sebagai langkah konkret, Wuri mengajukan beberapa tuntutan yang harus didorong oleh masyarakat sipil, pembuat kebijakan, dan perusahaan platform.
Pertama, mendesak transparansi algoritma agar mekanisme pembagian order dan insentif dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan.
Kedua, menuntut perlindungan yang adil bagi driver, termasuk jaminan pendapatan minimum, akses jaminan sosial, dan mekanisme pengaduan yang efektif.
- Advertisement -
Ketiga, mengakui secara nyata kondisi dan kebutuhan driver perempuan dalam kebijakan perusahaan dan regulasi pemerintah.
Tuntutan tersebut mendapat respon positif dari sejumlah pengemudi perempuan dan komunitas driver lokal yang turut bersuara pada momentum peringatan Hari Kartini. Beberapa organisasi driver online menyatakan kesiapan untuk menggalang dialog publik dengan perwakilan platform dan pemerintah daerah. Mereka berharap pertemuan itu dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih berpihak pada pekerja platform, terutama perempuan yang menghadapi tantangan unik.
Di sisi lain, perwakilan beberapa komunitas driver perempuan turut mengungkapkan kekhawatiran serupa, ketidakpastian pendapatan, minimnya akses perlindungan kesehatan dan jaminan sosial, serta kurangnya ruang partisipasi dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan kerja mereka. Wuri menilai bahwa “Tanpa perubahan struktural, kemajuan teknologi hanya akan menjadi wajah baru dari ketimpangan lama.” tegasnya.
Momentum Hari Kartini kali ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Wuri Rahmawati menutup pesannya dengan ajakan agar masyarakat tidak hanya merayakan simbol, tetapi juga memperjuangkan keadilan nyata bagi Kartini-kartini modern khususnya yang berjuang di jalanan. driver ojol perempuan yang menuntut pengakuan, perlindungan, dan kesempatan yang setara. Jika suara mereka didengar dan tuntutan mereka ditindaklanjuti, peringatan Hari Kartini akan bermakna lebih dari sekadar seremonial, ia akan menjadi momentum perubahan sosial yang nyata.
( Pitut Saputra )

