JABAR, CHANEL7.ID – Dalam dunia yang kerap dibungkam oleh kepentingan dan kompromi, keberanian untuk menyuarakan kebenaran adalah kemewahan yang tak dimiliki semua orang. Terlebih, ketika suara itu diarahkan kepada kekuasaan yang korup, sistem yang manipulatif, dan pejabat yang abai terhadap integritas. Jawa Barat, tanah leluhur para pejuang, nyatanya belum kehilangan daya dobrak nya.
Di tengah gempuran praktik korupsi yang semakin kompleks dan terselubung, hadir tiga figur dari Jawa Barat lintas usia dan latar belakang yang menjadikan keberanian sebagai sikap, bukan sekadar slogan. Mereka adalah simbol bahwa melawan korupsi bukan monopoli institusi, tetapi panggilan nurani.
1. ST. Burhanuddin: Ketegasan yang Lahir dari Ketenangan
Sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia, ST. Burhanuddin adalah representasi dari aparatur negara yang tak hanya paham hukum, tetapi juga memiliki komitmen moral untuk menegakkannya. Sosok pria berkumis kalem asal Cirebon ini menjadikan Kejaksaan Agung sebagai medan tempur utama dalam membongkar kejahatan korporasi dan korupsi kakap.
Keberhasilannya mengungkap skandal ASABRI, kasus mega korupsi timah, hingga perkara Pertamina, tidak hanya menyelamatkan triliunan uang negara, tetapi juga memulihkan marwah penegakan hukum yang selama ini kerap diragukan. Di tengah godaan kekuasaan dan tekanan politik, ST. Burhanuddin tetap berdiri di atas garis keadilan.
2. Bambang Widjojanto: Suara Lantang dari Hati yang Jernih
Bambang Widjojanto (BW) bukan sekadar mantan Wakil Ketua KPK, ia adalah figur yang telah lama mengikat hidupnya dengan nilai-nilai keberanian, integritas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dari aktivisme hukum, pengabdian di lembaga anti rasuah, hingga kini menjadi suara kritis di ruang-ruang publik BW tak pernah surut.
Dalam salah satu pernyataan terbarunya yang menjadi viral, BW secara terbuka membongkar indikasi penyimpangan di tubuh BUMD PT. BDS Kabupaten Bandung. Sikapnya yang terus menyuarakan kebenaran, meski tanpa embel-embel jabatan struktural, membuktikan bahwa keberanian sejati tidak mengenal pensiun.
BW mengingatkan publik bahwa melawan korupsi bukan hanya tentang alat bukti dan pasal, tetapi juga tentang keberpihakan moral pada rakyat.
3. Piar Pratama, S.H.: Simbol Tekad Anti Korupsi generasi Muda
Nama Piar Pratama, S.H., atau akrab disapa Kang Vio, mungkin belum sefamiliar dua nama sebelumnya, namun getarannya sudah terasa kuat. Sebagai Ketua Umum Komite Pencegahan Korupsi Jawa Barat, ia tampil sebagai anak muda yang memilih jalan terjal, melawan korupsi dari luar sistem.
Dengan data yang akurat dan keberanian yang jarang dimiliki generasi seusianya, Kang Vio secara konsisten mengungkap indikasi korupsi di berbagai daerah yang ada di Jawa Barat, dari Bandung Raya, Cirebon, hingga Sukabumi. Laporan-laporannya kerap dijadikan rujukan oleh aparat penegak hukum, kejaksaan, kepolisian, hingga KPK RI.
Piar tidak memanfaatkan retorika populis, melainkan menghadirkan laporan-laporan berbasis bukti dengan geraknya yang konsisten dan terukur.
Yang membedakan Piar dari banyak aktivis adalah tekad intelektualnya untuk tidak sekadar menentang permukaan, melainkan menggali akar persoalan. Ia memahami bahwa korupsi bukan hanya kejahatan administratif, tetapi penyakit sistemik yang berakar pada budaya permisif dan lemahnya keteladanan.
Piar menunjukkan bahwa jabatan bukan syarat untuk berpengaruh. Dalam dirinya, keberanian moral dan ketajaman analisis menjelma kekuatan yang lebih substansial ketimbang kekuasaan formal.
Lebih dari Sekadar Nama, Mereka Adalah Simbol
Ditengah krisis kepercayaan terhadap institusi dan para elite, ketiga sosok ini hadir bukan untuk mencari panggung, melainkan menyampaikan pesan:
“Bahwa bangsa ini masih punya harapan, selama masih ada yang berani berkata ‘cukup sudah’ kepada korupsi.”
Lebih dari sekedar tokoh, mereka adalah simbol. Simbol bahwa di tanah Pasundan masih tumbuh keberanian yang tak bisa dibeli. Simbol bahwa hukum bisa dijalankan dengan kehormatan, Dan simbol bahwa generasi muda bisa memilih jalan kebenaran meski harus berhadapan dengan kekuatan besar.
Opini ini bukan glorifikasi, melainkan pengingat.
Bahwa dalam gelapnya praktik korupsi, selalu ada cahaya dari mereka yang memilih berdiri, ketika mayoritas memilih diam.
Dan bagi generasi muda, tiga pendekar ini bukan hanya panutan, mereka adalah ajakan untuk bergerak, berpikir kritis, dan berani memilih menjadi bagian dari perubahan.
©Disclaimer: Artikel Opini Ini Oleh Donny Yulwardana, S.I.Kom
®Redaktur

