KLATEN, CHANEL7.ID
Alun‑alun Klaten pada Rabu malam, 19 Agustus 2026, berubah menjadi panggung besar bagi inovasi dan pelestarian budaya. Pagelaran Wayang Kontemporer yang menampilkan lakon Sang Gatotkaca menjadi oase baru dalam seni pewayangan di Klaten, memadukan tradisi wayang kulit dengan pertunjukan wayang orang dalam format yang lebih modern dan teatrikal. Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Klaten ke‑222 dan HUT RI ke‑81, serta menarik perhatian ribuan penonton yang memadati alun‑alun (20/08/2026).
Pagelaran wayang mengusung konsep hibridasi seni, wayang kulit tradisional yang biasanya dipentaskan dengan kelir dan blencong, kali ini dipadukan dengan teknologi proyeksi modern. Layar proyektor menggantikan kelir tradisional sehingga visual wayang kulit tampil lebih berwarna dan dinamis, menyerupai pengalaman menonton layar teater. Permainan cahaya panggung yang dirancang khusus menambah kedalaman visual, sekaligus memberi ruang bagi penampilan wayang orang yang mengisi adegan‑adegan dramatik.
Di balik layar, dalang‑dalang asli Klaten tetap memegang peran sentral. Ki Suluh Juniarsih, Ki Sigit Sukasman, dan Ki Bayu Aji memainkan wayang kulit dari balik layar, sementara para pelakon wayang orang menampilkan gerak dan dialog yang menimpali narasi. Kombinasi suara gamelan, vokal sinden, dan efek suara modern menciptakan suasana pementasan yang epik namun tetap berakar pada tradisi.
Pagelaran ini melibatkan 222 seniman Klaten, terdiri dari dalang, pengrawit, sinden, pengiring musik, penari, dan pelakon wayang uwong. Puluhan sinden Klaten tampil bergantian, menambah ragam vokal dan nuansa musikal yang khas. Kehadiran Suyati (Yati Pesek) sebagai seniwati senior menambah warna tersendiri, penampilannya mendapat sambutan hangat dari penonton dan menjadi salah satu momen puncak acara.
Atraksi spektakuler yang paling menyita perhatian adalah adegan Gatotkaca yang turun dari atas backdrop, tampak melayang di udara. Teknik rigging dan tata panggung yang rapi membuat atraksi ini menjadi elemen kejutan yang memukau, sekaligus menegaskan kemampuan tim produksi dalam menggabungkan unsur tradisi dan teknologi panggung modern.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menyampaikan apresiasi atas gelaran tersebut. Ia menyebut pagelaran sebagai hadiah istimewa untuk peringatan Hari Jadi Klaten. “Kolaborasi yang luar biasa dari para seniman dan budayawan. Ini menjadi kado yang indah bagi Hari Jadi Klaten yang ke‑222,” ujar Bupati Hamenang. Ia menambahkan bahwa kegiatan seni semacam ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya meneguhkan identitas Klaten sebagai Kota Dalang dan Kota Wayang.
Lebih jauh Bupati berharap hibridasi pagelaran ini dapat menarik minat generasi muda. “Ke depan dengan adanya kegiatan seni yang baru ini bagaimana bisa semakin menarik generasi muda kita untuk kemudian tertarik menekuni dan melihat kembali serta ikut melestarikan seni budaya yang luar biasa ini,” paparnya, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung keberlanjutan tradisi pewayangan melalui inovasi.
Pagelaran ini menunjukkan bahwa pewayangan dapat beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Penggunaan proyeksi dan tata cahaya modern membuka kemungkinan baru dalam penyajian cerita‑cerita klasik, membuatnya lebih mudah diakses oleh penonton muda yang terbiasa dengan estetika visual kontemporer. Di sisi lain, keterlibatan dalang dan sinden lokal memastikan bahwa nilai‑nilai tradisional tetap terjaga.
Secara ekonomi dan sosial, acara semacam ini memberi ruang bagi seniman lokal untuk tampil dan mendapatkan pengakuan. Keterlibatan 222 pelaku seni mencerminkan skala kolaborasi yang luas dan potensi penguatan ekosistem seni budaya di Klaten. Selain itu, gelaran yang digelar bertepatan dengan perayaan daerah dan nasional meningkatkan daya tarik wisata budaya, yang berpotensi mendatangkan kunjungan dan aktivitas ekonomi lokal.
Pagelaran Wayang Kontemporer di Alun‑alun Klaten bukan sekadar pertunjukan, ia adalah pernyataan bahwa tradisi dapat hidup dan berkembang melalui inovasi yang menghormati akar budaya. Dengan lakon Sang Gatotkaca, penampilan dalang‑dalang Klaten, sinden, penari, serta atraksi Gatotkaca yang melayang, acara ini menegaskan kembali posisi Klaten sebagai pusat pewayangan yang dinamis. Dukungan pemerintah daerah, seperti yang disampaikan Bupati Hamenang Wajar Ismoyo, menjadi kunci agar generasi muda terus tertarik dan terlibat dalam pelestarian seni pewayangan, sebuah warisan yang harus dirawat dari generasi ke generasi.
@ Pitut Saputra

