Klaten, Chanel7.id – Pelayanan KB vasektomi yang digelar di Klinik Pratama Sang Timur Klaten pada Minggu 12 April 2026 kemarin menjadi contoh konkret bagaimana peran pria dalam perencanaan keluarga mulai mendapat tempat lebih besar di masyarakat. Meski hanya diikuti oleh tiga akseptor pria, satu dari Kecamatan Prambanan dan dua dari Kecamatan Kemalang, kegiatan tersebut menyiratkan perubahan sikap sosial, keputusan kontrasepsi bukan lagi beban tunggal perempuan, melainkan juga tanggung jawab bersama pasangan. Pelayanan yang berlangsung tertib dan profesional tersebut juga menegaskan bahwa akses terhadap metode kontrasepsi permanen bagi pria dapat diselenggarakan secara aman, terjangkau, dan berorientasi pada hak reproduksi (13/04/2026).
Vasektomi, yang dalam program KB dikenal pula sebagai Metode Operasi Pria (MOP), adalah prosedur medis yang memutus atau menutup saluran vas deferens, yaitu saluran yang mengangkut sperma dari testis menuju uretra. Dengan demikian, sperma tidak lagi bercampur dalam cairan ejakulasi sehingga kemungkinan pembuahan menjadi sangat kecil.
Prosedur ini umumnya dilakukan dengan anestesi lokal melalui sayatan kecil atau teknik tanpa sayatan, prosesnya memakan waktu relatif singkat, dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam mencegah kehamilan. Keunggulan vasektomi antara lain tidak mempengaruhi produksi hormon testosteron sehingga fungsi seksual dan gairah biasanya tetap terjaga, serta risiko komplikasi yang relatif rendah bila dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Namun penting ditegaskan bahwa vasektomi bersifat permanen, oleh karena itu calon akseptor wajib menjalani konseling komprehensif, memahami konsekuensi jangka panjang, dan idealnya berdiskusi serta memperoleh persetujuan pasangan sebelum mengambil keputusan.
Peran DISSOSP3APPKB (Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana) Kabupaten Klaten dalam kegiatan ini patut mendapat sorotan. Kehadiran Kepala DISSOSP3APPKB, Puspo Enggar Hastuti, dalam kegiatan tersebut bukan sekadar simbolis, institusi tersebut aktif memfasilitasi penyelenggaraan layanan, memberikan edukasi, serta memastikan prosedur administratif dan medis berjalan sesuai standar.
Dukungan yang diberikan meliputi koordinasi antar fasilitas kesehatan, penyediaan tenaga medis terlatih, pengaturan jadwal layanan akhir pekan untuk menjangkau pekerja yang sibuk pada hari kerja, serta pemberian dispensasi pelayanan KB MOP sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan publik terhadap akseptor. “Langkah-langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong peningkatan partisipasi pria dalam program keluarga berencana sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan keluarga dan menurunkan angka kelahiran yang tidak direncanakan.” tegas Enggar.
Di tingkat operasional, DISSOSP3APPKB Klaten juga berperan dalam kampanye informasi yang menekankan aspek keselamatan, efektivitas, dan hak memilih. Edukasi yang diberikan kepada calon akseptor mencakup penjelasan rinci tentang prosedur, manfaat, risiko, alternatif kontrasepsi lain, serta proses pemulihan dan tindak lanjut. Pendekatan ini memastikan bahwa keputusan bersifat sukarela dan berdasarkan informasi lengkap, bukan karena tekanan sosial atau administratif. Selain itu, penyelenggaraan layanan pada hari Minggu di klinik Pratama Sang Timur Klaten Menunjukkan fleksibilitas layanan publik untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang bekerja, sehingga akses terhadap metode kontrasepsi tidak lagi terbatas oleh jam kerja konvensional.
Dampak sosial dari inisiatif semacam ini berlapis. Secara langsung, keterlibatan pria dalam metode kontrasepsi permanen mengurangi beban fisik dan psikologis yang selama ini sering ditanggung perempuan. Secara tidak langsung, tindakan sadar pria menjadi pesan kuat bagi komunitas bahwa perencanaan keluarga adalah urusan bersama, membuka ruang dialog yang lebih setara antara suami dan istri mengenai jumlah anak, waktu kelahiran, dan kesejahteraan keluarga. Keberanian tiga akseptor di Klaten, meskipun jumlahnya kecil, dapat menjadi pemicu perubahan norma sosial apabila diikuti oleh kampanye informasi yang konsisten dan layanan yang mudah diakses di kecamatan lain.
Untuk memastikan keberlanjutan, DISSOSP3APPKB Klaten perlu melanjutkan upaya pelatihan tenaga kesehatan, memperluas jadwal layanan, dan memperkuat kolaborasi dengan puskesmas serta organisasi masyarakat. Selain itu, program konseling pasangan yang melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dapat membantu mengatasi hambatan budaya dan mitos seputar vasektomi. Bagi pasangan yang mempertimbangkan MOP, langkah awal yang disarankan adalah berkonsultasi di fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan informasi lengkap dan menjalani proses konseling bersama pasangan.
Pelayanan KB vasektomi di Klinik Pratama Sang Timur bukan sekadar tindakan medis, ia merupakan pernyataan kolektif bahwa perencanaan keluarga adalah tanggung jawab bersama. Keberanian akseptor, profesionalisme tenaga kesehatan, dan dukungan pemerintah daerah bersama-sama mengirimkan pesan bahwa Klaten siap bergerak menuju keluarga yang lebih kuat, sehat, dan sejahtera.
Dengan dukungan kebijakan, edukasi yang tepat, dan akses pelayanan yang merata, upaya sadar pria dalam perencanaan keluarga dapat berkembang menjadi praktik umum yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
®Pitut Saputra

