SURAKARTA, CHANEL7.ID
Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali hadir sebagai perayaan musik keroncong yang memadukan pelestarian, inovasi, dan semangat kolaborasi. Mengusung tema “Keroncong Pusaka Nusantara” dengan konsep “Keroncong Majestic” serta tagline “Memayu Hayuning Keroncong”, festival dua hari ini akan digelar pada 18–19 Juli 2026 di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta, menghadirkan suasana budaya keraton yang megah berpadu sentuhan modern (18/07/2026).
Sebagai ruang terbuka bagi semua kalangan, SKF 2026 dirancang tidak sekadar sebagai panggung musik, melainkan juga sebagai wadah edukasi, diplomasi budaya, dan penguatan ekonomi kreatif. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, menegaskan bahwa festival ini merupakan upaya berkelanjutan untuk menjaga keroncong sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan bagi generasi muda. Menurutnya, SKF telah konsisten sejak 2009 menjadi platform penting bagi pelestarian dan pengembangan keroncong.
Rangkaian pra-acara telah sukses disusun beberapa waktu lalu untuk menyemarakkan rangkaian festival ini. Agenda Road to SKF sempat digelar di beberapa titik strategis, antara lain 19 Juni 2026 di Pasar Gede, 3 Juli 2026 di Koridor Gatot Subroto, serta Lomba Menyanyi Keroncong pada 26 Juni 2026 di RRI Surakarta. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan menjaring talenta lokal, memperkenalkan keroncong kepada publik yang lebih luas, dan membangun antusiasme menuju puncak acara.
Festival tahun ini menampilkan kolaborasi lintas generasi dan lintas negara. Deretan musisi dan kelompok yang tampil antara lain Tuti Maryati, Iga Mawarni, Hendri Lamiri, serta kelompok keroncong internasional dan orkestra dari berbagai daerah di Indonesia. Keterlibatan komunitas dan pelaku UMKM juga menjadi bagian penting, sehingga festival tidak hanya menyuguhkan pertunjukan musik tetapi juga ruang pameran, kuliner, dan produk kreatif khas Solo.
- Advertisement -
Bambang Condro, pengurus Komunitas Artis Musik Keroncong Indonesia (KAMKI), menyatakan bahwa SKF 2026 dirancang sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan pelaku seni, institusi budaya, akademisi, dan pelaku usaha mikro. Harapannya, festival ini memberi dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Surakarta, sekaligus memperkuat jaringan kerja sama antar-pemangku kepentingan dalam upaya pengembangan keroncong.
Creative Director SKF 2026, Didit Raykapoor, menegaskan bahwa keberlangsungan festival adalah tanggung jawab bersama. Menurutnya, Solo memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perkembangan keroncong di tingkat nasional bahkan internasional. “SKF bukan hanya pekerjaan dinas kebudayaan, ini pekerjaan kita semua. Solo adalah kota budaya, kota keroncong, dan kita bergerak menuju visi menjadi ibu kota keroncong dunia,” ujarnya. Tahun ini SKF merayakan gelaran ke-20, sebuah tonggak yang menegaskan posisi festival sebagai bagian dari identitas budaya Solo.
Semangat regenerasi terlihat jelas melalui keterlibatan musisi muda. Duo Wening Jepank membawa konsep perpaduan keroncong dengan sentuhan modern, dan akan membawakan tiga lagu, dua karya orisinal dan satu aransemen baru dari karya Ki Anom Suroto, sebagai upaya memperkenalkan genre ini kepada generasi baru. Pendekatan musikal seperti ini diharapkan mampu menjembatani selera tradisional dan kontemporer, sehingga keroncong tetap relevan tanpa kehilangan akar budayanya.
Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, seluruh rangkaian acara akan disiarkan langsung melalui kanal resmi YouTube Disbudpar Surakarta, YouTube Pariwisata Solo, dan YouTube Solo Keroncong Festival, serta diunggah di akun Instagram. Akses digital ini membuka peluang bagi penonton nasional dan internasional untuk menyaksikan kemegahan keroncong dari mana saja.
Panitia penyelenggara Solo Keroncong Festival 2026 turut menambahkan “Solo Keroncong Festival 2026 ini hadir sebagai bentuk komitmen kami untuk menjaga dan mengembangkan keroncong sebagai warisan budaya tak benda. Melalui kolaborasi lintas generasi, lintas disiplin, dan lintas negara, kami berharap keroncong tidak hanya dilestarikan tetapi juga diberi ruang inovasi agar dapat dinikmati oleh semua kalangan. Festival ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi kreatif lokal dan promosi pariwisata Kota Surakarta.” imbuhnya.
- Advertisement -
Puncak acara malam ini dan esok di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta menampilkan tata panggung yang memadukan estetika keraton dengan elemen visual modern, menghadirkan pengalaman pertunjukan yang intim namun megah. Selain konser utama, pengunjung dapat menikmati workshop, diskusi budaya, pameran instrumen tradisional, serta bazar produk kreatif dan kuliner khas Solo.
Dengan tema Keroncong Pusaka Nusantara, SKF 2026 mengajak publik untuk memandang keroncong bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pusaka hidup yang terus diwariskan dan dikemas dengan kreativitas baru. Festival ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya dapat menjadi sumber kebanggaan sekaligus modal ekonomi jika dikelola secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Solo Keroncong Festival 2026 menutup ruang bagi keroncong untuk tenggelam dalam arus modernitas, sebaliknya festival ini membuka jalan agar keroncong berkembang, berinovasi, dan tetap relevan bagi setiap generasi. Mari hadir, menyaksikan, dan menjadi bagian dari upaya memayu hayuning keroncong demi masa depan budaya Indonesia yang lebih kaya dan berkelanjutan.
- Advertisement -
@ Pitut Saputra

