KLATEN, CHANEL7.ID
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa sekolah di Kabupaten Klaten dihentikan sementara setelah sejumlah siswa di dua madrasah mengalami keluhan pusing dan mual tak lama setelah menyantap makanan yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Insiden yang dilaporkan terjadi pada Kamis, 3 September 2026, tersebut terjadi di MI Muhammadiyah Srebegan dan MI Muhammadiyah Cetan yang memicu respons cepat dari pemerintah daerah dan petugas kesehatan setempat. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo meninjau langsung MI Muhammadiyah Cetan pada Jumat, 4 September 2026, untuk melihat kondisi siswa dan menilai fasilitas penyediaan makanan, sekaligus memastikan langkah penanganan dan evaluasi berjalan cepat dan transparan (05/09/2026).
Kejadian bermula ketika beberapa siswa melaporkan gejala pusing dan mual sekitar 10–15 menit setelah mengonsumsi makanan MBG. Puskesmas setempat segera merespons, ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi siswa yang memerlukan penanganan medis. Mayoritas anak yang dirawat menunjukkan perbaikan kondisi dan sudah kembali beraktivitas di sekolah, sementara sebagian lainnya masih diminta beristirahat di rumah untuk pemulihan penuh.
Menurut Bupati Hamenang, penanganan medis yang cepat menjadi faktor penting sehingga kondisi siswa dapat stabil. “Kemarin setelah makan sekitar 10 sampai 15 menit ada yang mengalami pusing dan mual, kemudian kondisinya semakin memburuk. Alhamdulillah karena respons cepat, Puskesmas langsung datang menjemput menggunakan ambulans dan dilakukan penanganan,” ujarnya saat berdialog dengan siswa dan para tenaga pendidik di lokasi.
Setelah meninjau sekolah, Bupati bersama Koordinator MBG Kabupaten Klaten melakukan pengecekan menyeluruh ke fasilitas SPPG yang diduga bermasalah. Pemeriksaan lapangan mengungkap beberapa kelemahan yang menjadi fokus evaluasi diantaranya :
- Advertisement -
Pertama, fasilitas penyimpanan bahan pangan belum ideal karena pemisahan antara gudang basah dan gudang kering tidak optimal, satu unit pendingin udara digunakan untuk dua gudang sehingga pengaturan suhu dan kelembaban tidak memadai. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi kualitas bahan baku yang sensitif terhadap suhu dan kelembaban.
Kedua, higienitas dapur dan alur kerja menunjukkan potensi risiko kontaminasi silang karena alur pengolahan makanan dari penerimaan bahan hingga penyajian belum sepenuhnya terpisah antara area depan dan belakang dapur. Kebersihan peralatan dan area kerja juga dinilai perlu ditingkatkan agar risiko kontaminasi dapat diminimalkan.
Ketiga, prosedur operasional dan dokumentasi belum lengkap atau belum dipatuhi secara konsisten, sehingga pencatatan penerimaan bahan, penyimpanan, dan proses pengolahan tidak selalu terdokumentasi dengan baik, menyulitkan pelacakan bila terjadi masalah.
Dari temuan tersebut, tim inspeksi menilai bahwa sejumlah aspek teknis dan manajerial perlu segera diperbaiki untuk menjamin keamanan pangan dan kelancaran operasional program MBG. Sebagai langkah awal, operasional SPPG dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi evaluasi internal dan perbaikan fasilitas.
Pemerintah Kabupaten Klaten akan mengumpulkan data lengkap hasil inspeksi dan melaporkannya kepada Badan Gizi Nasional (BGN), yang memiliki kewenangan menentukan langkah operasional jangka panjang terkait SPPG. Yoga Koordinator MBG Kabupaten Klaten menambahkan bahwa seluruh temuan akan didokumentasikan dan dikirimkan ke BGN, sementara evaluasi internal tetap berjalan untuk memastikan standar operasional terpenuhi sebelum layanan dilanjutkan.
- Advertisement -
Untuk memperkuat pengawasan, Bupati turut meminta keterlibatan jajaran Forkopimcam, camat, kapolsek, danramil, serta Puskesmas setempat dalam pemantauan rutin dan mitigasi risiko di wilayah masing-masing. Pendekatan lintas sektor ini dimaksudkan agar potensi masalah dapat terdeteksi lebih awal dan ditangani sesuai standar operasional prosedur. “Nanti kita minta tolong rekan-rekan Forkopimcam, Kapolsek, Danramil, Camat, kemudian dari Puskesmas didampingi. Sehingga kita bisa mitigasi lebih awal ketika ada potensi-potensi risiko, apabila SPPG kurang sesuai SOP,” ujar Hamenang, menegaskan pentingnya koordinasi antar instansi dalam menjaga mutu dan keamanan program.
Bupati dan tim inspeksi merekomendasikan beberapa langkah segera yang harus ditindaklanjuti pengelola SPPG dan mitra MBG, antara lain memperbaiki fasilitas penyimpanan dengan memisahkan gudang basah dan kering serta menambah pendingin bila perlu, meningkatkan higienitas melalui pelatihan petugas dapur, penerapan checklist kebersihan harian, dan audit internal berkala, menegakkan SOP yang jelas dan konsisten untuk penerimaan bahan, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi makanan, serta memperbaiki dokumentasi dan mekanisme pelaporan insiden agar investigasi dan penanganan masalah bisa dilakukan cepat dan tepat. Langkah-langkah ini dimaksudkan tidak hanya menutup celah yang ditemukan tetapi juga membangun sistem pengawasan berkelanjutan agar program MBG bisa berjalan aman dan efektif.
Bupati menegaskan bahwa niat pemerintah melalui program MBG sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang dan kecerdasan anak-anak, namun pelaksanaannya harus dilandasi kehati-hatian dan standar keamanan pangan yang ketat agar manfaatnya tidak berubah menjadi risiko. “Niat program Pak Presiden sangat bagus untuk mencerdaskan anak-anak kita. Jangan sampai kemudian justru menjadi masalah yang membuat trauma pada anak-anak kita,” pungkas Hamenang.
- Advertisement -
Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa program pemberian makanan di sekolah memerlukan pengawasan ketat, standar operasional yang konsisten, dan koordinasi lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Klaten berkomitmen mengumpulkan data, melaporkan temuan ke BGN, dan memastikan langkah perbaikan dilakukan agar manfaat MBG tetap optimal tanpa menimbulkan risiko bagi anak-anak.
@ Pitut Saputra

