PP-MKPI ITS Surabaya Inisiasi Webinar Peta Jalan PRB JATIM 2024

0
IMG-20240202-WA0065

Foto : Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (PP-MKPI) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, mengadakan Webinar bertajuk Peta Jalan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jawa Timur Tahun 2024.

Bagikan Berita

Surabaya, Chanel7.id/news – Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (PP-MKPI) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, mengadakan Webinar bertajuk Peta Jalan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jawa Timur Tahun 2024.

Acara yang digelar secara virtual tersebut berlangsung pada Jumat siang, (02/02/2024), dengan melibatkan berbagai background komunitas relawan kebencanaan, OPD, unsur mahasiswa, media hingga perguruan tinggi, serta sejumlah staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim dan luar Wilayah Jatim, diantaranya BPBD Kabupaten Pring Sewu, Provinsi Lampung, BPBD Tegal, Jawa Tengah dan lainnya.

Baca juga : Kunjungi Warga Terdampak Banjir Bandang, Kadinsos Novi Bagikan Permakanan

Ngobrol bareng via Zooming yang dipandu oleh Muhammad Hafiizh Imaduddiin (Moderator) ini, dihadiri oleh Kepala BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, selaku narsum satu, Adjie Pamungkas, Guru Besar ITS, narsum dua, dan Catur Sudarmanto, Sekjen Forum PRB Jawa Timur, narsum tiga.

Sejatinya, acara ngobrol bareng ini sebagai langkah awal upaya sinkronisasi program pengurangan risiko bencana sejumlah stakeholder. Diharapkan nantinya peta jalan dan program – program setiap stakeholder dapat dimonitor dan membangun kerjasama guna peningkatkan ketangguhan masyarakat.

Baca juga : Terjangan Angin Kencang dan Pohon Tumbang Porak Porandakan Rumah Warga

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengatakan, di Jawa Timur terdapat 14 potensi bencana yang menjadi urusan kita bersama, potensi itu harus diantisipasi oleh semua pihak. Selanjutnya Kalaksa Gatot mengajak semua pihak untuk berperan menjaga kelestarian alam, dengan melakukan penghijauan, agar ekosistem terawat dan memberi manfaat.

“Upaya pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara bersama-sama oleh multi pihak, termasuk potensi masyarakat sekitar, sehingga dapat disadari adanya potensi bencana yang harus diwaspadai di daerahnya,” terangnya.

Baca juga : Rumah Warga Sumenep Roboh Diterjang Angin Kencang

Gatot, yang sebelumnya pernah menjabat Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur ini melanjutkan, keberadaan Mobil Edukasi Bencana (Mosipena) dan Tenda Pendidikan Kebencanaan (Tenpina), telah dimanfaatkan oleh Forum PRB dan Mahasiswa yang mengikuti program KKN Tematik, untuk mengenalkan pentingnya pengurangan risiko bencana kepada masyarakat luas.

Baca juga : Korban Banjir Bandang Pasuruan Mendapat Bantuan

Menurut Gatot, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, telah menginstruksikan kepada Kepala Dinas (Kadis) di Wilayah Jatim, agar mengikuti program pengurangan risiko bencana dan pelestarian lingkungan alam.

Harapannya, para Kepala Dinas memahami potensi bencana yang ada di wilayahnya, sekaligus dapat melakukan mitigasi dan menangani bencana yang terjadi secara mandiri sebelum bantuan dari luar datang.

Sementara Narsum berikutnya, Sekjend Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatim, Catur Sudarmanto, mengawali materinya dengan mengungkap kilas balik histori dan rekam jejak Forum PRB Jatim, serta mengekspose salah satu programnya yaitu membentuk Forum PRB di 38 Kabupaten Kota di Jawa Timur. Katanya, hingga saat ini masih ada beberapa Daerah yang belum terealisasi.

“Acara seperti ini penting untuk dilakukan secara berseri dan dapat kita agendakan,” ujarnya.

Mbah Dharmo (sapaan akrabnya), juga Alumni MMB UPN Veteran Yogyakarta, berharap, dengan dikemas secara berseri, target untuk membangun sinergitas multi pihak (Phentahelik), hingga saling memahami peran dan tugasnya masing-masing dapat terpenuhi.

“Namun semua itu tentunya dalam Koridor, dalam satu wadah yaitu wadah pengurangan risiko bencana,” imbuhnya.

Sementara itu, Adjie Pamungkas, Nara sumber dari ITS, mengupas hasil penelitian yang dilakukan pihaknya dengan memanfaatkan dana internal ITS, maupun berbagai pihak non ITS, seperti dana hibah dari luar negeri.

“Semua hasil penelitian itu, termasuk membuat media belajar tentang kebencanaan, siap diduplikasi dan diadopsi oleh berbagai Dinas terkait,” ucapnya.

Peserta webinar asal Lumajang, Hari, berharap, ke depan BPBD dapat merangkul akademisi di setiap Perguruan Tinggi sebagai elemen pentahelix yang terlibat dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui penelitian dan pengabdian masyarakat, “Termasuk pelibatan dunia usaha untuk mendukung program Forum PRB, sehingga akan tampak mewarnai upaya penyusunan Peta Jalan PRB Jawa Timur tahun 2024,” tandasnya.

 

 

®Syaiful Bahri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *