KLATEN, CHANEL7.ID – Merti Tirto Rogo yang digelar di OMAC (Obyek Mata Air Cokro) pagi hingga siang hari ini, hadir sebagai perayaan budaya dan spiritual yang memadukan tradisi lokal dengan nuansa kebersamaan pemerintahan dan masyarakat. Mengusung tema “Refleksi Diri Sambut Bulan Suci”, acara ini bukan sekadar ritual pembersihan air, melainkan momen kolektif untuk merenung, memperkuat ikatan sosial, dan merayakan warisan budaya Klaten melalui rangkaian kegiatan yang terstruktur dan khidmat (17/02/2026).
Acara dimulai sejak pagi dengan registrasi tamu undangan yang memastikan kelancaran protokol dan penyambutan. Sekitar pukul 08.30 WIB dimulai kirab 17 mata air yang menjadi inti simbolis dari kegiatan, diikuti oleh jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat. Kirab ini menegaskan pentingnya air sebagai sumber kehidupan sekaligus simbol kesucian yang harus dijaga bersama.
Setibanya di lokasi, rombongan, tamu dan pengunjung disambut dengan tari selamat datang yang menampilkan estetika budaya setempat, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan kebangsaan. Setelah itu, dilanjutkan doa bersama sekaligus doa buat almarhum Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto sebelum kemudian Ketua Panitia memberikan sambutan yang menegaskan tujuan acara, mengajak masyarakat melakukan refleksi diri menjelang bulan suci serta melestarikan tradisi lokal.
Puncak ritual berlangsung antara pukul 09.25 Wib hingga 09.40 Wib dengan penuangan 17 mata air ke gentong. Setiap mata air yang dituangkan membawa makna tersendiri, melambangkan keberagaman sumber kehidupan yang bersatu dalam satu wadah. Ritual ini diikuti sambutan dari Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo S.I.Kom, yang menekankan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya dan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga agama, dan masyarakat.
- Advertisement -
Suasana semakin khidmat ketika pemukulan bedug dilakukan Bupati, menandai dimulainya tradisi siraman yang dipimpin oleh Bupati Klaten bersama forkopimda. Siraman ini bukan hanya tindakan simbolis, melainkan doa kolektif agar masyarakat diberi keselamatan, kesehatan, dan ketentraman menjelang bulan suci. Setelah siraman, Bupati dan tamu undangan di jadwalkan melanjutkan ramah tamah di Kantor PDAM Surakarta sebagai bentuk silaturahmi dan koordinasi pelayanan air bersih.
Acara ditutup dengan sesi hiburan berupa musik karawitan dan hiburan yang dibawakan oleh Kemenag Kabupaten Klaten, menghadirkan suasana hangat dan meriah hingga acara hiburan resmi selesai, berlanjut kemudian dengan penebaran tumpeng hasil bumi dan apem yang diarak pada para peserta padusan sebagai penanda padusan resmi dibuka.
Merti Tirto Rogo mengandung lapisan makna yang kaya. Secara simbolis, air menjadi pusat ritual karena fungsinya sebagai sumber kehidupan dan simbol kesucian dalam berbagai tradisi. Penuangan 17 mata air ke gentong menyiratkan pesan persatuan, meski berasal dari sumber berbeda, semuanya menyatu untuk tujuan bersama. Tema refleksi diri mengajak peserta untuk menilai kembali sikap dan perilaku, memperbaiki hubungan sosial, serta mempersiapkan diri secara spiritual menyambut bulan suci.
Selain aspek spiritual, kegiatan ini juga berfungsi sebagai penguatan identitas budaya. Tari, musik karawitan, dan ritual tradisional menegaskan kontinuitas nilai-nilai lokal yang diwariskan turun-temurun. Kehadiran pejabat daerah dan Forkopimda menunjukkan bahwa pelestarian budaya mendapat perhatian institusional, sehingga tradisi tidak hanya menjadi kenangan tetapi juga bagian dari agenda pembangunan budaya.
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari peran berbagai pihak. Jajaran pemerintah kabupaten yang dipimpin langsung oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo beserta ketua panitia pelaksana Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kab Klaten Jaka Purwanto dan timnya yang memastikan kelancaran teknis dan protokol. Kehadiran Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama segenap jajaran Forkopimda, Perwakilan Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Klaten, serta Kemenag Kabupaten Klaten dan segenap undangan memperlihatkan sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas budaya.
- Advertisement -
Partisipasi komunitas lokal seperti Mas Mbak Klaten dan paraga kirab budaya menambah warna dan kekayaan acara. Peran Kemenag Kabupaten Klaten dalam menghadirkan musik karawitan menegaskan keterlibatan lembaga keagamaan dalam menjaga keseimbangan antara ritual spiritual dan ekspresi budaya. Sementara tenda transit yang disediakan oleh kepanitiaan OMAC serta fasilitas pendukung lainnya memastikan kenyamanan tamu dan kelancaran acara.
Merti Tirto Rogo di OMAC Cokro memberikan dampak positif yang nyata. Secara sosial, acara ini mempererat jaringan antar warga dan memperkuat rasa kebersamaan. Secara budaya, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami dan menghargai tradisi lokal. Secara administratif, keterlibatan Forkopimda dan pejabat daerah membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dalam program pelestarian budaya dan pengelolaan sumber daya air.
Bupati Klaten berharap, tradisi seperti ini, bisa terus dipertahankan dan dikembangkan agar tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan budaya yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah, lembaga agama, komunitas seni, dan masyarakat luas akan memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Merti Tirto Rogo tetap hidup dan relevan.
- Advertisement -
Lebih lanjut Bupati Klaten mengatakan Merti Tirto Rogo di OMAC Cokro bukan sekadar acara seremonial, ia adalah cermin dari komitmen kolektif untuk menjaga alam, merawat tradisi, dan memperkuat ikatan sosial menjelang bulan suci serta mempersiapkan diri dengan raga yang bersih untuk bisa menjalankan perintah ibadah hingga selesai. Dengan rangkaian kegiatan yang terencana dan partisipasi lintas sektor, acara ini berhasil menyatukan makna spiritual dan kebudayaan dalam satu momentum yang penuh khidmat dan harapan. Semoga tradisi ini terus menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Klaten dan sekitarnya untuk terus melestarikan warisan budaya demi generasi mendatang.
®Pitut Saputra

