CIREBON, CHANEL7.ID – Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) adalah program yang diperkenalkan di era Presiden Soeharto sekitar kurang lebih pada tahun 1986.
SDSB adalah bentuk kegiatan sosial yang dianggap lotere yang LEGAL oleh masyarakat pada saat itu dan SDSB yang dioperasikan oleh Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) dengan tujuan mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial namun berunsur iming-iming hadiah dari setiap kupon yang telah didapatkan dengan cara membeli atau menyumbangkan senilai uang dengan dapat bonus angka uang di pilih dari para dermawan saat itu telah menjadi pro dan kontra di beberapa element masyarakat.
Berikut adalah sejarah singkat mengenai SDSB, dari peresmian hingga penutupannya :
Latar Belakang Peresmian SDSB
1. Tujuan Sosial dan Ekonomi:
– SDSB diperkenalkan sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan dana bagi berbagai kegiatan sosial, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
– Program ini juga dimaksudkan untuk mengurangi defisit anggaran negara dengan memanfaatkan kontribusi dari masyarakat melalui pembelian kupon SDSB.
2. Operasional dan Mekanisme:
– SDSB beroperasi dengan menjual kupon yang memungkinkan pembelinya berkesempatan memenangkan hadiah melalui undian.
– Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) menjadi penyelenggara resmi program ini, dan hasil penjualan kupon dialokasikan untuk proyek-proyek sosial.
Kontroversi dan Masalah
1. Kontroversi dan Kritik:
– Meskipun bertujuan sosial, SDSB mendapatkan kritik dari berbagai pihak, termasuk kalangan agama dan moral yang melihatnya sebagai bentuk perjudian yang dilegalkan.
– Beberapa masyarakat dan organisasi menilai SDSB sebagai upaya pemerintah untuk melegitimasi perjudian yang dapat menimbulkan dampak negatif, seperti ketergantungan dan masalah sosial lainnya.
2. Dugaan Kasus Korupsi:
– SDSB juga terindikasi dugaan kasus korupsi, di mana dana yang seharusnya dialokasikan untuk kegiatan sosial diduga disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu.
– Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana SDSB sering dipertanyakan oleh publik.
Penutupan SDSB
1. Tekanan Publik:
– Tekanan dari masyarakat, khususnya tokoh agama, dan berbagai organisasi sosial terus meningkat seiring dengan berbagai masalah yang muncul.
– SDSB dianggap bertentangan dengan norma sosial dan moral masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama.
2. Keputusan Pemerintah:
– Akhirnya, sekitar kurang lebih pada tahun 1993, Presiden Soeharto memutuskan untuk menghentikan program SDSB. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai kritik dan kontroversi yang mengelilingi program tersebut semakin santer.
– Penutupan SDSB menjadi salah satu bentuk respon pemerintah terhadap aspirasi masyarakat yang menolak segala bentuk perjudian, meskipun dilegalkan atas nama sumbangan sosial.
Dampak dan Warisan
1. Dampak Sosial:
– Penutupan SDSB meninggalkan berbagai dampak sosial, termasuk kehilangan sumber pendanaan bagi beberapa proyek sosial yang sebelumnya didanai oleh SDSB.
– Namun, keputusan ini juga dianggap sebagai kemenangan moral bagi kelompok-kelompok yang menentang perjudian.
2. Pembelajaran:
– Kasus SDSB menjadi pembelajaran bagi pemerintah Indonesia dalam mengelola program-program sosial di masa mendatang, khususnya yang melibatkan partisipasi langsung dari masyarakat melalui mekanisme sejenis lotere.
Sejarah SDSB mencerminkan dinamika sosial dan politik di era Orde Baru, serta bagaimana kebijakan yang kontroversial dapat menimbulkan berbagai reaksi dari beberapa element masyarakat.
Artikel ini ditulis sebagai bahan kajian diskusi yang masih memerlukan pandangan dan pendapat orang lain secara rasional dan akal sehat.
®Hadiyanto

