KLATEN, CHANEL7.ID –
Di Klaten, di antara hiruk-pikuk kegiatan masyarakat dan ritme pembangunan yang terus berjalan, muncul sosok perempuan yang menegaskan bahwa semangat Kartini bukan sekadar kenangan, melainkan panggilan untuk bertindak. Lusinta Agustina, yang akrab dipanggil Sinta, menempatkan dirinya di persimpangan peran publik dan domestik dengan cara yang tenang namun penuh makna (20/04/2026).
Sebagai dosen kebidanan, pengelola wisata, pemilik baby and mom spa, sekaligus istri Wakil Ketua I DPRD Klaten, Bahtiar Joko Widagdo, Sinta menunjukkan bahwa menjadi representasi publik bukan soal tampilan semata, melainkan tentang kontribusi nyata yang menyentuh kehidupan banyak orang
Pernyataan Sinta kepada jurnalis chanel7.id menggema sebagai inti dari kiprahnya, “Menurut saya, memperingati Hari Kartini bukan hanya mengenang perjuangan beliau, tetapi juga menjadi refleksi bagi kita sebagai perempuan untuk terus berkembang dan memberi manfaat di berbagai peran kehidupan.” Kalimat itu bukan sekadar retorika, ia menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkah Sinta.
Dari ruang kuliah tempat ia membentuk kompetensi calon tenaga kesehatan hingga program pemberdayaan wisata yang melibatkan pelaku lokal, dari layanan spa yang memberi perhatian khusus pada ibu dan bayi hingga peran domestik yang ia jalankan dengan penuh cinta, semua aktivitasnya dirajut oleh satu niat, memberi manfaat.
- Advertisement -
Menjadi pasangan pejabat publik menambah dimensi tanggung jawab yang tidak ringan. Sorotan publik seringkali menilai dari penampilan, namun Sinta menegaskan bahwa representasi sejati lahir dari integritas, kompetensi, dan konsistensi. Ia memahami bahwa tutur kata dan sikapnya kerap menjadi cerminan bagi lingkungan sekitar dan institusi yang diwakili suaminya, sehingga setiap tindakan harus dipertimbangkan dengan matang.
Namun ia juga menolak reduksi peran perempuan menjadi sekedar simbol, baginya, tindakan kecil yang konsisten, mengajar dengan sepenuh hati, merancang program yang memberdayakan, dan mendengarkan kebutuhan masyarakat, lebih berbicara daripada kata-kata besar.
Dalam pandangan Sinta, perempuan Indonesia kini menunjukkan keberanian dan kemandirian yang menginspirasi. “Perempuan Indonesia kini semakin berani, mandiri, dan adaptif. Mereka tidak lagi hanya menjadi pendamping, banyak juga yang menjadi penggerak ekonomi, pemimpin komunitas, dan inovator sosial,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan keyakinan bahwa perubahan sosial bukan hanya soal akses, tetapi juga soal kesiapan, kesiapan untuk terus belajar, memperluas jaringan, dan membangun kapasitas diri. Sinta sendiri mencontohkan pembelajaran sepanjang hayat sebagai modal utama, ia terus mengikuti perkembangan ilmu kebidanan, praktik manajemen usaha, dan strategi pemberdayaan komunitas agar kontribusinya bisa relevan dan berkelanjutan.
Kesehatan fisik dan mental turut menjadi pijakan penting dalam filosofi hidup Sinta. Ia percaya bahwa tanpa tubuh dan pikiran yang sehat, peran apa pun akan sulit dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, dalam usahanya yang melayani ibu dan bayi, ia menanamkan nilai perawatan diri dan pentingnya dukungan keluarga. Di kampus, ia mengajarkan calon tenaga kesehatan untuk tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga empati dan komunikasi yang baik. Dalam pengelolaan wisata, ia mendorong pelaku lokal untuk menjaga kesejahteraan bersama, sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir pihak.
- Advertisement -
Menyeimbangkan karir dan keluarga bukanlah tugas mudah, namun Sinta menunjukkan bahwa pilihan sadar dan manajemen prioritas dapat menciptakan harmoni. Ia menekankan pentingnya delegasi, komunikasi terbuka dengan pasangan, serta membangun rutinitas yang fleksibel. Komunitas juga menjadi penopang, perempuan yang saling mendukung, berbagi pengalaman, dan bekerja sama akan lebih mudah menghadapi tekanan dan meraih keberhasilan bersama. Dalam banyak kesempatan, Sinta mengajak perempuan lain untuk bergandengan tangan, karena perubahan kolektif seringkali lahir dari kerja sama yang tulus.
Pesan Sinta dalam momen perayaan hari Kartini sederhana namun kuat, “Tetaplah belajar, jaga kesehatan, dan bijak menyeimbangkan peran antara karier dan keluarga.” paparnya. Pesan itu mengajak perempuan untuk berani mengambil peluang tanpa melupakan akar kasih sayang yang menjadi fondasi keluarga. Di Hari Kartini, kata-kata Sinta mengingatkan kita bahwa menjadi perempuan berdaya bukan berarti kehilangan kelembutan, sebaliknya, kelembutan itulah yang memberi kekuatan untuk menginspirasi dan memberdayakan banyak orang.
Lusinta Agustina adalah contoh nyata bahwa representasi Kartini masa kini dapat diwujudkan melalui tindakan sehari-hari yang konsisten dan penuh empati. Dengan keteguhan, kecerdasan, dan kelembutan, ia menyalakan kembali nyala Kartini di Klaten, sebuah nyala yang mengundang perempuan lain untuk bangkit, belajar, dan memberi manfaat. Semoga pernyataannya menjadi pemantik bagi perempuan Indonesia untuk terus berkarya, berani mengambil peran, dan menyalakan perubahan dengan cinta.
- Advertisement -
( Pitut Saputra )

