KLATEN, CHANEL7.ID – Pagi yang hangat, saat kabut tipis masih membayang di sela pepohonan halaman Joglo Latar Tjokro ketika suara langkah kaki tim “Yupi Let’s Speak Up” bergema menyapa para siswa-siswi yang sudah menanti. Sejak awal perencanaan, Pemerintah Desa Tjokro dan Yupi merancang kegiatan ini sebagai wujud nyata kolaborasi untuk menggerakkan perubahan budaya sekolah (29/07/2025).
Bukan sekadar sosialisasi sesaat, kedatangan tim edukasi anti-bullying ini menjadi saksi dan komitmen bersama, memerangi segala bentuk perundungan lewat dialog, pengalaman langsung, dan kesadaran kolektif, serta komitmen bersama.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan kegiatan senam sehat anak yang dipandu instruktur senam dari mahasiswa PPM 12 KKN UNNES Semarang, dengan prakata singkat. Instruktur senam kemudian mulai mengajak anak-anak bergoyang lewat senam sehat. Di sela sela kegiatan instruktur senam Sahrul dan Cahyo yang merupakan mahasiswa KKN UNNES juga menekankan pentingnya peran semua pihak, guru, orang tua, dan terutama anak-anak, dalam membangun lingkungan yang aman dan nyaman.
Para mahasiswa KKN UNNES Semarang yang tergabung dalam kegiatan ini memandu anak-anak dengan canda ringan, menyampaikan interaksi positif sambil memupuk rasa kebersamaan sehingga kegiatan terasa begitu menyenangkan. Selanjutnya, fasilitator Yupi memperkenalkan konsep bullying melalui cerita bergambar. Setiap lembar ilustrasi menyuguhkan adegan-adegan sederhana, teman yang diejek karena baju baru, siswa yang diisolasi karena perbedaan hobi, hingga rumor yang menyebar bak api dalam sekam. Anak-anak terpaku, seolah refleksi mereka sendiri ada di balik setiap karakter kartun itu.
Ketika materi dasar dirasa cukup melekat, tim Yupi mengajak para siswa simulasi, dua murid naik ke atas “panggung” improvisasi. Aksi peran mereka memerankan pelaku dan korban mengundang berbagai ekspresi dari teman-teman yang menonton. Ada yang tertawa canggung, ada pula yang menahan sedih. Detik-detik itu menjadi momen magis ketika batas antara belajar dan merasakan menyatu. Saat simulasi usai, diskusi spontan bermula. Satu per satu anak menuturkan kekhawatiran, kesal, bahkan harapan mereka untuk bisa bersikap tegas pada bullying dalam kehidupan nyata.
Para guru yang mendampingi mengamati perubahan aura di wajah murid-murid. Gestur mereka yang sebelumnya lincah kini terhenti oleh kesadaran baru. Para pendamping sekolah mencatat bahwa metode role play membawa efek emosional yang kuat, anak-anak tidak lagi sekadar memahami definisi bullying, tetapi merasakan sakitnya menjadi target. Lewat dialog hangat, mereka berlatih mengucapkan kalimat asertif untuk menegur pelaku, sekaligus belajar berdiri di samping teman yang membutuhkan dukungan.
Setibanya pada sesi literasi bergambar, tim Yupi menceritakan kembali cerita-cerita menggugah, kali ini menekankan sikap saling menghormati. Bukan hanya membahas korban dan pelaku, tetapi mengangkat peran “sahabat” yang menjadi garda depan perlindungan. Anak-anak diajak mengisi kuis interaktif yang memancing memori mereka, Apa yang akan kamu katakan pada temanmu yang digosipkan? Bagaimana caramu membela teman di depan kelas? Setiap jawaban lantas dibagikan, memicu gelak tawa sekaligus renungan mendalam.
Sebelum menutup rangkaian, momen puncak datang dalam wujud wisata edukatif. BUMDes Joglo Latar Tjokro membuka kolam renang di balik joglo klasik, dan mempersilahkan anak-anak yang mau berenang tanpa dipungut biaya, hal tersebut mengundang sorak-sorai anak-anak yang berlarian, basah-basahan, dan tertawa lepas. Di sela keseruan, terhampar photo spot informatif yang menampilkan kisah sejarah desa, nilai gotong royong, dan kearifan lokal. Di situ, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga mengenal warisan budaya yang meneguhkan rasa bangga pada akar mereka.
Bagi Pemerintah Desa, kegiatan senam tadi menjadi simbol bahwa menjaga tubuh juga meneguhkan ketahanan mental, kedua unsur penting dalam mencegah perilaku kekerasan di sekolah. Komitmen bersama terpatri lebih dalam ketika Kepala Desa Tjokro, Heru Budi Santosa, menyampaikan apresiasinya. Ia menegaskan dukungan penuh Pemdes terhadap inisiatif ini sebagai bagian dari visi pembangunan manusia dan karakter desa. Menurut Heru, memerangi bullying bukan tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama yang memerlukan kesinambungan, penguatan kapasitas guru, keterlibatan orang tua, dan keberlanjutan program di setiap masa ajaran.
Sebagai tindak lanjut, Pemdes Tjokro menawarkan venue Joglo Latar Tjokro bilamana mau dipakai oleh Yupi sebagai lokasi gelaran puncak Yupi Let’s Speak Up Klaten. Saat ini persiapan dan kelengkapan infrastruktur terus disiapkan seiring perencanaan workshop intensif bagi guru dan orang tua, memperkuat “barisan depan” deteksi dini serta penanganan kasus bullying.
Rencana pembentukan forum anak desa juga digagas dan dalam penggodokan untuk memberi ruang bagi murid-murid berperan sebagai pengawas nilai persahabatan. Lebih jauh, koordinasi dengan Dinas Pendidikan direncanakan untuk mengintegrasikan materi anti-bullying dalam muatan lokal kurikulum, sehingga dukungan terhadap anak-anak tidak berhenti di kegiatan insidental.
Tanpa terasa hari berlangsung senja, cahaya matahari redup di ufuk barat, namun semangat melawan bullying justru kian terang di mata setiap peserta. Dari SDN 1 Cokro hingga Joglo Latar Tjokro, semua berkomitmen bersama Pemdes Tjokro serta Yupi Let’s Speak Up guna menorehkan babak baru dalam upaya membentuk budaya sekolah yang inklusif dan peduli. Dengan fondasi sinergi Pentahelix, desa kecil ini menggenggam harapan, mewujudkan lingkungan belajar yang memberikan ruang bagi setiap anak tumbuh penuh percaya diri, bebas intimidasi, dan saling menopang satu sama lain.
Setelah seluruh sesi akhir rampung, rombongan siswa siswi melanjutkan perjalanan singkat menuju SDN 1 Cokro. Jalan kaki melewati pinggir pekarangan warga yang terasa semakin membangkitkan ikatan kebersamaan. Setiap tawa yang meletus di perjalanan seolah menandakan harapan bahwa pengalaman hari ini akan memompa semangat teman-teman di sekitar kedepannya.
®Pitut Saputra

