YOGYAKARTA, CHANEL7.ID
Ratusan pelajar Kota Yogyakarta memadati Taman Pintar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, untuk mengikuti Lomba Lukis DIY‑Kyoto tingkat Kota Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan ini dirancang sebagai wadah pembinaan seni rupa bagi pelajar dari tingkat TK hingga SMA sekaligus menjadi seleksi awal untuk memilih karya yang akan mewakili Kota Yogyakarta pada tingkat provinsi dan berpeluang dikirim ke Kyoto, Jepang, dalam rangka kerjasama Sister Province antara DIY dan Prefektur Kyoto (22/08/2026).
Acara dibuka secara simbolis oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang menandai pembukaan dengan menggoreskan cat pada kanvas. Dalam sambutannya Wawan menegaskan bahwa seni dan budaya adalah dasar kehidupan masyarakat Yogyakarta. Ia mengaitkan peran seni dengan upaya merawat lingkungan hidup dan mendorong keterlibatan keluarga dalam program pengelolaan sampah, Jogja Olah Sampah (Mas JOS). “Lomba lukis ini sebagai pembinaan lingkungan untuk adik‑adik semua mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA,” ujar Wawan, seraya menghimbau orang tua untuk terus mendampingi dan memberi dukungan kepada anak‑anak selama proses berkarya.
Wawan hadir bersama istri, Siti Hafsah, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua TP PKK Kota Yogyakarta. Keduanya berkeliling melihat para peserta melanjutkan goresan menjadi gambar, memberi semangat, dan menyaksikan ragam teknik serta konsep yang dihadirkan anak‑anak. Siti menyampaikan harapan agar kompetisi berlangsung sehat dan mampu mendorong perkembangan kualitas para pelukis muda.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa lomba tahun ini menunjukkan peningkatan partisipasi, terutama dari tingkat SMP dan SMA. Dari total 317 pendaftar, panitia menyeleksi menjadi 200 peserta yang mengikuti babak di Taman Pintar. Dari jumlah tersebut akan dipilih 20 karya terbaik yang berhak menerima penghargaan dan uang pembinaan serta mewakili Kota Yogyakarta pada seleksi tingkat Provinsi DIY. Karya yang lolos seleksi provinsi nantinya akan dikirim ke Kyoto sebagai bagian dari program pertukaran budaya.
Tema lomba tahun 2026 adalah “Lingkungan: Aku, Dia, dan Mereka”. Menurut Yetti, tema ini mengajak peserta memaknai lingkungan secara luas: “Aku” merefleksikan diri sendiri, perasaan, pengalaman, dan kebiasaan sehari‑hari; “Dia” mewakili orang lain atau unsur lingkungan seperti teman, guru, tumbuhan, dan hewan; “Mereka” mencakup seluruh makhluk hidup yang saling terhubung dan hidup bersama di bumi. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan karya budaya sebagai satu kesatuan.
Suasana lomba dipenuhi antusiasme. Para peserta tampak serius mengolah warna, komposisi, dan teknik, beberapa memilih melukis langsung dengan cat di kertas gambar, sementara yang lain bereksperimen dengan tekstur dan kolase. Panitia menyediakan fasilitas dan pengawas untuk memastikan proses berjalan tertib serta adil. Selain aspek kompetitif, lomba ini juga menjadi sarana edukasi untuk menanamkan nilai kepedulian lingkungan sejak dini. Karya yang mengangkat isu sampah, ruang publik, atau hubungan sosial diharapkan dapat menjadi kampanye kreatif yang menyentuh masyarakat luas.
Salah satu peserta kategori SMP, Elzahida Reine Falah, menyambut positif kesempatan ini. Elza memberi judul karyanya “Aku di tengah kota yang sibuk”, sebuah komposisi yang menggabungkan ikon Tugu Yogyakarta dengan pohon‑pohon yang ia imajinasikan sebagai suasana alam di Kyoto. “Lomba ini bisa meningkatkan kreativitas dan menyalurkan seni anak‑anak Yogya. Saya pakai ikon Yogya seperti Tugu, kalau Kyoto saya bayangkan pohon‑pohon. Harapannya karya saya bisa lolos sampai Kyoto,” kata Elza penuh semangat.
Penyelenggaraan lomba ini juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengintegrasikan seni dengan program lingkungan seperti Mas JOS. Dengan melibatkan pelajar, lomba tidak hanya mencari pemenang tetapi juga membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya pengelolaan sampah dan pelestarian ruang hidup. Dinas Kebudayaan berencana melanjutkan pembinaan bagi peserta terpilih melalui pelatihan teknik, pameran, dan kesempatan pertukaran budaya agar pengalaman ini menjadi langkah awal pengembangan karier seni mereka.
Menjelang penutupan, suasana harap‑harap cemas menyelimuti peserta yang menunggu hasil seleksi. Namun panitia mengingatkan bahwa proses berkarya dan pengalaman tampil di ruang publik sudah merupakan kemenangan tersendiri. Dari 200 karya yang dipertandingkan, 20 akan dipilih untuk melaju ke tingkat provinsi, dan berpeluang mewakili DIY di Kyoto.
Lomba Lukis DIY‑Kyoto 2026 di Taman Pintar bukan sekadar ajang kompetisi, ia merupakan perayaan kreativitas generasi muda Yogyakarta yang menggabungkan seni, pendidikan, dan kepedulian lingkungan. Semangat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan komunitas seni diharapkan terus tumbuh, menjadi modal penting bagi generasi penerus dalam menjaga budaya dan lingkungan yang mereka warisi.
@ Pitut Saputra

