SUMBAR, CHANEL7.ID – Batu Runciang menjadi salah satu destinasi wisata alam paling populer di Kota Sawahlunto. Objek wisata yang berada di Desa Silungkang Oso, Kecamatan Silungkang ini menawarkan panorama alam eksotis di dataran tinggi dengan suasana yang sejuk, nyaman, dan bebas polusi. Rabu 27/Mei/2026
Destinasi wisata yang dikelola oleh kelompok sadar wisata (POKDARWIS) Batu Runciang tersebut dikenal memiliki pemandangan alam yang indah dengan ikon batu karang runcing menjulang tinggi yang terbentuk secara alami. Keunikan bentang alam itu menjadikan Batu Runciang sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan di kawasan Geopark Nasional Sawahlunto.
Dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau, yakni sekitar Rp8 ribu, pengunjung sudah dapat menikmati suasana alam yang asri dan menenangkan. Lokasi ini dinilai sangat cocok bagi wisatawan yang ingin melepas penat dari rutinitas sehari-hari dan hiruk-pikuk perkotaan.
Pengelola Batu Runciang, Injuah, menyebutkan jumlah pengunjung sejak Lebaran Idul Fitri 2026 hingga Idul Adha 1447 Hijriah mencapai sekitar 5 ribu orang. Tingginya minat wisatawan menunjukkan Batu Runciang semakin dikenal sebagai tujuan wisata alam favorit di Sawahlunto.
- Advertisement -
“Pengunjung cukup ramai sejak libur Lebaran sampai sekarang. Banyak wisatawan datang untuk menikmati suasana alam dan keunikan batu runcing yang menjadi ikon lokasi ini,” ujarnya.
Kawasan wisata seluas sekitar satu hektare tersebut dibangun oleh Pemerintah Kota Sawahlunto pada tahun 2023 sebagai bagian dari pengembangan sektor pariwisata dan geopark daerah. Menariknya, setiap pengunjung juga mendapatkan layanan servis rem motor gratis dari pengelola. Sementara itu, masyarakat sekitar Desa Silungkang diberikan diskon tiket masuk.
Batu Runciang juga tercatat sebagai salah satu dari 30 situs geologi yang berada di kawasan Geopark Nasional Sawahlunto. Secara geologi, batu runcing di lokasi tersebut merupakan jenis batu gamping atau batuan kapur yang dahulu terendapkan di bawah laut pada zaman Permian, sekitar 299 juta tahun lalu berdasarkan penelitian Katili dan Kamal (1961).
Situs geologi ini mengalami proses karstifikasi dan memiliki fenomena eksokarst, yakni bentang alam karst yang terlihat di permukaan bumi. Tebing-tebing batu yang menjulang tinggi di kawasan itu dikenal dengan istilah pinnacle, karena bentuknya yang runcing dan unik serta tergolong batuan berusia sangat tua.
Pengunjung pun diimbau untuk ikut menjaga kelestarian kawasan geopark dengan tidak merusak lingkungan maupun formasi batuan yang ada.
- Advertisement -
“Selamat berwisata di Geopark Nasional Sawahlunto, mari bersama menjaga warisan alam yang unik dan berharga ini,” kata pengelola.
- Advertisement -
®Herman

