KLATEN, CHANEL7.ID
Senyum lega terpancar dari wajah Nila Sari, warga Kampung Sekalekan, ketika rumahnya yang selama ini bocor dan rapuh akhirnya mendapatkan sentuhan renovasi melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) 2026. Nila adalah salah satu dari lebih 1.600 penerima manfaat yang tersebar di 26 kecamatan di Kabupaten Klaten. Bantuan ini datang dari kombinasi sumber, Pemerintah Kabupaten Klaten, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, program BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), serta dukungan CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan lokal (22/07/2026).
Sebelum mendapatkan bantuan, kondisi rumah Nila menggambarkan realitas banyak keluarga kurang mampu, atap bocor saat hujan, dinding retak, lantai tidak rata, dan fasilitas sanitasi yang minim. “Maturnuwun Mas Bupati, atas bantuan RTLH nya. Rumah saya sudah utuh tidak bocor lagi,” ujar Nila dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya.
Perbaikan yang dilakukan meliputi penggantian atap, perbaikan dinding dan lantai, pemasangan pintu dan jendela yang layak, serta perbaikan instalasi sanitasi sederhana. Selain meningkatkan kenyamanan, renovasi ini juga meningkatkan keamanan dan kesehatan penghuni rumah. Perubahan fisik tersebut langsung dirasakan oleh keluarga Nila, ruang keluarga kini menjadi tempat yang aman untuk berkumpul, anak-anak dapat belajar tanpa gangguan kebocoran, dan risiko penyakit akibat lingkungan lembab berkurang.
Menurut Waris Handoyo, Kepala Bidang Kawasan Permukiman dan Pertanahan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperakim) Klaten, program RTLH 2026 mengalami peningkatan jumlah bantuan dibandingkan tahun sebelumnya. Total lebih dari 1.600 unit rumah yang diperbaiki tahun ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah bersama mitra untuk mempercepat penanganan perumahan tidak layak.
- Advertisement -
Sumber pendanaan program ini bersifat kolaboratif. Dana dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kabupaten Klaten dipadukan dengan alokasi dari Provinsi Jawa Tengah, sementara program BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) dari Kementerian PUPR memberikan dukungan teknis dan finansial untuk rumah-rumah yang memenuhi kriteria. Selain itu, kontribusi Baznas dan program CSR perusahaan menambah kapasitas anggaran sehingga cakupan bantuan dapat diperluas.
Proses penentuan penerima manfaat melibatkan survei lapangan, verifikasi data sosial ekonomi, dan koordinasi lintas sektor. Kriteria utama adalah tingkat kerusakan rumah, kondisi ekonomi keluarga, serta prioritas bagi lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga dengan anak-anak. Setelah verifikasi, pelaksanaan renovasi dilakukan oleh kontraktor lokal dan tukang setempat dengan pengawasan Disperakim untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar.
Waris menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses ini. “Kami melibatkan warga setempat agar renovasi tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga berkelanjutan. Pelatihan perawatan rumah sederhana diberikan agar hasil renovasi dapat dipertahankan,” ujarnya.
Perbaikan rumah tidak hanya meningkatkan kualitas hunian, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi. Rumah yang layak mendorong rasa percaya diri pemilik, memperkuat ikatan keluarga, dan menciptakan lingkungan yang lebih aman. Secara ekonomi, program ini membuka lapangan kerja lokal, tukang, pemasok bahan bangunan, dan tenaga pendukung lainnya, sehingga perputaran ekonomi di tingkat desa meningkat.
Bagi anak-anak, lingkungan rumah yang lebih sehat berkontribusi pada penurunan absensi sekolah akibat sakit. Bagi lansia dan penyandang disabilitas, akses yang lebih baik dan kondisi rumah yang aman mengurangi risiko kecelakaan dan memudahkan mobilitas sehari-hari.
- Advertisement -
Meskipun capaian 1.600 rumah merupakan langkah signifikan, tantangan masih ada. Ketersediaan anggaran yang terbatas, kebutuhan yang masih besar, serta pemeliharaan pasca-renovasi menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat. Waris berharap agar penerima manfaat menjaga dan merawat rumah yang telah direnovasi agar manfaatnya bertahan lama. “Saya berharap, rumahnya dirawat dengan baik setelah direnovasi ini. Jadi bisa dirawat dan dijaga agar nyaman untuk berkumpul bersama keluarga,” pungkasnya.
Untuk jangka panjang, diperlukan strategi terpadu, peningkatan alokasi anggaran, penguatan program bantuan berbasis komunitas, serta kolaborasi lebih intens antara pemerintah, lembaga zakat, dan sektor swasta. Program pelatihan keterampilan bangunan sederhana dan manajemen rumah tangga juga dapat membantu memastikan bahwa renovasi yang dilakukan tetap terawat.
Kisah Nila Sari adalah cermin dari perubahan nyata yang dapat dihadirkan oleh program RTLH ketika dukungan pemerintah dan mitra bersinergi. Lebih dari sekadar memperbaiki bangunan, program ini memperbaiki kualitas hidup, memberi harapan, dan menguatkan komunitas. Dengan komitmen berkelanjutan dan partisipasi aktif masyarakat, upaya memperbaiki hunian layak di Klaten dapat terus meluas dan memberi manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang.
- Advertisement -
@ Pitut Saputra

