CIREBON, CHANEL7.ID – l Letnan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang biasa dipanggil Hamedti, Pemimpin Rapid Forces ( RSF ), paramiliter yang melakukan pembataian massal sekitar 2000 orang di El- Fasher, Sudan.
Dilansir dari Sindonews, Siapa sangka, Hamedti yang dulunya adalah penggembala unta yang kini berubah menjadi komandan paramiliter yang sangat ditakuti dalam perang saudara Sudan.
Tuduhan pembantaian massal oleh RSF telah memicu kecaman dunia internasional, seruan untuk penuntutan atas kejahatan perang dan genosida.
Harapan untuk transisi Sudan menuju pemerintahan sipil telah memudar setelah kekerasan pecah antara militer dan RSF.
- Advertisement -
Sebagian besar pengaruh RSF, dikaitkan dengan pemimpinnya, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal sebagai “Hamedti” atau ” Muhamad kecil”.
Dia menjadi terkenal menjadi wakil pemimpin dewan transisi yang dibentuk setelah mantan pemimpin otoriter Omar Al-Bashir digulingkan pada tahun 2019.
RSF dan militer melancarkan kudeta pada tahun 2021 terhadap kepimpinan gabungan sipil-militer, tetapi satu setengah tahun kemudian, Dagalo tampak tidak senang dengan militer.
Dia telah membuat pernyataan tentang bagaimana kekuasaan masih diisi loyalis Al-Bashir yang akan menghambat proses menuju demokrasi.
Dagalo lahir sekita tahun 1974 dari suku Mahariya di komunitas Rizeigat di Darfur. Dia merupakan keponakan seorang kepala suku di cabang perdagangan unta Rizeigat.
- Advertisement -
Dia hanya memiliki sedikit pendidikan formal, putus sekolah dikelas tiga dan kemudian menjadi penggembala dan pedagang unta.
Kisah paling umum tentang Dagalo adalah bahwa dia terpaksa mengangkat senjata dalam konflik.
Darfur ketika sekelompok orang menyerang utusan dagangnya, membunuh 60 anggota keluarganya, serta menjarah unta-unta miliknya.
Ia kemudian bergabung dengan Janjaweed sebuah kongmelarasi milisi suku Arab, yang sebagian besar dari suku-suku pedagang unta dan aktif di Darfur dan sebagian wilayah Chad.
- Advertisement -
Sosoknya yang menarik perhatian Presiden Omar al-bashir yang merekrut Janjaweed untuk memerangi orang-orang non Arab, yang memulai memberontak pada pemerintahannya pada tahun 2003 di Darfur. Sejak itu, Dagalo ditunjuk menjadi komandan militer.
RSF dibentuk pada tahun 2013 dibawah kepemimpinan Dagalo. RSF menggabungkan elemen-elemen Janjaweed menjadi kekuatan baru dibawah naungan Al-bashir dan badan intelijen dan keamanan nasional Sudan.
Tak lama kemudian, Dagalo diberi legitimasi lebih lanjut dan otonomi lebih luas karena Al-bashir, yang terkesan dengan pemimpin milisi yang tinggi dan berwibawa itu, mulai mengandalkannya dan para milisinya untuk menumpas musuh-musuhnya di Darfur dan tempat lain di Sudan.
Dagalo kemudian meraih pangkat letnan jenderal serta diberi kekuasaan penuh saat dia merebut tambang emas di Darfur milik pemimpin suku rival. Dia melipatgandakan kekayaannya berkali-lipat.
Dagalo turut serta dalam penggulingan presiden Al-bashir ketika pemberontakan tahun 2019 pecah dan mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung hampir 30 tahun.
Perebutan kekuasaan pasca Al-bashir setelah Al-bashir lengser, kemitraan sipil-militer dibentuk, dan Dagalo mempromosikan dirinya dengan baik dalam masa transisi tersebut.
Dagalo menjadi wakil kepala Dewan militer transisi, memegang kekuasaan tepat setelah Al-bashir lengser, dan kemudian menjadi bagian dari penerusnya, Dewan Kedaulatan.
Kemudian Dagalo menindak tegas para pembangkang. Pasukan RSF-nya menewaskan lebih dari 100 jiwa disebuah kamp protes pada tahun 2019 silam diluar kementerian Pertahanan, sebuah tindak keras yang dibantah Dagalo
Meskipun Al-bashir dan pejabat tinggi Sudan lainya yang telah didakwa dengan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Mahkamah Pengadilan Internasional ( ICC ), tidak ada dakwaan yang diajukan terhadap Dagalo meskipun ada tuduhan oleh kelompok-kelompok HAM atas kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpinnya selama dekade terakhir.
Selama bertahun-tahun, Dagalo menjalin hubungan kuat yang baik di kawasan maupun internasional.
®Jaka

