KLATEN, CHANEL7.ID – Malam yang tenang di sudut Desa Daleman, Tulung, Klaten, udara desa menyambut hangat hadirnya para pegiat yang berasal dari beragam latar belakang. Aroma kopi menjadi pengantar bagi pertemuan santai di kediaman Danang Subiantoro, budayawan sekaligus pegiat lingkungan yang selama ini menaruh perhatian besar pada kondisi Sungai. Tanpa protokol resmi dan suasana kaku, obrolan berputar pada satu gagasan yang menggugah sekaligus menantang, bagaimana merancang pariwisata berkelanjutan yang sekaligus memuliakan alam, merayakan budaya lokal, dan membuka ruang bagi semua orang tanpa terkecuali (16/07/2025).
Dalam kerumunan hangat itu, hadir pula Heru Budi Santosa, kepala desa Tjokro yang memahami betul mekanisme pemerintahan desa dan kebutuhan warganya. Ia menegaskan bahwa peran pemerintah desa tidak hanya sebatas memberi izin atau memikirkan anggaran, namun juga menganyam keselarasan antara keputusan politik, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian alam. Dengan senyum ramah, Dirinya mengajak semua peserta untuk bersama menajamkan visi, agar Desa Tjokro nantinya bukan hanya sekedar jadi destinasi wisata, melainkan laboratorium hidup bagi ekowisata sekaligus oase budaya inklusif.
Obrolan kemudian menembus berbagai peristiwa yang pernah digelar sebelumnya di desa Tjokro. Acara “Sambang Desa” yang digelar di Latar Joglo Tjokro disebut sebagai titik tolak yang meneguhkan kerja sama antara pemerintah desa, pelaku UMKM, sanggar seni, budayawan, komunitas disabilitas dan relawan lingkungan. Saat itu, demonstrasi memasak oleh ibu-ibu PKK, ritual adat, bazar UMKM, fashion show busana lokal hingga pameran virtual yang memanfaatkan teknologi tiga dimensi sukses menyedot perhatian masyarakat luas. Lebih penting lagi, momen itu menggugah kesadaran kolektif bahwa keberadaan Sungai Pusur lebih dari sekadar panorama. Ia adalah nadi kehidupan yang membutuhkan perhatian dan cinta.
Dalam diskusi yang mengalir, Danang Subiantoro yang juga seorang pegiat lingkungan (GILA SELINGKUH (Giat Lestarikan Alam dan Lestarikan Lingkungan Hidup) menegaskan bahwa sungai harus diperlakukan sebagai ruang hidup yang kaya makna. Ia menekankan perlunya mengurangi laju erosi dengan menata tebing di sepanjang aliran, serta menanam tumbuhan riparian yang mampu memperkuat ekosistem tangkapan air. Menurutnya, konsep taman banjir edukatif dapat menjadi arena belajar di mana masyarakat dan pengunjung bisa mengeksplorasi siklus hidrologi sambil menikmati keindahan alam. Ide ini bukan sekadar retorika, melainkan kewajiban moral untuk mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang, disamping itu dirinya juga menekankan untuk menjaga kelestarian ekosistem sungai dengan penyebaran benih ikan endemik.
Heru Budi Santosa menambahkan gagasan itu dengan perspektif kolaboratif. Baginya, pariwisata yang berkelanjutan tidak akan berjalan jika kebijakan pemerintah desa hanya tersalur dari atas ke bawah. Ia menggambarkan gambaran Desa Tjokro yang ideal sebagai ruang di mana warga setempat, pelaku usaha, lembaga teknis, organisasi disabilitas, budayawan dan wisatawan bertemu dalam harmoni. Setiap pihak memiliki peran yang sama penting, sehingga tidak ada satupun yang merasa terpinggirkan atau hanya menjadi objek pasif.
Percakapan berlanjut membahas keberagaman budaya dan seni tradisional desa. Panggung terbuka di Joglo Latar Tjokro yang disebut sebagai laboratorium sosial budaya sekaligus wadah ekspresi seni untuk menampilkan tari dan musik gamelan, sekaligus ruang interaksi dan edukasi antara penampil dan penonton. Sementara kegiatan seni budaya dan edukasi mitigasi bencana diyakini mampu memberikan pemahaman terkait bencana alam, pelestarian alam dan memupuk rasa bangga terhadap warisan tradisi seperti tradisi pembuatan jamu tradisional, kuliner sate kere, dan banyak lagi. Dengan melibatkan pemuda lokal dan penyandang disabilitas, program semacam ini tidak hanya melestarikan kearifan lokal, tetapi juga menguatkan jaringan sosial dan budaya inklusif di desa Tjokro.
Aspek kuliner dan UMKM tidak luput dari perhatian. Diskusi mencuatkan gagasan koperasi kantin kuliner yang dikelola oleh para ibu PKK, di mana pengunjung dapat belajar meracik bumbu kuliner dan penganan tradisional, mencicipi kue tradisi, atau menikmati sayur dari hasil kebun yang dipetik sendiri dari kebun warga.
Sementara itu, perhatian terhadap inklusi sosial ditandai dengan diskusi panjang mengenai aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Pintu gerbang wisata desa, jalur jalan setapak, dan fasilitas umum direncanakan agar ramah bagi pengguna kursi roda, dilengkapi tanda braille dan audio guide untuk tunanetra. Lebih jauh, para pemandu lokal difabel akan menjalani pelatihan khusus agar siap memimpin tour dan bercerita tentang kekayaan alam dan budaya Desa Tjokro. Dengan langkah ini, hadir cermin bahwa pariwisata bukan sekadar konsumsi visual, melainkan juga ruang berbagi dan penghormatan bagi setiap individu.
Seiring malam merayap, muncul ide wahana alam yang menggabungkan petualangan dan pendidikan. Trekking di tepian sungai akan dilengkapi panduan peta lipat yang ramah anak dan difabel. Offroad track jeep di tebing sungai dan sekitar persawahan dirancang dengan prinsip minimal invasif, meminimalkan kerusakan lingkungan. Bagi keluarga, area kemah budaya dengan tenda camping, serta outbond memungkinkan pengalaman bermalam di alam terbuka, sementara anak-anak dapat bermain air di aliran dangkal sungai yang aman. Setiap kegiatan dirancang agar pengunjung memetik pelajaran praktis tentang pentingnya konservasi alam.
Saat sarasehan santai mendekati akhir, seluruh peserta sepakat bahwa gerakan pariwisata ini harus dilandasi komitmen nyata. Belum ada jawaban instan, namun langkah konkret akan segera dirancang. Pemerintah desa akan mempersiapkan infrastruktur dasar dan perizinan. BBWS Surakarta siap membantu teknis konservasi dan mitigasi banjir. Sanggar Seni Mewarnai Dunia Palar menyusun kurikulum dan kegiatan seni inklusif. Sementara media menyiapkan ruang publikasi untuk menggaungkan setiap capaian. Semua demi satu tujuan yakni membangun model pariwisata berkelanjutan yang benar-benar berpihak pada alam dan manusia.
Dengan segelas wedang kopi sederhana sebagai penutup, sarasehan elemen Pentahelix, suasana semakin akrab. Tawa dan harapan mengalir bersama, menandai awal sinergi kolaboratif yang menjanjikan. Desa Tjokro tidak lagi sekadar titik di peta, melainkan laboratorium sosial dan ekologis. Konsep Tjokro Eco Culture Tourism lahir dari pertemuan hati dan pikiran berbagai pihak, menjadi janji kolektif untuk merawat warisan alam, menyemai budaya, dan meneguhkan inklusi. Di antara percik cahaya lampu warung kopi dan bisik ranting pohon, terlihat masa depan desa yang tangguh, lestari, dan berdaya.
®Pitut Saputra

