KLATEN, CHANEL7.ID
Ribuan warga Klaten berkumpul di alun-alun kota sejak pagi hari untuk mengikuti acara makan sop ayam bersama yang sekaligus menjadi upaya memecahkan rekor. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Klaten ke-222 itu berhasil mencatatkan rekor baru, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat dunia. Suasana penuh kegembiraan, kebersamaan, dan kebanggaan lokal mewarnai seluruh rangkaian acara yang melibatkan peserta dari seluruh kecamatan (01/08/2026).
Sejak subuh, alun-alun Klaten sudah dipenuhi barisan warga yang datang menumpang bus, kendaraan pribadi, maupun berjalan kaki. Mereka memenuhi sisi lapangan hingga jalan keliling, duduk lesehan menanti sajian sop ayam yang disajikan dalam wadah kertas. Panitia menyiapkan ribuan porsi lengkap dengan lauk pendamping seperti tahu, sate, dan kerupuk. Kehadiran petugas dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menambah semarak karena proses penghitungan porsi dilakukan secara terbuka di hadapan publik.
Dalam proses verifikasi, Senior Representative MURI, Ari Adriani, menjelaskan bahwa jumlah porsi yang disajikan mencapai 9.694 porsi. Namun, demi simbolisme dan permintaan pelaksana acara, angka yang dicatatkan resmi adalah 9.222 porsi angka yang dipilih untuk menyesuaikan dengan peringatan Hari Jadi Klaten ke-222 pada tahun 2026. Ari menambahkan, “Kami mencatat angka sebenarnya untuk keperluan verifikasi, namun pelaksana meminta angka simbolis 9.222 agar momen ini melekat pada sejarah Klaten. Yang terpenting adalah semangat kebersamaan dan pelestarian kuliner lokal yang terlihat jelas hari ini.” ujarnya.
Lebih dari sekadar angka, pengukuhan rekor tersebut menjadi momentum penting bagi pelestarian kuliner khas Klaten. Menurut pernyataan resmi MURI, sop ayam Klaten diakui sebagai makanan tradisional yang mencerminkan kearifan lokal. Pengakuan ini membuka peluang bagi kuliner setempat untuk dikenal lebih luas, sekaligus menjadi daya tarik wisata kuliner yang potensial. Ari berharap pencatatan rekor dunia ini menjadi pemantik bagi pelestarian resep tradisional dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kuliner.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa inisiasi kegiatan bukan sekadar mengejar jumlah porsi semata. Hamenang menyampaikan, “Kegiatan ini kami rancang untuk memperkuat identitas Klaten. Sop ayam bukan hanya makanan, ia adalah bagian dari memori kolektif kita. Dengan pengakuan ini, kami berharap pelaku UMKM mendapat akses pasar lebih luas dan generasi muda semakin bangga melestarikan resep keluarga.” tegasnya.
Ketua panitia Hari Jadi ke-222, Muh. Nasir, menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan memberdayakan pelaku UMKM, memperkuat semangat gotong royong, dan menumbuhkan kebersamaan antar warga. Nasir memberi penjelasan lebih rinci, “Kami melibatkan puluhan UMKM lokal dalam penyediaan bahan baku dan lauk. Ini bukan sekadar acara seremonial; ini program pemberdayaan ekonomi yang kami rancang agar berkelanjutan. Ke depan kami akan fasilitasi pelatihan pemasaran dan sertifikasi produk agar kuliner Klaten bisa menembus pasar regional.” paparnya.
Para peserta yang hadir juga menyampaikan antusiasme mereka. Bardi, seorang pemuda dari Klaten Selatan, mengaku penasaran ingin merasakan pengalaman makan bersama dalam jumlah besar dan memecahkan rekor bersama keluarga serta teman-teman. Tina, peserta dari Kecamatan Klaten tengah, bersyukur karena meski datang agak terlambat, ia masih mendapatkan paket komplit berisi sop ayam dan lauk pendamping. Tina berujar, “Senang sekali bisa ikut. Selain dapat makan, saya merasa ikut merawat tradisi. Semoga acara seperti ini rutin diadakan sehingga kuliner kita makin dikenal.” ungkapnya.
Setelah proses penghitungan selesai, para peserta dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Suasana makan bersama berlangsung meriah namun tertib, tawa, obrolan, dan rasa syukur mewarnai momen kebersamaan itu. Panitia memastikan distribusi makanan berjalan lancar sehingga hampir semua peserta mendapatkan porsi lengkap. Keberhasilan logistik ini menjadi salah satu kunci agar acara berjalan sukses tanpa hambatan berarti.
Dari sisi ekonomi, kegiatan ini membuka ruang promosi bagi pelaku kuliner lokal. Penjualan bahan baku, keterlibatan catering lokal, serta partisipasi UMKM dalam menyediakan lauk dan kerupuk menjadi sumber penghasilan sementara yang signifikan. Selain itu, pengakuan rekor dunia berpotensi menarik perhatian wisatawan kuliner dan investor yang ingin mengangkat produk khas Klaten ke pasar lebih luas. Beberapa pelaku UMKM yang terlibat menyatakan harapan agar pemerintah daerah memfasilitasi akses perizinan, pelatihan higienitas, dan pemasaran digital untuk memperkuat daya saing produk lokal.
Pengukuhan rekor sebagai rekor nomor 12.829 di MURI menambah daftar prestasi Klaten yang sebelumnya telah mencatat 13 rekor lain. Catatan ini menunjukkan tradisi kreativitas dan inisiatif komunitas yang konsisten dalam mengangkat identitas daerah. Ke depan, momentum ini diharapkan menjadi titik awal program-program berkelanjutan untuk mempromosikan kuliner, budaya, dan ekonomi lokal.
Acara makan sop ayam bersama di alun-alun Klaten bukan sekadar perayaan angka, melainkan perayaan identitas dan kebersamaan. Dengan tercatatnya rekor dunia, Klaten kini memiliki cerita baru yang bisa diceritakan kepada publik luas, bagaimana sebuah komunitas mampu bersatu, merayakan tradisi, dan mengubahnya menjadi peluang ekonomi serta kebanggaan kolektif. Semoga semangat ini terus hidup dan menginspirasi langkah-langkah pelestarian kearifan lokal di masa mendatang.
@ Pitut Saputra

