Chanel 7Chanel 7
  • Beranda
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    • Edukasi
    • Politik
    • Agama
    • Hukum
    • Pemerintah
    • TNI
    • Opini
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Lifestyle
    • Entertaiment
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Wisata
    • Olahraga
  • Streaming Video
Cari...
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: Pernyataan Kapolri dan Martabat Profesi Petani: Kritik Retorika Yang Perlu Refleksi
Share
Notification Show More
Chanel 7Chanel 7
  • Beranda
  • Berita
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Lifestyle
  • Streaming Video
Cari...
  • Beranda
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    • Edukasi
    • Politik
    • Agama
    • Hukum
    • Pemerintah
    • TNI
    • Opini
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Lifestyle
    • Entertaiment
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Wisata
    • Olahraga
  • Streaming Video
Follow US
© PT Media Chanel Online
Chanel 7 > Opini > Pernyataan Kapolri dan Martabat Profesi Petani: Kritik Retorika Yang Perlu Refleksi
Opini

Pernyataan Kapolri dan Martabat Profesi Petani: Kritik Retorika Yang Perlu Refleksi

©Opini.

Chanel7.id
Chanel7.id  - ©By. Editor Published Januari 28, 2026
Share
5 Min Read
Compress 20260128 042250 0273
Laporan Photo Oleh, Pitut Saputra (Chanel7.id)
SHARE
Bagikan Berita

KLATEN, CHANEL7.ID – Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo 26 Januari 2026 silam, saat rapat kerja dengan komisi III DPR-RI di kompleks Parlemen Jakarta yang menegaskan penolakannya terhadap wacana penempatan Polri di bawah kementerian dengan kalimat, “Kalaupun saya yang jadi menteri kepolisian, saya lebih baik menjadi petani saja” memicu reaksi publik yang layak mendapat perhatian. Di permukaan, pernyataan itu dimaksudkan untuk menegaskan sikap tegas terhadap perubahan struktur kelembagaan. Namun pilihan analogi yang membandingkan jabatan menteri dengan profesi petani membuka ruang interpretasi yang berpotensi merendahkan profesi tertentu dan menimbulkan bias yang tidak perlu (28/01/2026).

Analogi memang sering dipakai untuk memperjelas sikap atau menambah warna retorika. Namun analogi yang menempatkan satu profesi sebagai pilihan “lebih rendah” berisiko memperkuat stereotip. Petani bukan sekadar pilihan pekerjaan, mereka adalah pilar ketahanan pangan, penggerak ekonomi pedesaan, dan penjaga tradisi budaya. Menggambarkan menjadi petani sebagai alternatif yang merendahkan, meski mungkin dimaksudkan sebagai hiperbola, berpotensi ditafsirkan sebagai penghinaan terselubung terhadap profesi yang memiliki peran strategis bagi negara.

Read More

Chanel7.id 3 13
Mayday dan Perjuangan Pekerja Lintas Sektor
Upaya Sadar Pria Dalam Perencanaan Keluarga
Praktisi Hukum Rembang Ingatkan Bahaya ASN Pimpin Ormas
Catatan Kecil Warga Untuk Polri Terkait Upaya Memulihkan Wibawa Institusi

Seorang pejabat publik, apalagi yang berpangkat tinggi dan berpendidikan, semestinya memikul tanggung jawab besar dalam memilih kata-kata. Pernyataan publik dari figur seperti Kapolri bukan sekadar ekspresi pribadi, ia menjadi konsumsi publik dan media yang membentuk persepsi masyarakat. Kebijaksanaan berbahasa menuntut agar penolakan terhadap sebuah wacana disampaikan dengan argumen yang rasional, faktual, dan menghormati pihak lain. Perbandingan yang mudah disalahpahami atau berpotensi merendahkan profesi lain bukanlah cara bijak untuk mengelola perdebatan kebijakan.

Polisi dan petani memiliki tugas pokok yang berbeda, satu menjaga keamanan dan penegakan hukum, sementara yang lain memproduksi pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional, Perbedaan fungsi ini tidak otomatis mencerminkan perbedaan derajat moral atau sosial. Menempatkan keduanya dalam hierarki nilai yang implisit dengan menyiratkan bahwa menjadi petani adalah “pilihan yang lebih rendah” mengabaikan kompleksitas peran sosial dan ekonomi yang dijalankan petani. Derajat profesi seharusnya diukur dari kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan dari status simbolik semata.

- Advertisement -

Retorika yang merendahkan profesi tertentu dapat memperkuat stigma sosial dan memperlebar jurang antar kelompok masyarakat. Dalam konteks politik, pernyataan seperti ini berisiko dimanfaatkan untuk mempolarisasi opini publik atau mengalihkan fokus dari substansi wacana reformasi kelembagaan. Alih-alih memperkaya diskursus, analogi yang tidak sensitif justru menimbulkan kegaduhan yang mengaburkan argumen substantif tentang tata kelola Polri, akuntabilitas, dan hubungan antar lembaga negara.

Menolak sebuah wacana adalah hak setiap pejabat dan warga negara, namun penolakan yang konstruktif membutuhkan beberapa elemen, diantaranya argumen berbasis data, penjelasan konsekuensi praktis, dan penghormatan terhadap pihak lain. Jika Kapolri menolak penempatan Polri di bawah kementerian, ia dapat menjelaskan secara teknis alasan institusional, implikasi terhadap independensi penegakan hukum, serta alternatif kebijakan yang menjaga akuntabilitas tanpa mengorbankan fungsi kepolisian. Dengan pendekatan demikian, perdebatan berpindah dari retorika personal ke diskusi kebijakan yang lebih produktif dan informatif.

Penting untuk menegaskan bahwa setiap profesi memiliki martabat dan kontribusi yang berbeda namun setara dalam konteks kemanusiaan dan pembangunan. Petani, polisi, guru, tenaga medis, jurnalis, dan profesi lain saling melengkapi dalam ekosistem sosial. Menghormati martabat profesi lain, bukan hanya soal etika komunikasi, tetapi juga soal membangun kohesi sosial yang sehat. Ketika pejabat publik berbicara, pilihan kata mereka harus mencerminkan penghormatan terhadap pluralitas, peran tersebut agar wacana publik tetap inklusif dan bermartabat.

Pernyataan Kapolri yang menggunakan analogi menjadi petani sebagai bentuk penolakan terhadap jabatan menteri kepolisian membuka ruang refleksi tentang etika berkomunikasi pejabat publik. Kritik terhadap wacana kelembagaan Polri sah dan perlu, namun cara menyampaikan kritik harus menjaga martabat profesi lain dan mengedepankan argumen rasional. Dengan demikian, diskursus publik tentang reformasi kelembagaan dapat berlangsung lebih bermutu, berfokus pada substansi, dan tidak terjebak pada retorika yang memperuncing ketegangan sosial. Kepemimpinan yang bijak bukan hanya soal mempertahankan institusi, tetapi juga tentang menjaga kehormatan semua profesi yang membangun bangsa.

Penting diingat bahwa wacana kebijakan publik sebaiknya dibingkai oleh argumen rasional dan rasa hormat terhadap semua profesi. Retorika yang sensasional mungkin mengundang perhatian, tetapi jarang memperkaya substansi diskusi. Pejabat publik memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan keberatan dengan data, konsekuensi praktis, dan alternatif kebijakan yang jelas, sehingga publik dapat menilai isu secara objektif. Di sisi lain, masyarakat dan media perlu menuntut kualitas argumen, bukan sekadar efek retoris, demi menjaga martabat setiap profesi yang berkontribusi pada kesejahteraan bersama. Dengan pendekatan tersebut, perdebatan tentang reformasi kelembagaan dapat berubah menjadi proses pembelajaran kolektif yang konstruktif, beretika, dan berorientasi pada solusi bukan arogansi.

- Advertisement -

 

©Disclaimer: Artikel Ini Adalah Pendapat Dan Opini Penulis.

 

- Advertisement -

 

®Pitut Saputra 

About Author

Chanel7.id

Chanel7.id

See author's posts

TAGGED: Kapolri
Share this Article
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp LinkedIn Copy Link
Reaksi Pemirsa
Love0
Sad0
Happy0
Surprise0
Sleepy0
Cry0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Compress 20260128 041456 6082 Kepala Desa Gombang Sikapi Dengan Bijak Demo Warga: Kita Tidak Anti Kritik
Next Article Compress 20260128 214424 4180 Sinergi Polri dan Masyarakat: Polresta Cirebon Gelar Apel Supeltas
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

- Advertisement -

Follow

3.45M Like
34.92M Follow
123.4k Follow
193.5k Subscribe

Latest News

IMG 20260821 184203
PSN Serentak Desa Pereng: Bersama Memutus Rantai Nyamuk Penyebab DBD
Kesehatan Agustus 21, 2026
Chanel7.id 19
Wayang Kontemporer Semarakkan Hari Jadi Klaten dan HUT Kemerdekaan RI
Budaya Agustus 20, 2026
IMG 20260819 170320
Warga Banyuanyar Ditahan: Buntut Penipuan Pemberangkatan Haji di Surakarta
Kriminal Agustus 19, 2026
IMG 20260818 153814
Jejak Mataram di Jalan Pemuda: Karnaval Klaten 2026 Menyulam Sejarah dan Pembangunan
Daerah Agustus 18, 2026

Baca Juga

Chanel7.id 3 13
Opini

Mayday dan Perjuangan Pekerja Lintas Sektor

Mei 1, 2026 165 Views
IMG 20260414 WA0007
Opini

Upaya Sadar Pria Dalam Perencanaan Keluarga

April 13, 2026 7.8k Views
Compress 20260301 195423 3790
Opini

Praktisi Hukum Rembang Ingatkan Bahaya ASN Pimpin Ormas

Maret 1, 2026 9k Views
Compress 20260223 233212 2769
Opini

Catatan Kecil Warga Untuk Polri Terkait Upaya Memulihkan Wibawa Institusi

Februari 23, 2026 5.4k Views
Previous Next
Iklan
Iklan
Iklan

Media Chanel7.id & Chanel7.id/news, Diterbitkan Oleh PT Media Chanel Online, Adalah Portal Berita Nasional Dan Internasional, Bahkan Sampai ke Daerah, Yang Ada Diseluruh Indonesia.

Informasi Tentang Kami Silahkan Klik :

Email

Untuk Informasi Dan Layanan Lainnya Tentang Kami Klik Kontak Kami 

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum.
Koperasi Ikhlas Jaya Mandiri
Chanel 7Chanel 7
Follow US

©By. PT Media Chanel Online

  • Tentang Kami
  • ⚪Redaksi
  • Advertorial
  • Contact Us
  • Terms & Condition
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Forget Password

Register Lost your password?