KLATEN, CHANEL7.ID – Paguyuban grup Facebook Cah Delanggu di perantauan kembali mengagendakan sebuah gelaran acara yang sarat makna, kegiatan olahraga bersama dan nostalgia ini direncanakan akan digelar di Buperta (Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka) Cibubur, Jakarta Timur, pada Minggu pagi, 1 Februari 2026 mendatang. Dalam release panitia dijelaskan, inisiatif tersebut lahir dari semangat kolektif anggota Grup Facebook Cah Delanggu yang telah lama menjadi ruang berkumpul dan bertukar kabar antar perantauan. Lebih dari sekadar ajang berolahraga, kegiatan ini dirancang sebagai wadah pemersatu, tempat menautkan kembali tali silaturahmi yang mungkin merenggang oleh jarak, waktu dan kesibukan hidup di perantauan (30/01/2026).
Lukman, salah satu admin grup Facebook Paguyuban Cah Delanggu yang beranggotakan kurang lebih 28.000 anggota dan kini berdomisili di Jakarta, saat dikonfirmasi via sambungan seluler menegaskan bahwa tujuan utama acara adalah mempererat hubungan antar warga Delanggu yang merantau, sekaligus membuka ruang pertemanan bagi perantauan dari daerah lain. Dalam perbincangan singkatnya, Lukman menekankan bahwa rasa rindu terhadap kampung halaman seringkali muncul dalam bentuk sederhana, permainan anak-anak, makanan tradisional, dan lagu-lagu yang mengiringi masa kecil. Dengan menghadirkan elemen-elemen itu, panitia berharap, nantinya peserta tidak hanya pulang dengan badan yang lebih sehat, tetapi juga dengan hati yang lebih hangat.
Konsep acara memadukan olahraga ringan dengan permainan tradisional tempo dulu. Disamping jalan pagi, fun bike dan senam bersama, para peserta juga akan diajak bermain kasti, gobak sodor, dan benthik, sebuah permainan yang mungkin sudah jarang terlihat di lapangan kota. Kasti mengajarkan kerjasama dan strategi sederhana, gobak sodor menguji ketangkasan dan keberanian, sementara benthik, dengan kayu dan teknik menangkap yang khas, menghadirkan sensasi kompetisi yang riang. Semua permainan dirancang untuk dinikmati bersama, tanpa tekanan kompetisi yang berlebihan. Panitia menegaskan bahwa tidak ada menang dan kalah dalam kompetisi, yang menjadi tujuan utama untuk dicari adalah tawa, kenangan, dan kebersamaan.
Selain permainan, acara ini turut menampilkan jajanan dan kuliner tempo dulu yang kini semakin sulit ditemukan terlebih di perantauan. Penyelenggara berupaya menghadirkan cita rasa kampung, dari kue tradisional, kuliner jadul Nasi Tumpang, Soto Garingan, hingga camilan khas yang mengingatkan pada pagi dan sore di halaman rumah. Bagi banyak peserta, mencicipi kembali makanan-makanan itu bukan sekadar memuaskan lidah, melainkan juga membuka kembali memori, suara panggilan ibu, aroma dapur, suasana pagi trotoar Delanggu dan percakapan ringan dengan tetangga. Jajanan kuliner ini menjadi jembatan rasa yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Suasana nostalgia akan semakin lengkap dengan alunan hiburan musik orgen tunggal. Musik yang mengalun akan menjadi latar bagi peserta yang ingin bernyanyi bersama atau sekadar duduk santai menikmati quality time bersama keluarga. Kehadiran orgen tunggal memberi nuansa sederhana namun hangat, mengundang orang-orang untuk ikut serta tanpa beban. Bagi yang membawa anak kecil, acara ini menjadi kesempatan emas memperkenalkan permainan tradisional dan budaya kampung kepada generasi muda yang tumbuh di kota besar.
Panitia mengingatkan peserta untuk mempersiapkan diri secara praktis, menghubungi kontak reservasi yang telah disediakan panitia, membawa baju ganti karena permainan bisa membuat badan berkeringat, bercucuran air dan tanah, serta kesiapan menghadapi cuaca yang tak menentu. Rintik gerimis yang syahdu bukanlah halangan, justru menurut panitia penyelenggara, hujan ringan dapat menambah nuansa nostalgia, mengingatkan pada pagi dan sore ketika anak-anak bermain di halaman, meski tanah menjadi becek. Pesan yang disampaikan tegas, ini bukan soal basah atau kotor, melainkan soal memutar kembali kenangan nostalgia dalam bentuk yang lebih menantang dan nyata.
Acara ini juga menyentuh dimensi emosional yang lebih dalam. Di saat usia terus bergerak, ikatan emosi dan kenangan seringkali muncul kembali dalam bentuk nyata, percakapan hangat, canda tawa, dan sentuhan sederhana yang mengingatkan pada masa lalu. Bagi perantauan, momen seperti ini menjadi obat rindu sekaligus pengingat bahwa akar dan identitas tetap ada, meski jarak dan waktu memisahkan. Berkumpul bersama sesama warga Delanggu membuka ruang untuk berbagi cerita hidup, pengalaman merantau, dan harapan ke depan.
Untuk menambah semarak, panitia menyiapkan doorprize menarik seperti kompor gas, magic jar, dan coffee maker. Hadiah-hadiah ini bukan tujuan utama, melainkan bonus kecil yang menambah kegembiraan. Yang lebih penting adalah kesempatan bertemu, berbicara, dan merajut kembali jaringan sosial yang mungkin sempat longgar. Panitia berharap setiap peserta pulang dengan perasaan lebih ringan, kenangan baru, dan semangat untuk menjaga hubungan antar warga di perantauan.
Lukman admin grup Cah Delanggu menegaskan bagi siapapun yang ingin hadir, pesan sederhana disampaikan, “Datanglah dengan hati terbuka, siap bermain, dan siap bernostalgia. Bawa baju ganti, ajak keluarga, dan siapkan diri untuk bermain dolanan jadul, yang mungkin membuat tubuh lelah namun hati penuh kebahagiaan. Apapun dengan cuacanya, jangan berkecil hati, nikmati dan syukuri setiap momen. Kegiatan ini bukan sekadar reuni, melainkan perayaan kecil atas identitas bersama, sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan perantauan, ada ruang untuk pulang, meski hanya sejenak, ke akar yang memberi bentuk dan makna pada siapa kita.” paparnya
Akhirnya Lukman, beberapa admin grup, beserta segenap kepanitiaan penyelenggara mengucapkan selamat bergabung bagi seluruh anggota Cah Delanggu di perantauan manapun. Sampai berjumpa di Buperta Cibubur pada Minggu pagi, 1 Februari 2026, persiapkan sepatu, baju ganti, dan cerita-cerita lama yang siap dibagikan kembali, jangan lupa ajak keluarga agar bisa semakin mengenal dan saling menambah persaudaraan.
®Pitut Saputra

