BOYOLALI, CHANEL7.ID
Merbabu Art Fest 2026 di Simpang Siaga Boyolali berlangsung meriah sore hingga malam hari ini, menampilkan beragam performer dan pentas seni yang menarik perhatian ribuan penonton. Acara yang digelar sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Kabupaten Boyolali ke-179 ini bukan sekadar hiburan, ia menjadi wujud kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku seni untuk memperkuat identitas budaya serta mendorong geliat pariwisata lokal (05/06/2026).
Inisiatif penyelenggaraan festival ini bermula dari masyarakat Desa Sampetan melalui Yayasan Merbabu Paku Nusantara. Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali, Budi Prasetya Ningsih, sejak tahun pertama hingga kelima kegiatan masih terpusat di Sampetan. Pada penyelenggaraan keenam, skala festival diperluas hingga merambah pusat kota Boyolali dengan harapan tumbuh menjadi ikon event nasional. Budi menegaskan “Merbabu Art Fest awalnya merupakan inisiatif masyarakat Desa Sampetan yang digagas melalui Yayasan Merbabu Paku Nusantara. Dari tahun pertama sampai kelima, kegiatan masih terpusat di wilayah Sampetan. Namun pada penyelenggaraan tahun keenam ini skalanya diperluas, tidak hanya di desa tetapi juga merambah pusat Kabupaten Boyolali. Harapannya kedepan bisa menjadi ikon event nasional.” ujar Budi.
Rangkaian kegiatan festival ini dijadwalkan berlangsung dari 5 Juni hingga 22 Agustus 2026 mendatang, setelah 4 Juni kemarin dibuka dengan giat Niti Tilas yang dikolaborasikan dengan peringatan Hari Jadi Boyolali. Napak tilas menjadi momen refleksi sejarah sekaligus pengikat komunitas, mengajak warga menapaki jejak budaya dan nilai-nilai lokal. Pada 5 Juni, panggung pertunjukan opening resmi dibuka di Simpang Siaga, menampilkan pertunjukan musik, tari, dan seni pertunjukan lain yang memikat berbagai kalangan usia.
Selain panggung utama di Simpang Siaga, sejumlah agenda tetap berlangsung di Desa Sampetan. Di sana akan digelar pameran seni rupa, kegiatan bersih kali, serta pertunjukan tari rakyat. Pameran seni rupa direncanakan berlangsung cukup panjang, dari Juni hingga Agustus, memberi ruang bagi seniman lokal untuk memamerkan karya dan berinteraksi langsung dengan publik. Kegiatan bersih kali dan penanaman pohon di lereng Gunung Merbabu menunjukkan komitmen festival terhadap pelestarian lingkungan, menegaskan bahwa pariwisata budaya harus berjalan beriringan dengan kepedulian ekologis.
- Advertisement -
Penutupan festival direncanakan akan digelar meriah di Stadion Pandanaran Boyolali, menghadirkan sejumlah musisi ternama seperti Denny Caknan dan Niken Salindry, serta penampil lain seperti Ajeng Febria, Wahyu Arian, dan Abah Lala. Kehadiran musisi populer ini diharapkan menarik audiens lebih luas dan memberi panggung bagi kolaborasi antara musisi nasional dan talenta lokal. Namun, Merbabu Art Fest tidak hanya menitikberatkan pada nama besar, festival juga menjadi ruang bagi peluncuran karya baru, baik lagu maupun karya seni rupa, sehingga memberi peluang bagi seniman untuk berkembang.
Pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan dukungan penuh dengan mengkolaborasikan sejumlah kegiatan seperti Festival Soto, karnaval budaya, napak tilas, hingga Festival Tungguk Tembakau. Dukungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari strategi untuk menciptakan efek berantai ekonomi: meningkatnya kunjungan wisatawan akan membuka peluang usaha kuliner, kerajinan, dan jasa lokal sehingga kesejahteraan warga dapat terdongkrak. Budi menambahkan bahwa pengembangan pariwisata harus mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya dan alam.
Founder Merbabu Art Fest, Harmoko, menekankan bahwa festival ini lahir dari inisiatif komunitas dan karang taruna Desa Sampetan. Semangat gotong royong dan kreativitas lokal menjadi roh acara, sehingga setiap program dirancang untuk memberdayakan pelaku seni dan komunitas setempat. Harmoko menyampaikan harapannya secara tegas “Merbabu Art Fest bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga ruang bagi para seniman untuk meluncurkan karya, baik lagu maupun karya seni lainnya. Kami ingin orang mengenal Boyolali bukan hanya karena susu atau kerajinan tembaga, tetapi juga karena event seni budaya berskala besar.” tegasnya.
Dari perspektif kebudayaan, Merbabu Art Fest menawarkan platform untuk melestarikan tarian rakyat, musik tradisional, dan praktik budaya lain yang kerap terpinggirkan. Festival ini memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkolaborasi, dan meneruskan tradisi dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Dari sisi lingkungan, kegiatan penanaman pohon di lereng Merbabu dan aksi bersih kali menunjukkan integrasi antara seni dan tanggung jawab ekologis, menegaskan bahwa perayaan budaya juga harus menjaga keberlanjutan alam.
Secara ekonomi, festival membuka ruang bagi UMKM lokal untuk memasarkan produk, memperluas jaringan, dan belajar mengelola event skala lebih besar. Kehadiran pengunjung dari luar daerah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap kuliner khas, kerajinan tangan, dan layanan pariwisata lokal, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
- Advertisement -
Merbabu Art Fest adalah contoh bagaimana inisiatif akar rumput dapat tumbuh menjadi gerakan budaya yang inklusif dan berdampak luas. Dengan dukungan pemerintah, keterlibatan komunitas, dan partisipasi seniman, festival ini berpotensi menjadi magnet wisata budaya yang mengangkat nama Boyolali ke panggung yang lebih luas. Jika dikelola berkelanjutan, Merbabu Art Fest bukan hanya merayakan Hari Jadi Kabupaten Boyolali ke-179, tetapi juga menegaskan komitmen kolektif untuk menjaga, merayakan, dan mengembangkan warisan budaya serta alam bagi generasi mendatang.
@ Pitut Saputra

