NAGEKEO, CHANEL7.ID – Ruas Jalan Pantai Utara (Pantura) Flores di Dusun Kaburea, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, terus menjadi sorotan publik. Pasalnya, jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer itu dinilai sebagai salah satu ruas jalan terburuk di Pulau Flores selama lebih dari empat dekade terakhir.
Ironisnya, kondisi ini terjadi meskipun ruas tersebut telah mendapat sentuhan proyek rehabilitasi pada tahun 2021 oleh PT Surya Agung Kencana (SAK) dengan sub pekerjaan Rehabilitasi Ruas Jalan Aeramo–Kaburea senilai Rp 12,9 miliar. Dana proyek itu bersumber dari BTS KAB Pinjaman Daerah PT. SMI. Namun, hasil rehabilitasi yang diharapkan memperbaiki akses warga justru memunculkan kekecewaan karena ruas jalan di Dusun Kaburea hanya dipasang Urpil (Urukan Pilihan), bukan lapisan aspal.
Direktur PT SAK, Gabriel Toda sebelumnya telah menjelaskan bahwa, proyek rehabilitasi ruas jalan Aeramo-Kaburea mencakup dua segmen pekerjaan, yakni pengaspalan dan urpil. Dari total panjang proyek, 8.450 meter dikerjakan dengan pengaspalan, sementara 1.250 meter khusus di ruas Dusun Kaburea hanya berupa urpil.
“Paket pekerjaan Aeramo–Kaburea tahun 2021 terdiri dari pekerjaan aspal sepanjang 8.450 meter dan pekerjaan urpil sepanjang 1.250 meter yang berada di ruas jalan pantura Dusun Kaburea,” jelas Gabriel Toda.
- Advertisement -
Ia juga menegaskan bahwa seluruh tahapan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Proyek tersebut, kata Gebi lagi, telah melalui Provisional Hand Over (PHO), Final Hand Over (FHO), dan juga diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Pekerjaan sudah di-PHO, FHO, dan diaudit BPK. Artinya, semua tahapan administrasi dan teknis sudah sesuai dengan aturan yang berlaku,” tambahnya.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Jalan yang hanya diuruk itu kini kembali rusak parah, berlubang di banyak titik, dan sulit dilalui kendaraan, terutama saat musim hujan. Warga menilai pemerintah provinsi seolah “tutup mata” terhadap penderitaan masyarakat di wilayah pantura Nagekeo yang bertahun-tahun menantikan akses jalan layak.
Aktivis sosial sekaligus wartawan senior Nagekeo, Bernadus Sapu dengan tegas menyoroti sikap lamban Pemerintah Provinsi NTT dalam menangani kerusakan tersebut.
“Selama puluhan tahun masyarakat pantura berjuang agar jalan ini diaspal, tapi yang terjadi justru hanya urukan yang sekarang hancur lagi. Pemerintah provinsi seolah tidak peduli. Kami merasa dianaktirikan,” ujar Bernad dengan nada kecewa.
- Advertisement -
Ia juga meminta agar Pemprov NTT segera turun tangan meninjau langsung kondisi di lapangan. Kondisi memprihatinkan ruas Pantura di Kaburea ini menambah panjang daftar jalan rusak di wilayah utara Flores yang belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Masyarakat hanya bisa berharap agar janji pemerataan pembangunan tidak sekadar menjadi slogan tanpa bukti nyata.
“Jangan hanya mengandalkan laporan administrasi. Turun dan lihat sendiri bagaimana penderitaan warga setiap hari melewati jalan ini,” tegasnya.
- Advertisement -
®M Yasin

