CIREBON, CHANEL7.ID – Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2023 di Desa Luwung Kencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, menjadi sorotan publik. Sejumlah warga mengeluhkan ketidakjelasan distribusi bantuan tersebut, hingga berujung laporan ke Polresta Cirebon.
Kasus ini mencuat setelah puluhan lansia Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mengaku tidak menerima bantuan yang seharusnya menjadi hak mereka. Situasi ini berujung pemeriksaan saksi-saksi oleh Unit Tipidkor Polresta Cirebon di Polsek Susukan. Pemeriksaan tersebut dilakukan atas permintaan warga, mengingat banyak saksi yang merupakan lanjut usia (lansia).
“Kami meminta kepada pihak kepolisian agar pemeriksaan lansia dilakukan di Polsek Susukan saja. Alhamdulillah, Polresta Cirebon memberikan pelayanan yang baik melalui Unit Tipidkor yang bersedia memeriksa saksi-saksi di Polsek. Terima kasih juga kepada Polsek Susukan atas fasilitas yang diberikan,” ujar salah satu warga berinisial CR.
Keluhan Lansia dan Lambannya Penyaluran BLT DD Salah satu lansia penerima BLT DD, Ys (75), mengungkapkan kekecewaannya karena belum menerima bantuan tersebut meski namanya tercantum dalam daftar penerima.
“Nama saya ada, tapi uang bantuan tidak pernah saya terima sampai sekarang. Saya bingung, entah dikemanakan uang itu,” keluh Ys saat ditemui di Polsek Susukan.
Ys juga menuturkan bahwa warga sempat menggelar demonstrasi beberapa bulan lalu untuk mempertanyakan transparansi aliran BLT DD kepada pemerintah desa. Namun, penyaluran BLT DD Tahun Anggaran 2023 baru dilakukan pada tahun 2024, dengan dirinya hanya menerima Rp300 ribu pada September 2024.
“Saya kecewa. Penyalurannya lamban, sudah masuk tahun 2024 tapi belum jelas. Harus ada tanggung jawab dan penindakan tegas,” ujar Ys.
Ys menegaskan pentingnya program BLT DD bagi masyarakat kecil seperti dirinya yang sudah lanjut usia. “Bantuan ini sangat berarti, meski sedikit, kami yang kecil ini sangat membutuhkannya untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Hal serupa diungkapkan Taryem (70), lansia lainnya, yang mengaku belum menerima bantuan meski namanya tercantum sebagai penerima. “Saya tidak dapat bantuan apa-apa, bahkan rumah mau roboh. Tetangga dapat beras, saya tidak,” ungkapnya dengan nada lirih.
Selain lansia, Karmini (42), warga lainnya, juga menyatakan belum pernah menerima bantuan tersebut dalam tiga tahun terakhir. “Katanya data saya ada, tapi saya tidak pernah dapat apa-apa,” tuturnya.
Tidak sedikit warga berharap dan mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini agar hak masyarakat kecil tidak terabaikan.
®Hadiyanto


Sangat bermanfaat! Tulisan ini memberikan banyak pengetahuan baru.