KLATEN, CHANEL7.ID – Di tengah denyut kehidupan modern, desa menjadi ruang yang seringkali terlupakan dalam sorotan arus utama pembangunan. Namun, Desa Tjokro di Jawa Tengah menolak untuk menjadi sekadar latar belakang. Melalui perhelatan budaya bertajuk “Sambang Desa”, yang digelar pada 13 Juli 2025, Pemdes Tjokro bersama Amigo Group dan sinergi Pentahelix membuktikan bahwa desa bukan hanya ruang tinggal, tetapi juga ruang berkarya, ruang belajar, dan ruang merayakan nilai-nilai yang membentuk identitas kita sebagai bangsa (13/07/2025).
Acara yang berlangsung di kawasan wisata sungai dan mata air Tjokro ini menghadirkan wajah desa yang dinamis, inklusif, dan penuh kreativitas. Dimulai sejak pagi hari, kegiatan Senam Sehat Umum melibatkan mahasiswa KKN dari UNNES bersama ibu-ibu PKK. Ini bukan hanya soal menjaga kebugaran, melainkan simbol awal dari keterlibatan lintas generasi dalam gerakan sosial budaya yang bermakna. Kehangatan interaksi dan keceriaan peserta menandai bahwa desa sedang menyambut masa depan dengan tangan terbuka.
Usai senam, tradisi bancaan dan doa bersama menjadi ritual pembuka penuh makna. Para sesepuh melantunkan doa di sungai Pusur, menghubungkan spiritualitas, ekologi, dan sejarah dalam satu peristiwa. Bancaan nasi khas Jawa, yang kemudian disajikan, menyiratkan syukur kolektif atas berkah hidup dan keteguhan menjaga tradisi. Tradisi ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan sejati harus berakar pada kearifan lokal.
Kemeriahan terus berlanjut dengan pembukaan Live Cooking Class dan Lomba Mewarnai Anak, yang menarik partisipasi pelajar, ibu-ibu, dan pengunjung secara spontan. Anak-anak TK dan PAUD menempati joglo bawah, sedangkan anak SD berada di lantai dua, masing-masing fokus dalam dunia warna dan kreativitas mereka. Di dapur, ibu-ibu PKK bersama Cook Art & Cold Kitchen Marcus Setiawan menjalani sesi memasak yang bukan sekadar belajar resep, tetapi juga belajar merawat solidaritas perempuan dalam ruang produktif.
- Advertisement -
Komunitas disabilitas, yang tampil sebagai pemusik, membawa suasana haru sekaligus inspiratif. Dengan irama yang mereka hasilkan, pesan inklusi menggema tanpa perlu pidato panjang. Mereka tidak hanya mengisi ruang, tapi menjadi pusat perhatian yang menyentuh hati, membuktikan bahwa akses terhadap ruang budaya harus dibuka untuk semua kalangan.
Di pelataran luar Joglo Latar Tjokro, hiruk-pikuk bazar mulai menggeliat. Stand kuliner, kerajinan UMKM, sembako, dan fashion menjadi medan interaksi ekonomi dan sosial. Aroma masakan tradisional dan modern berpadu menciptakan suasana yang menggoda selera, sekaligus menjadi perwujudan kekayaan cita rasa lokal. Pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga untuk mengalami suasana desa yang hidup.
Puncak kemeriahan hadir saat fashion show digelar. Talent lokal melenggang di atas catwalk, memamerkan busana yang memadukan estetika tradisi dan sentuhan kontemporer. Musik dari komunitas disabilitas yang mengiringi membuat peristiwa ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi ekspresi kebanggaan kolektif terhadap budaya lokal. Di sinilah terlihat, bahwa desa tak kalah dengan panggung metropolitan, desa Tjokro punya cara sendiri untuk tampil mempesona.
Apa yang tersaji dalam perhelatan ini bukan hasil dari dana besar atau promosi masif. Sebagaimana disampaikan oleh Heru Budi Santosa, tujuan utama bukan kemewahan, melainkan membangkitkan potensi terpendam yang dimiliki Desa Cokro agar bisa dikenal publik secara luas. Sinergitas antar unsur Pentahelix, pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media, menjadi elemen kunci suksesnya acara ini. Ketika masing-masing pihak tidak berlomba eksis, tetapi saling menguatkan, maka output-nya bukan hanya event budaya, melainkan ekosistem kolaboratif yang berkelanjutan.
Dalam konteks pembangunan desa, Sambang Desa menjadi manifestasi konkret dari gagasan dari desa untuk Indonesia. Acara ini mematahkan stigma bahwa kegiatan di desa hanya bersifat lokal dan minim apresiasi. Sebaliknya, antusiasme pengunjung yang membludak membuktikan bahwa masyarakat haus akan ruang budaya yang menyegarkan dan berakar pada identitas sendiri.
- Advertisement -
Sambang Desa bukan hanya selebrasi sehari, tetapi benih untuk masa depan. Ia menunjukkan bahwa pariwisata desa tidak harus bergantung pada fasilitas mewah, melainkan bisa tumbuh dari narasi-narasi autentik, interaksi yang tulus, dan partisipasi masyarakat. Kebahagiaan kolektif, semangat gotong royong, dan keberanian untuk bermimpi telah menjadikan Joglo Latar Tjokro lebih dari sekadar tempat. Ia menjadi simbol perubahan sekaligus laboratorium sosial dan budaya, sebuah oase kreatif di tengah masyarakat pedesaan yang beragam kultur.
Melalui perhelatan ini, Desa Tjokro tak hanya mempertontonkan atraksi budaya, tetapi mengajukan tawaran, bahwa pembangunan desa bisa dijalankan dengan semangat inklusif, berbasis budaya, dan didorong oleh kolaborasi. Sambang Desa telah mengubah perspektif publik, dari pesimisme menjadi harapan, dari keraguan menjadi keyakinan. Hal tersebut nampak jelas dari kenyataan yang ada bahwa kegiatan sukses digelar dan mendapat animo yang luar biasa dari publik.
Perhelatan ini masih berlangsung hingga berita ini diturunkan, bagi masyarakat dan publik yang penasaran bisa melihat langsung ke Joglo Latar Tjokro sekaligus menjadi saksi dan ikut ambil bagian dalam upaya pengembangan potensi Desa Wisata Rintisan Tjokro. Datang dan saksikan keseruan kegiatan di Joglo Latar Tjokro sekarang juga.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

