KLATEN, CHANEL7.ID – Di sudut Desa Kuncen RT 04 RW 03, Delanggu, Klaten. Gapura bergaya Bali yang dulu terpendam dan terlupakan, kini kembali hidup. Peninggalan property outdoor eks Studio Foto Widuri tersebut kini menjadi wajah baru desa, mengundang siapapun untuk singgah, tersenyum, dan mengabadikan momen. Bukan sekadar gerbang, ia menjadi simbol kebangkitan jiwa gotong royong warga dan peluang ekonomi yang tumbuh dari kesederhanaan (31/07/2025)
Setiap sore, suasana senja di sekitar gapura berubah menjadi panggung kebahagiaan. Anak-anak dan , remaja berfoto berlatar arsitektur khas Bali, sembari bermain permainan tradisional dan orang tua berkisah tentang masa muda mereka. Suasana pedesaan berpadu dengan nuansa eksotis, menciptakan sensasi nostalgia yang hangat dan mengundang decak kagum pengunjung lokal maupun dari luar desa.
Di balik keramaian itu, Suroto, pegiat kreatif RT 04, menyimak dengan seksama. ini bukan hanya pemanis desa. “Ini adalah langkah sederhana yang memantik rantai manfaat bagi seluruh warga,” tutur Suroto dengan mata berbinar. Opini Suroto menjadi gambaran dasar narasi baru Desa Kuncen, yang menekankan makna di balik renovasi fisik.
Menurut Suroto, gapura style Bali tersebut, telah membuka lahan ekonomi mikro yang selama ini terpendam. Di sebelah selatan gerbang, angkringan hik dan warung wedangan menjadi titik kumpul baru. “Pengunjung yang menanti anaknya berfoto otomatis singgah, mencicipi wedang jahe dan camilan khas Klaten. Itu berarti tambahan omzet untuk pedagang kecil,” jelas Suroto.
- Advertisement -
Lebih jauh, warga lokal juga merasakan efek domino positif, dengan semakin seringnya intensitas pengunjung yang penasaran dan hadir, semakin membuka gerbang komunikasi, persaudaraan dan jalinan silaturahmi yang lebih luas, insight berupa masukan dan ide-ide cerdas juga mengalir dari pihak luar demi perbaikan dan pembangunan desa berkelanjutan kedepan, jajanan tradisional kini makin laris diborong pengunjung. Promosi gratis dari para wisatawan yang mengupload hasil swafoto lewat media medsos dan platform sosial online membuat taman desa makin melejit karena latar gapura yang ikonik. Inilah eksposur gratis yang tak ternilai tersebut, yang semakin membuat lebih banyak orang yang penasaran dan datang ke taman pojok kreatif, ini merupakan fakta hasil dari kesederhanaan satu gerbang yang direvitalisasi.
Suroto menyoroti bagaimana gapura ikonik tersebut menciptakan ruang publik baru, Taman Pojok Kreatif. Konsepnya sederhana, memanfaatkan lahan kosong untuk taman, bangku bersantai sharing, dan pepohonan rindang. “Setiap sore, warga duduk bersama, bertukar cerita, ide, dan rencana kegiatan. Dari obrolan santai itu lahir inisiatif pelatihan anyaman hingga upaya menjaga kebersihan lingkungan, bank sampah kreatif, pembuatan wahana tradisional anak dan banyak lagi masukan positif,” ungkapnya.
Tak hanya warga, pengunjung pun ikut ambil bagian. Warga lokal sekitar dan mahasiswa dari klaster pendidikan di Klaten tak jarang ikut menjenguk dan nimbrung sembari berkumpul, menawarkan kolaborasi, menggagas acara seni dan workshop lingkungan. Jejaring antargenerasi makin terjalin erat. “Inilah modal sosial yang luar biasa. Prasarana sederhana membuka pintu dialog lintas usia dan profesi,” tegas Suroto.
Bagi Suroto, gapura style Bali adalah medium edukasi sejarah desa. Ia mengingatkan pada masa kejayaan Studio Foto Widuri, yang menjadi tempat dokumentasi kehidupan warga. Gapura itu seakan berbicara, mengundang generasi muda belajar tentang tradisi fotografi analog, kisah cinta, dan pertemuan sosial era masa lampau.
“Kita tidak hanya mengenang, tetapi menghidupkan kembali narasi lokal,” tambahnya. Mungkin ke depan bila ada biaya kita bisa menambahkan lewat papan informasi dan penataan sudut cerita, setiap pengunjung dapat membaca sejarah singkat studio, sketsa produksi foto, bahkan mendengar rekaman wawancara eksklusif dengan pendiri studio, ataupun alasan pemilihan beragam patung satwa yang ada disekitar, serta banyak lagi. Ini inovasi sederhana yang berdampak besar pada pelestarian budaya dan edukasi.
- Advertisement -
Pembangunan gapura ini memang tidak melibatkan kontraktor megah. Warga desa hanya bergotong royong, mengecor, memasang ornamen, dan mengecat ulang patung satwa sekitar gerbang. “Namun istimewanya adalah dari ibu-ibu hingga bapak-bapak, juga beberapa perangkat desa hingga remaja muda mudi desa, semua ambil bagian,” kata Suroto bangga.
Proses ini mengukuhkan rasa kepemilikan kolektif. Keringat dan tawa terjalin, membentuk solidaritas. Hasilnya bukan hanya fisik gapura, melainkan semangat toleransi dan kebersamaan yang menjalar ke setiap sudut desa. Bagi Suroto, itulah inti kesederhanaan, bekerja bersama untuk mewujudkan mimpi bersama.
Berbarengan dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, gapura style Bali ini menjadi hadiah istimewa bagi warga RT 04. Persiapan menjelang 17 Agustus 2025 diwarnai pemasangan bendera, umbul-umbul, dan penyempurnaan wahana permainan tradisional. “Meski dana swadaya terbatas, gotong royong membuat segalanya terasa lebih bermakna,” ujar Suroto.
- Advertisement -
Semarak peringatan tidak lagi terpaku pada lapangan upacara semata. Zona wisata kecil di sekitar gapura menghadirkan lomba foto, lomba permainan tradisional dan mungkin hiburan musik sederhana, Bila semua terkoordinasi secara baik maka kemandirian oleh warga, akan semakin terasa hidup lagi. “ jelasnya
Suroto optimis Suroto seakan memperlihatkan, momentum revitalisasi gapura akan membuka lebih banyak peluang. Dia mengatakan banyak program yang bisa dirangkai setiap bulan atau Minggu, di depan pelataran gapura tersebut, senam sehat anak, muda mudi, ibu-ibu PKK dan bapak bapak diikuti pameran fotografi lokal, serta pelatihan dan workshop-workshop kerajinan sederhana bisa makin menggairahkan warga desa. “Kita butuh kontinuitas, tidak hanya satu gapura, tetapi ekosistem wisata desa yang inklusif,” paparnya.
Tantangan terbesar adalah menjaga semangat kolaborasi. Dana operasional, perawatan infrastruktur, dan pelibatan generasi muda memerlukan manajemen berkelanjutan. Suroto juga mengusulkan pembentukan semacam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) formal, agar setiap inisiatif tercatat, pendanaan terjaga, dan peran warga terdefinisi jelas.
Revitalisasi Gapura Bali eks Foto Studio Widuri menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat mengalirkan manfaat besar. Dengan visi Suroto dan semangat warga RT 04, gapura itu kini menjadi gerbang kenangan, pintu peluang ekonomi, dan ruang interaksi lintas generasi.
Lebih dari batu dan ukiran, ia adalah cermin kearifan lokal yang hidup, wujud nyata gotong royong, dan ajakan untuk merayakan masa lalu sambil membangun masa depan. Semoga desa-desa lain terinspirasi untuk menggali potensi sederhana mereka, menenun kisah bersama, dan menatap hari esok dengan optimisme yang sama.
®Pitut Saputra

