KLATEN, CHANEL7.ID – Dalam setiap sudut ruang kelas tersembunyi sebuah cerita yang tak pernah seharusnya terjadi. Bullying, baik dalam bentuk kata-kata yang tajam maupun perilaku nonverbal, menggores luka di hati dan pikiran anak-anak kita. Bayangkan, di tengah keceriaan masa kecil, terpendam bayang-bayang kekerasan yang dapat mengikis semangat belajar dan menumbuhkan benih-benih kegelapan dalam jiwa. Kini, sudah saatnya kita bersama-sama menyudahi kepiluan itu dan menciptakan pelukan hangat bagi setiap anak di sekolah dasar melalui sinergi yang menginspirasi (31/05/2025).
Prabowo Sigit Leader Team Program Yupi Let’s Speak Up mengatakan “Data mencatat bahwa sejak tahun 2021 hingga 2024, ribuan laporan kekerasan di lingkungan sekolah terus berdatangan, termasuk puluhan kasus perundungan di sekolah dasar. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan suara-suara kecil yang menjerit dalam diam, menyuarakan ketidakadilan yang harus segera dihentikan. Begitu banyak anak yang harus menelan pahitnya ketakutan dan cemas, bahkan sebelum mereka sepenuhnya memahami arti dunia di sekelilingnya. Inilah waktu yang tepat bagi kita untuk menyatukan hati, pikiran, dan tindakan, demi memastikan setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih, dan kreatif.” terangnya
Melalui inisiatif program “Yupi Let’s Speak Up” Permen Yupi menggelar sosialisasi Bullying pada anak Sekolah Dasar, kita mengajak seluruh elemen, pemerintah, guru, orang tua, komunitas, dan tentu saja para pelaku perubahan kecil itu, untuk bersama-sama mematahkan rantai perundungan. Program ini dirancang dengan hati yang tulus, menyasar untuk memberikan ruang bagi anak-anak agar bisa mengungkapkan perasaan dan cerita mereka tanpa rasa takut. Di balik manisnya produk Permen Yupi, yang sudah resmi mendapat sertifikasi Halal, terselip pesan keberanian untuk berbicara, menolak ketidakadilan, dan membangun penerimaan yang mendalam terhadap perbedaan. Inilah simbol kecil yang diharapkan menginspirasi langkah besar menuju dunia pendidikan yang lebih manusiawi dan suportif.” papar Sigit
Ditekankan pula oleh Sigit “Kegiatan-kegiatan interaktif yang dihadirkan dalam program ini tidak sekadar menyuguhkan materi edukatif, melainkan juga menghadirkan pengalaman yang menyentuh dan menyemangati. Di ruang kelas yang diubah menjadi arena kreativitas, para siswa diajak untuk bermain peran, berdiskusi, dan berbagi cerita. Melalui workshop dan permainan edukatif, mereka belajar mengenali apa itu bullying dan bagaimana cara menghadapinya dengan kepala tegak. Guru, orang tua, dan komunitas turut aktif mendampingi, menyulut semangat kebersamaan dan saling mendukung. Setiap senyum dan tawa yang terukir di wajah anak-anak menjadi bukti bahwa perubahan itu mungkin, dimulai dari sebuah keberanian kecil untuk mengatakan “cukup” dan akhirnya hal ini bisa berdampak pada semakin minimnya tindak Bullying.” ujarnya.
Tak hanya itu, “Program ini juga menjadi jembatan penghubung antara dunia pendidikan dan dunia nyata. Dengan menggandeng media partner dan mengintegrasikan kegiatan sampling produk Permen Yupi, pesan anti-bullying diharapkan bisa tersebar luas, sehingga tidak hanya memberi dampak pada korban, tetapi juga mengedukasi pelaku dan menyentuh hati para saksi. Langkah strategis ini menguatkan posisi sekolah sebagai institusi yang peduli terhadap kualitas kehidupan emosional siswanya. Setiap interaksi, setiap kegiatan bersama, adalah benih yang ditanam untuk menumbuhkan budaya saling menghargai dan mengikis segala bentuk kekerasan.” tegasnya.
“Hasil yang diperoleh tak hanya sebatas peningkatan kesadaran, melainkan juga perubahan nyata. Anak-anak yang pernah terperangkap dalam siklus perundungan kini belajar untuk berdiri, menyuarakan pendapatnya, dan menghargai perbedaan. Sekolah-sekolah yang konsisten mengimplementasikan nilai-nilai ini pun mendapatkan apresiasi, tidak hanya dari masyarakat, melainkan juga dari dunia pendidikan yang lebih luas. Program ini, yang berpijak pada prinsip inklusivitas dan empati, mensinergikan peran setiap pihak, mulai dari pengelola sekolah, guru yang teladan, hingga orang tua yang penuh perhatian, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang bebas dari intimidasi dan diskriminasi.” Jelas Sigit.
“Di balik semangat perjuangan ini, tersimpan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa. Dengan ditanamkan nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan kasih sayang sejak dini, mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh, inovatif, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Upaya kita hari ini akan mengubah cerita kelam menjadi kisah inspiratif, di mana setiap langkah kecil menyatu menjadi langkah besar menuju masa depan yang lebih cerah. Mari kita tumbuhkan benih keberanian dalam setiap hati anak, agar tidak ada lagi ruang bagi rasa takut dan ketidakpastian.” terangnya dengan optimis.
“Saatnya kita berdiri bersama, menghapuskan perundungan, dan mengukir masa depan di mana setiap anak merasa aman, dihargai, dan dicintai. Dengan dukungan Permen Yupi sebagai katalisator semangat, inilah momentum untuk berkolaborasi mewujudkan lingkungan sekolah yang penuh cinta, di mana setiap perbedaan tidak lagi memecah belah, melainkan menyatukan. Mari satukan hati dan kerja nyata, karena dalam sinergi itulah terletak kekuatan untuk menciptakan perubahan sejati, perubahan yang tak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga mengilhami generasi mendatang untuk hidup dengan penuh integritas dan empati.” ujarnya.
Sigit juga berpesan pada semua pihak terkait “Bergabunglah dalam gerakan ini. Mari bersama kita ciptakan ruang di mana setiap anak dapat meraih mimpinya tanpa dibayangi ketakutan. Dengan langkah bersama, kita membuktikan bahwa kebaikan dan keberanian pasti akan selalu menang, nantikan kedatangan team kami ke sekolah anda.”
“Setiap inisiatif, sekecil apapun, membawa kita lebih dekat pada masyarakat yang peduli dan inklusif. Mari kita jadikan program Sosialisasi Bullying permen yupi ini sebagai lambang persatuan dan harapan, yang menginspirasi seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak menuju kebaikan yang nyata.” pungkasnya.
®Pitut Saputra

