JABAR, CHANEL7.ID – Sosok muda pemberani, Piar Pratama, S.H., tengah menjadi sorotan publik. Dikenal luas sebagai aktivis vokal yang konsisten membongkar praktik-praktik korupsi hingga ke akar, kini ia resmi ditunjuk sebagai Ketua AKATSUKI (Aliansi Kabupaten Bandung Bersatu Anti Korupsi), sebuah organisasi pemuda yang dibentuk sebagai gerakan moral dan perlawanan terhadap korupsi di wilayah Kabupaten Bandung.
Piar yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Komite Pencegahan Korupsi Jawa Barat ini bukan nama baru dalam dunia aktivisme anti-korupsi. Kiprahnya selama ini telah banyak menginspirasi kalangan muda untuk berani bersuara dan melawan ketidakadilan. Keberaniannya bahkan mendapat atensi dari institusi besar seperti KPK, Kejaksaan, hingga Kepolisian.
AKATSUKI sendiri awalnya merupakan komunitas kecil yang dibentuk oleh sekelompok pemuda idealis. Kini, organisasi ini berkembang pesat dan memosisikan diri sebagai garda terdepan dalam gerakan pemberantasan korupsi di tingkat lokal.
Nama AKATSUKI diambil dari organisasi dalam anime Naruto, yang meskipun berperan sebagai antagonis, memiliki misi perdamaian dunia. Dalam konteks ini, AKATSUKI ditafsirkan sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi dan penindasan sistemik yang membelenggu birokrasi.
- Advertisement -
“Kang Piar itu bukan orang sembarangan. Soal menguak kasus korupsi, dia tidak main-main. Lembaga sekelas KPK, Kejaksaan, dan Polri pun tahu bagaimana sepak terjangnya, ”Ujar Kang Ernalzi, salah satu penggagas AKATSUKI.
Menurutnya, alasan Piar dipercaya sebagai ketua bukan sekadar karena ketenaran, melainkan karena konsistensinya dalam bekerja berbasis data, keberanian dalam menyuarakan kebenaran, dan kemampuannya merangkul generasi muda.
“Saat ini anggota aktif kita sudah 70 orang. Kami yakin di bawah kepemimpinan Kang Piar, semangat perlawanan terhadap korupsi akan semakin mengakar di kalangan pemuda. Ini bukan gerakan reaktif, ini adalah revolusi moral,” tegasnya.
Piar Pratama diharapkan membawa AKATSUKI melangkah lebih jauh tidak hanya sebagai kelompok pengkritik, tapi juga sebagai mitra strategis dalam edukasi, advokasi, serta pengawasan sosial terhadap kebijakan publik yang rawan penyimpangan.
- Advertisement -
©Disclaimer: Artikel Ini Oleh Donny Yulwardana.
- Advertisement -
®Redaktur ✓

