KLATEN, CHANEL7.ID – Bemo, Bajaj, serta leluhur roda‑tiga seperti Demmo (Delman Motor) dan Atax pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah perkotaan Indonesia. Dari inisiatif kolonial di Surabaya pada awal abad ke‑20 hingga gelombang impor dan rakitan Jepang pada 1960 hingga 1970 an, moda‑moda kecil ini mengisi celah mobilitas di gang sempit, rute mikro, dan kawasan permukiman sebelum akhirnya evolusi teknis serta dinamika regulasi membuat roda‑tiga bergeser dari solusi praktis menjadi warisan nostalgia (21/01/2026).
Jejak modern roda‑tiga di Nusantara tidak muncul begitu saja, ia berakar dari kebutuhan praktis dan proyek industri. Pada era kolonial Belanda muncul inisiatif untuk menghadirkan kendaraan murah bagi kalangan menengah dan pekerja kebun yang selama ini bergantung pada andong, dokar, dan delman. Dari proyek inilah lahir Demmo (singkatan dari Delman Motor, dan Atax (juga tertulis Atack atau Atak), yang diprakarsai di Surabaya dan cepat menyebar ke Malang.
Demo adalah mobil rakitan yang menggabungkan mesin‑mesin Jerman dengan karoseri khas lokal, menurut catatan sejarah, bentuknya mirip sepeda motor ber karoseri Tossa, menggunakan mesin dua‑tak di depan dengan sistem pendingin. Resmi diperkenalkan sekitar tahun 1930, Demmo segera menjadi primadona di Malang karena kecepatannya dibanding dokar. Atax, yang menggunakan mesin pabrikan Raleigh dari Inggris, dinilai lebih halus berkat mesin empat‑tak yang ditempatkan di belakang troli. Kedua kendaraan ini mengubah lanskap angkutan jarak dekat, mereka bukan hanya alat transportasi, tetapi juga simbol modernitas yang mengganggu pendapatan kusir dokar dan pemilik andong.
Di Malang, Demmo dan Atax berkembang pesat. Demmo melayani rute seperti Pasar Dinoyo–Karang Ploso dan Pasar Dinoyo–Pasar Besar, sementara Atax yang lebih bertenaga menggarap rute Pasar Besar–Gadang–Dampit. Kedua moda ini kerap mangkal di stasiun Stoomtram Maatschappij untuk menyambut penumpang kereta, berperan sebagai feeder informal saat itu. Popularitasnya memicu ketegangan ekonomi, pada 1932 pemerintah kota kolonial menengahi pembagian wilayah kerja agar kusir dokar tidak kehilangan mata pencaharian, meski aturan itu tidak berlaku bagi pemilik Demmo dan Atax pribadi.
- Advertisement -
Kehadiran Demmo dan Atax juga menunjukkan kemampuan adaptasi masyarakat, ketika impor mesin terhenti pada masa penjajahan Jepang dan pabrik Soerabaiasche Demmo NV tutup, pemilik Demo melakukan kanibalisasi mesin, mengganti mesin dengan unit sepeda motor Sachs atau Mascoo, sebagai upaya mempertahankan operasional. Namun keterbatasan suku cadang akhirnya membuat eksistensi mereka menipis hingga punah pada era 1980‑an.
Pada akhir 1960‑an hingga awal 1970‑an, gelombang baru datang dari Jepang, Daihatsu Bemo mulai menyerbu kota‑kota termasuk Malang. Bemo (Becak Motor) menawarkan mesin yang lebih terjangkau dan perawatan lebih mudah, sehingga sempat menggantikan posisi Demo dan Atax di beberapa trayek. Namun perkembangan industri angkutan terus bergulir, kepraktisan mobil kecil seperti Suzuki Carry membuat banyak operator beralih ke kendaraan empat roda yang lebih aman dan ekonomis, sehingga dalam waktu kurang dari satu dekade Bemo pun meredup.
Sementara itu, bajaj, produk roda‑tiga asal India, menjadi ikon di kota‑kota besar pada 1970‑an dan seterusnya, terutama di Jakarta. Bajaj bertahan lebih lama karena fleksibilitasnya di gang sempit dan kemudahan operasional, namun akhirnya moda tersebut juga menghadapi tekanan dari modernisasi angkutan umum dan layanan daring.
Kebangkitan kembali konsep roda‑tiga dalam versi modern (mesin bersih, rangka lebih aman, bahkan listrik) akhir-akhir ini, memunculkan pro dan kontra yang tajam di berbagai kota. Satu sisi, keunggulan ruang dan biaya membuat roda‑tiga ideal untuk rute mikro, mudah bermanuver, hemat bahan bakar, dan potensial untuk konversi listrik sehingga ramah lingkungan. Di sisi lain, tantangan regulasi menjadi penghalang utama, izin trayek, uji keselamatan, standar emisi, serta persyaratan operator sebagai penyedia angkutan umum formal berbeda antar daerah dan seringkali sulit dipenuhi oleh unit‑unit kecil. Kekhawatiran soal keselamatan penumpang juga nyata, desain roda‑tiga tradisional rentan jika tidak direkayasa ulang, dan integrasi ke jaringan transportasi massal memerlukan kebijakan regulasi, tarif, rute, dan tata kelola yang jelas.
Tanpa kerangka regulasi yang konsisten, inisiatif pilot project atau startup yang mengusung roda‑tiga modern akan terhambat. Namun jika pembuat kendaraan, operator, dan pembuat kebijakan bisa bersinergi, melalui uji coba terkontrol, sertifikasi teknis, dan insentif untuk kendaraan ramah lingkungan, kemungkinan ada peluang menjadikan roda‑tiga modern sebagai solusi feeder yang efektif.
- Advertisement -
Sejarah Demmo, Atax, Bemo, dan Bajaj adalah cermin perubahan kota, dari kebutuhan mobilitas sederhana hingga tuntutan keselamatan dan lingkungan modern. Menghidupkan kembali roda‑tiga bukan sekadar mengulang nostalgia, ia menuntut rekayasa teknis, kepastian regulasi, dan perhatian pada kesejahteraan pelaku transportasi tradisional. Bila dikelola dengan bijak, moda roda‑tiga yang diperbarui bisa bertransformasi dari objek kenangan berpotensi menjadi bagian fungsional ekosistem transportasi perkotaan.
Dengan catatan bahwa keberhasilan menghidupkan kembali moda roda‑tiga bergantung pada regulasi yang jelas, kebijakan teknis yang ketat, penetapan trayek yang terintegrasi, serta penerimaan dari pemerintah daerah, operator, dan masyarakat, moda ini dapat berjalan berdampingan secara harmonis dengan moda transportasi lain sebagai solusi feeder mikro yang efisien dan ramah lingkungan, namun jika muncul penolakan dari pihak tertentu, maka persoalan tersebut harus ditangani lebih dulu melalui dialog publik, kajian teknis, uji coba terkontrol, dan pemenuhan prosedur perizinan agar keputusan akhir tidak menimbulkan konflik sosial, risiko keselamatan, atau disrupsi pada sistem transportasi yang sudah ada.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

