KLATEN, CHANEL7.ID – Hari kedua Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 menandai momen bersejarah bagi Kabupaten Klaten ketika daerah ini resmi menjadi tuan rumah International Cycling History Conference (ICHC) ke-35. Pembukaan konferensi yang digelar di Pendopo Kabupaten Klaten pada Senin, 18 Mei 2026, ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, didampingi tokoh delegasi internasional seperti David Harley (Amerika) dan Philip (Belgia). Kehadiran ICHC di Klaten merupakan kali pertama konferensi bergengsi ini digelar di Indonesia, sebuah pencapaian yang mendapat sorotan dari peserta dan pengamat internasional (18/05/2026).
Bupati Hamenang menempatkan peristiwa ini sebagai titik penting bagi Klaten. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa penyelenggaraan ICHC bukan sekadar ajang pertemuan para penggemar dan sejarawan sepeda, melainkan kesempatan strategis untuk memperkaya wacana akademis dan memperluas jaringan kolaborasi internasional. “ICHC yang kini memasuki tahun ke-35 telah berkeliling dunia, dan tahun ini untuk pertama kali hadir di Indonesia, tepatnya di Klaten. Kehadiran delegasi dari Amerika, Eropa, dan Asia menunjukkan bahwa Klaten siap menjadi tuan rumah pertemuan bertaraf internasional,” ujar Hamenang. Pernyataan Bupati menjadi benang merah seluruh rangkaian acara, menegaskan bahwa tujuan utama adalah pertukaran pengetahuan dan penguatan komunitas sepeda global.
Konferensi dijadwalkan berlangsung selama tiga hari (18–20 Mei 2026) mendatang dengan rangkaian presentasi, diskusi panel, dan workshop yang membahas berbagai aspek sejarah dan perkembangan sepeda. Delegasi dari berbagai negara berbagi kisah perjalanan sepeda di negara masing-masing, menyoroti momen-momen penting, tokoh berpengaruh, serta transformasi fungsi sepeda dari alat transportasi menjadi simbol gaya hidup dan identitas komunitas. Bupati Hamenang menekankan bahwa dialog lintas negara ini menjadi sarana belajar bersama “Pertukaran cerita dan penelitian ini akan membuka wawasan baru bagi kita semua, bukan hanya soal teknologi atau desain, tetapi juga bagaimana sepeda membentuk budaya dan mobilitas masyarakat.” tegasnya.
Serangkaian sesi akademik pada hari ini menghadirkan pembicara internasional dan nasional yang membahas tema-tema beragam, antara lain:
– Prof. Glen Norcliffe (Kanada) Sepeda bambu.
– Jürgen K.E. Wagner (Jerman) Sejarah industri Mercedes Fahrradwerke.
– Daniel Rudy Kristanto (Surabaya) Gerakan budaya sepeda melalui media digital.
– Daru Indriyo (Jakarta)
Sejarah BMX di Indonesia.
– Janis Seregins (Latvia)
Sejarah pabrik sepeda di Riga.
– Prof. Sugiono (Universitas Brawijaya) dan Mahalli (Universitas Brawijaya)
Inovasi dan desain sepeda adaptif.
Setiap presentasi menyoroti aspek historis, teknis, dan sosial yang memperkaya pemahaman tentang evolusi sepeda di berbagai konteks, sekaligus membuka ruang diskusi lintas disiplin.
Salah satu fokus utama konferensi adalah dokumentasi dan pelestarian sejarah sepeda, di mana para profesor dan peneliti menyoroti urgensi pengarsipan foto, dokumen, dan cerita lisan sebagai bagian dari memori kolektif komunitas sepeda, gagasan ini disambut Bupati Hamenang yang menegaskan komitmen daerah untuk mendukung upaya dokumentasi ilmiah dengan menyatakan, “Kami menyambut baik kontribusi akademis dan jurnalistik yang akan menghasilkan publikasi, prosiding, dan dokumentasi yang dapat diakses oleh publik luas,” seraya menekankan tekad pemerintah daerah agar hasil-hasil konferensi berwujud nyata dan dapat dimanfaatkan generasi mendatang.
Konferensi ini juga berdampak pada praktik dan ekonomi lokal, workshop restorasi sepeda klasik dan sesi konservasi artefak menarik peserta yang ingin belajar merawat koleksi bersejarah, dan Bupati Hamenang menilai transfer keterampilan tersebut bisa meningkatkan kapasitas pengrajin serta pengelola koleksi sehingga warisan material sepeda terjaga, selain itu, pameran produk lokal dan demonstrasi keterampilan memberi ruang bagi pelaku usaha menunjukkan keahlian dan inovasi kepada audiens internasional serta membuka peluang kolaborasi dan peningkatan ekonomi setempat.
Nilai komunitas menjadi aspek yang terus diulang oleh Bupati. Ia menilai ICHC bukan hanya forum akademis, tetapi juga ruang pertemuan komunitas yang memiliki kecintaan sama terhadap sepeda. Dari pertemuan ini dapat lahir program pendidikan, inisiatif pelestarian, dan jaringan kolaboratif yang melibatkan masyarakat luas. “Kegiatan seperti ICHC mempertemukan komunitas yang memiliki kecintaan sama terhadap sepeda. Dari sini lahir kolaborasi, program pendidikan, dan inisiatif pelestarian sejarah sepeda yang melibatkan masyarakat,” ujarnya, menegaskan bahwa partisipasi publik adalah kunci keberlanjutan.
Menjelang penutupan hari kedua, suasana optimis mengemuka. Delegasi memuji sambutan hangat masyarakat Klaten dan kualitas penyelenggaraan acara. Bupati Hamenang menutup sesi dengan menegaskan kembali dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan yang mengangkat citra Klaten di kancah internasional, “Kami akan terus mendukung kegiatan yang memperkuat ekosistem sepeda lokal dan membuka peluang kolaborasi jangka panjang. Ini baru permulaan.” Pernyataan ini menegaskan niat untuk menjadikan hasil konferensi sebagai pijakan bagi program-program berkelanjutan.
Secara keseluruhan, penyelenggaraan ICHC ke-35 di Klaten menegaskan bahwa sepeda lebih dari sekadar alat transportasi, ia merupakan medium sejarah, budaya, dan konektivitas antar bangsa. Dengan penekanan kuat pada kolaborasi internasional, pertukaran pengetahuan, dokumentasi ilmiah, dan penguatan komunitas, Klaten tampil sebagai tuan rumah yang tidak hanya menyambut tamu internasional, tetapi juga aktif menginisiasi langkah-langkah konkret untuk menjaga dan mengembangkan narasi sepeda di tingkat lokal maupun global.
@ Pitut Saputra

