JABAR, CHANEL7.ID – Muktamar ke-10 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digelar di Jakarta berubah menjadi ajang ketegangan politik internal. Forum tertinggi partai ini diwarnai kericuhan yang menyebabkan sejumlah kader mengalami luka-luka dan harus mendapat perawatan medis.
Kericuhan terjadi saat Muhammad Mardiono, yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum, menyampaikan pidato pembukaan. Sorakan dan teriakan “Ketua baru!” menggema di ruangan, menandakan adanya penolakan dari sebagian peserta terhadap kepemimpinan Mardiono.
Menurut beberapa informasi yang dihimpun, Situasi Memanas, Bentrokan fisik antar kader menyebabkan cedera di bagian kepala dan bibir beberapa peserta, Kursi dilempar, botol air beterbangan, dan adu mulut tak terhindarkan, Petugas keamanan berusaha melerai, namun suasana tetap panas hingga malam hari.
Dalam kondisi darurat, pimpinan sidang mempercepat proses pemilihan ketua umum. Sekitar 80% peserta menyetujui langkah aklamasi untuk menetapkan Mardiono sebagai Ketua Umum PPP periode 2025–2030.
Mardiono menyatakan bahwa keputusan ini diambil demi menyelamatkan jalannya Muktamar. Ia juga mengklaim tidak pernah mencalonkan diri atau membentuk tim sukses, melainkan mendapat dukungan langsung dari mayoritas pengurus wilayah.
Dugaan Pengambilalihan Paksa, Mardiono mengungkapkan bahwa sejak dua minggu sebelum Muktamar, sudah ada indikasi kelompok tertentu yang ingin mengambil alih kepemimpinan partai secara ilegal. Bukti rekaman CCTV telah diamankan dan akan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.
Meski diwarnai insiden, PPP tetap melanjutkan agenda Muktamar, termasuk pembentukan tim formatur dan pelaksanaan bimbingan teknis. Mardiono menegaskan bahwa demokrasi harus dijalankan secara konstitusional dan tidak boleh dicederai oleh tindakan kekerasan.
®Yusef Ferry S

