KLATEN, CHANEL7.ID
Sore ini kembali terjadi gelombang order fiktif yang menimpa sejumlah driver pengantaran makanan di Klaten. Insiden ini bukan sekadar gangguan operasional, ia menimbulkan kebingungan, pemborosan waktu, dan potensi kerugian finansial bagi para mitra pengemudi. Pola yang muncul serupa, pesanan bernilai besar, nama pembeli berupa rangkaian huruf acak, alamat resto yang tercantum tidak dapat ditemukan, dan titik antar yang berulang di sekitar lokasi restoran yang diduga fiktif. Di antara korban, pengalaman Adi, seorang driver pengantaran online, menjadi sorotan karena dampak nyata yang ia alami, tiga order sekaligus untuk satu resto yang ternyata tidak ada, dengan total nominal mencapai Rp 2.000.000. Sebuah nominal yang cukup besar dari profesi pengantaran makanan online (18/06/2026).
Kejadian bermula ketika Adi menerima tiga pesanan dari aplikasi pengantaran dengan nama resto yang tercantum Bogor Cemilan Selera, beralamat di Desa Ngrundul, Rt 03/Rw 08, Klaten. Setiap pesanan kisaran nominalnya kurang lebih Rp 400.000 hingga Rp 600.000. Dengan itikad baik menjalankan tugas, Adi menuju titik yang tertera untuk mengambil pesanan. Namun setibanya di lokasi, sudah ada beberapa driver lain mendapati bahwa resto tersebut tidak ada. Warga setempat yang sempat berkerumun dimintai bantuan juga tidak mengenal keberadaan resto tersebut. Upaya menghubungi nomor pembeli dan layanan pelanggan platform tidak membuahkan respons. Setelah menyadari bahwa pesanan itu adalah tembakan atau order fiktif, Adi menghubungi rekan‑rekannya di pangkalan dan membatalkan kelima pesanan tersebut. Meski demikian, pembatalan itu tidak menghapus konsekuensi, Adi tetap harus menerima sanksi poin penalti dari platform, sementara waktu dan tenaga yang ia keluarkan sudah terbuang sia sia.
Dengan nada kecewa dan sedih, Adi menyampaikan, “Saya mendapatkan tiga order sekaligus, total kisaran dua juta rupiah. Setelah sampai, restonya tidak ada. Saya dihakimi oleh sistem karena harus membatalkan, padahal saya yang dirugikan.” ujarnya. Kalimat itu menyatakan dua hal penting, pertama, kerugian nyata yang dialami driver bukan sekadar angka di layar, kedua, kegagalan sistem verifikasi platform aplikasi yang membuat mitra pengemudi menjadi pihak yang dirugikan ketika menghadapi pesanan palsu. Pernyataan Adi juga mencerminkan beban emosional, rasa frustasi, malu, dan ketidakpastian yang kerap tidak terlihat dalam statistik.
Dampak dari praktik order fiktif ini berlapis. Secara langsung, driver kehilangan waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk menerima pesanan sah. Biaya operasional seperti bahan bakar dan pemakaian kendaraan tetap dikeluarkan, sementara potensi penghasilan hilang. Sanksi berupa poin penalti atau denda administratif memperparah kondisi, karena sistem platform seringkali otomatis memberikan penalti pada sebuah pembatalan tanpa mempertimbangkan konteks lapangan. Secara kolektif, kejadian berulang menurunkan kepercayaan mitra terhadap platform, membuat mereka lebih selektif menerima pesanan bernilai besar atau dari nama pembeli yang mencurigakan. Solidaritas antar driver dan bantuan warga setempat memang muncul, namun itu bukan solusi jangka panjang.
Kasus ini juga membuka pertanyaan besar terhadap prosedur verifikasi platform. Bagaimana mungkin sebuah akun resto yang tidak nyata bisa disetujui padahal ada persyaratan pendaftaran?… Kemudian mengapa nama pembeli anonim atau acak tetap bisa melakukan transaksi bernilai besar tanpa verifikasi tambahan?… Apakah sistem deteksi penipuan platform sudah memadai untuk mengidentifikasi pola order fiktif yang berulang?… Kegagalan verifikasi bukan hanya soal teknis, ia berdampak pada reputasi platform, keselamatan mitra driver, dan keadilan operasional. Ketika teknologi yang seharusnya mempermudah justru menimbulkan kerugian bagi pengguna yang paling rentan dalam rantai layanan, maka evaluasi menyeluruh menjadi sebuah keharusan.
Beberapa langkah konkret layak dipertimbangkan untuk mencegah kejadian serupa. Pertama, pengetatan verifikasi akun resto melalui pemeriksaan lapangan atau verifikasi dokumen yang lebih ketat sebelum akun dapat menerima pesanan bernilai besar. Kedua, pembatasan nilai transaksi untuk akun baru atau akun dengan riwayat mencurigakan sampai verifikasi lengkap dilakukan. Ketiga, mekanisme respons cepat bagi driver yang melaporkan order fiktif, termasuk pembatalan tanpa penalti dan kompensasi waktu atau biaya yang dikeluarkan. Keempat, peningkatan sistem deteksi penipuan berbasis analitik untuk memblokir pola order acak berulang dan akun yang menunjukkan perilaku mencurigakan. Kelima, transparansi dan komunikasi yang lebih baik antara platform dan komunitas driver agar kebijakan dan prosedur penanganan insiden jelas dan adil.
Kisah Adi bukan sekadar laporan insiden lokal, ia adalah peringatan bahwa praktik order fiktif dapat kembali marak jika tidak ada tindakan tegas dari platform dan pengawasan yang memadai. Pernyataan Adi yang mengekspresikan kekecewaan dan kerugian harus menjadi titik tolak evaluasi kebijakan. Semua pihak platform, regulator, dan komunitas driver perlu bersinergi untuk memastikan bahwa teknologi semestinya memudahkan hidup dan tidak menjadi sumber ketidakadilan bagi mereka yang mengandalkannya untuk mencari nafkah. Tanpa langkah nyata, risiko berulang akan terus menggerus kepercayaan dan kesejahteraan mitra pengemudi di lapangan.
@ Pitut Saputra

