SUMEDANG, CHANEL7.ID – Langit politik Sumedang tak lagi teduh. Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar pada Oktober 2025, pohon beringin yang selama ini menjadi lambang kesejukan, kini berguncang diterpa angin panas ambisi. Ranting-rantingnya saling beradu, daunnya bergetar, seolah ada api kecil yang siap menjalar menjadi kobaran besar.
Gelagat memanasnya situasi sulit untuk ditutup-tutupi. Seorang kandidat kuat mulai dihantam serangan beruntun – isu, tudingan, hingga manuver politik yang waktunya begitu berdekatan dengan Musda. Publik pun bertanya-tanya: apakah ini sekadar dinamika alami menjelang kontestasi, atau tanda jelas adanya tangan-tangan yang ingin merobohkan lawan demi membuka jalan ke kursi ketua?
Sejarah Golkar sendiri seolah sedang diputar ulang. Dari Musda tingkat daerah hingga Munas nasional, cerita tentang manuver, saling jegal, hingga intervensi elite bukanlah hal baru. Kini bayang-bayang itu hadir di Sumedang, ditambah dengan desas-desus kuat bahwa dukungan eksternal—baik dari provinsi maupun pusat—mulai diarahkan untuk memperkuat satu poros tertentu. Musda pun rawan bergeser, dari arena musyawarah kader menjadi gelanggang pertarungan pengaruh.
Di tengah arus deras itu, harapan masyarakat sederhana: Musda jangan hanya jadi panggung ambisi pribadi. Golkar mestinya kembali ke makna simbol beringin—menaungi, melindungi, dan meneduhkan, bukan malah mengusir sesama kader demi kekuasaan sesaat.
- Advertisement -
Oktober nanti, Sumedang akan menjadi saksi. Apakah beringin akan tetap berdiri kokoh, rindang, dan teduh? Atau justru layu, rantingnya patah, akarnya tercerabut, karena ulah segelintir tangan yang terlalu rakus menggenggam tampuk kuasa?
Pada akhirnya, jawabannya ada di meja Musda. Publik hanya bisa menanti, apakah Partai Golkar Sumedang memilih merawat batang persatuan, atau membiarkan pohonnya retak karena bara ambisi yang tak kunjung padam.
©Disclaimer: Artikel Ini Berdasarkan Pendapat Penulis
- Advertisement -
- Advertisement -
®Opick

