KARANGANYAR, CHANEL7.ID
Suasana siang ini di Klinik Pembuatan Kaki Palsu PT. Kuspito di Papahan, Tasikmadu Karanganyar dipenuhi harapan ketika tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Surakarta menggelar hari pengukuran kaki palsu. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas teknis, ia merupakan perwujudan nyata sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pelayanan masyarakat. Di bawah panduan Dr. Nur Rachmat, BPO, M.Kes, dosen spesialis Ortotik Prostetik, para pasien dari komunitas binaan Satu Hati Klaten, humas komunitas, keluarga, mahasiswa, dan tenaga kesehatan berkumpul untuk menghadirkan solusi yang memulihkan mobilitas dan martabat (15/08/206).
Inisiatif ini bermula dari masukan para anggota komunitas binaan yakni Komunitas Satu Hati Klaten, yang diinisiasi oleh Nina Kusumawati Ketua sekaligus pendiri Komunitas Satu Hati Klaten dan akrab disapa Bunda Nina, Masukan tersebut menjadi titik awal penelitian yang kemudian dikembangkan menjadi program pengabdian masyarakat. Tujuan utamanya adalah menyediakan layanan prostetik dan ortotik berkualitas bagi warga disabilitas yang membutuhkan, sekaligus memberi kesempatan praktek bagi mahasiswa Poltekkes. Dengan pendekatan berbasis kebutuhan lokal, program ini dirancang agar hasilnya relevan, terukur, dan berkelanjutan.
Hari pengukuran dimulai dengan sambutan singkat dari tim dan penjelasan mengenai alur pelayanan. Setiap pasien menjalani evaluasi kebutuhan yang mendalam untuk menentukan jenis prostesis atau ortosis yang paling sesuai. Langkah berikutnya adalah pengukuran anatomi sisa anggota tubuh dan kaki sehat sebagai acuan. Teknik pengukuran dilakukan secara teliti agar nantinya bisa terpakai dengan senyaman mungkin, pengambilan cetakan, pengukuran panjang dan lingkar, serta pemeriksaan kondisi kulit dan jaringan lunak dilakukan dengan seakurat mungkin.
Proses ini tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga aspek psikososial. Tim memberikan penjelasan tentang fungsi alat, proses adaptasi, dan latihan awal yang perlu dilakukan pasien. Pendekatan komunikatif ini membantu mengurangi kecemasan pasien dan keluarga, serta meningkatkan kepatuhan terhadap program rehabilitasi.
Sebagai pembimbing Dr. Nur Rahmat memainkan peran sentral dalam memastikan kualitas pelayanan. Keahliannya di bidang Ortotik Prostetik menjadi rujukan bagi mahasiswa dan teknisi klinik. Tim terdiri dari dosen, mahasiswa, teknisi, dan relawan komunitas yang masing-masing memiliki tugas jelas, dosen memimpin evaluasi dan desain, mahasiswa membantu pengukuran dan dokumentasi, teknisi melakukan pembuatan komponen, sementara relawan mengatur administrasi dan pendampingan pasien.
Kolaborasi ini memberi manfaat ganda. Mahasiswa memperoleh pengalaman praktik langsung yang tak ternilai, sementara pasien menerima alat bantu yang dirancang dengan standar klinis. Klinik PT. Kuspito menyediakan fasilitas produksi dan ruang konsultasi, sehingga proses dari pengukuran hingga penyerahan alat dapat berjalan efisien.
Pelaksanaan program tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan bahan baku, variasi kondisi sisa anggota tubuh pasien, serta kebutuhan penyesuaian berulang menjadi hambatan yang harus diatasi. Tim mengatasi masalah ini dengan pendekatan kreatif, menggunakan bahan alternatif yang aman, melakukan penyesuaian modular pada desain prostesis, dan menjadwalkan sesi tindak lanjut untuk memastikan kenyamanan pemakaian.
Selain itu, edukasi keluarga dan komunitas menjadi kunci keberhasilan. Tim mengadakan sesi singkat tentang perawatan alat, pencegahan luka tekan, dan latihan mobilitas dasar. Dengan demikian, pasien tidak hanya menerima alat, tetapi juga pengetahuan untuk merawat dan memaksimalkan fungsinya.
Dampak program terlihat jelas pada peningkatan kualitas hidup pasien. Sri Waluyo, Wagimin, dan Kasbul dari komunitas Satu Hati Klaten sebagai penerima alat melaporkan kemudahan bergerak, kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, dan peningkatan rasa percaya diri. Bagi keluarga, pengurangan beban perawatan menjadi manfaat signifikan. Di sisi akademis, mahasiswa mendapatkan pengalaman lapangan yang memperkaya kompetensi klinis mereka.
Menurut Dr Nur Rahmat, “Program ini merupakan hasil penelitian yang berangkat dari kebutuhan komunitas. Pendekatan berbasis bukti tersebut memastikan bahwa intervensi yang diberikan relevan dan efektif.” terangnya. Keberhasilan hari pengukuran ini membuka peluang untuk replikasi di wilayah lain dan pengembangan program lanjutan yang lebih komprehensif.
Ke depan, tim berharap program dapat terus berlanjut dengan dukungan lebih luas dari pemerintah daerah, lembaga kesehatan, dan donatur. Penguatan kapasitas klinik lokal, penyediaan bahan baku yang stabil, serta pelatihan lanjutan bagi teknisi menjadi prioritas. Selain itu, pengembangan sistem tindak lanjut dan monitoring jangka panjang akan membantu mengevaluasi efektivitas alat dan kebutuhan penyesuaian di masa mendatang.
Program ini juga diharapkan menjadi model kolaborasi antara institusi pendidikan dan komunitas. Dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan, intervensi menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Hari pengukuran kaki palsu di Klinik Kuspito bukan sekadar kegiatan teknis, ia adalah wujud nyata kepedulian dan tanggung jawab sosial. Bunda Nina Berharap Melalui sinergi antara Poltekkes Kemenkes Surakarta, klinik lokal, dan Komunitas Satu Hati Klaten , program ini bisa berhasil menghadirkan solusi yang memulihkan mobilitas dan martabat banyak orang. Semoga inisiatif ini terus berkembang, menjangkau lebih banyak penerima manfaat, dan menjadi inspirasi bagi upaya pengabdian masyarakat lainnya.” pungkasnya.
@ Pitut Saputra

