JABAR, CHANEL7.ID – Pencitraan dalam dunia politik bukanlah hal baru. Banyak pejabat Indonesia yang menggunakan strategi komunikasi dan aksi simbolis untuk membangun citra positif di mata publik. Namun, fenomena ini juga menuai kritik karena dianggap lebih mengutamakan tampilan daripada kinerja nyata.
Pencitraan dalam Politik Indonesia, Blusukan dan Aksi Simbolis, Beberapa pejabat sering melakukan kunjungan mendadak ke pasar, desa, atau lokasi bencana sebagai bentuk kepedulian. Namun, ada yang menilai bahwa aksi ini lebih bersifat pencitraan daripada solusi konkret. Penggunaan Media Sosial Banyak pejabat yang aktif di media sosial, membagikan foto dan video kegiatan mereka. Hal ini membantu membangun kedekatan dengan masyarakat, tetapi juga bisa menjadi alat propaganda politik.
Dari beberapa informasi yang dihimpun dari beberapa awak media, Kritik terhadap Pencitraan, Presiden RI Prabowo Subianto, pernah menyindir pemimpin yang lebih banyak “akting” dan melakukan pencitraan daripada menyelesaikan masalah nyata. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mendapat julukan “Mulyono Jilid II” dari sorotan beberapa kalangan pengamat, dan para akademisi maupun kalangan aktivis, karena sering melakukan blusukan dan aksi sosial yang dianggap sebagai pencitraan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga pernah mengkritik pejabat yang lebih banyak berbicara daripada bekerja, menyebut bahwa pencitraan tidak seharusnya menggantikan prestasi nyata
Dampak Pencitraan terhadap Publik, Meningkatkan Popularitas, Pencitraan yang dilakukan dengan baik dapat meningkatkan elektabilitas pejabat dalam pemilu. Menurunkan Kepercayaan Publik, Jika pencitraan tidak diikuti dengan kebijakan nyata, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin mereka. Membentuk Opini Publik, Media dan masyarakat sering kali terpengaruh oleh pencitraan, sehingga sulit membedakan antara aksi nyata dan strategi politik.
- Advertisement -
Kesimpulannya, Pencitraan dalam politik adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, strategi ini dapat membantu pejabat membangun hubungan dengan masyarakat. Namun, jika tidak diimbangi dengan kebijakan dan tindakan nyata, pencitraan bisa menjadi bumerang yang merusak kredibilitas mereka.
©Disclaimer: Artikel Berdasarkan Pendapatan Penulis Dari Beberapa Sumber Informasi Yang Beredar.
- Advertisement -
- Advertisement -
®Yusef Ferry S

