JABAR, CHANEL7.ID – Sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang menghadapi tekanan berat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya deflasi berturut-turut pada Januari dan Februari 2025, dengan nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh Rp16.575 per dolar AS pada akhir Februari.
Faktor Penyebab
Deflasi dan Nilai Tukar : Deflasi tahunan sebesar 0,09% terjadi untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, sementara nilai tukar rupiah terus tertekan.
Pasar Saham : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 6.300, terendah sejak 2021, Penerimaan Pajak : Anjloknya penerimaan pajak menyebabkan defisit APBN sebesar Rp31,2 triliun pada awal tahun.
Reaksi dan Analisis, Para ekonom menilai bahwa kebijakan pemerintah saat ini kurang efektif dalam menangani masalah ekonomi yang diwariskan dari rezim sebelumnya. Kebijakan fiskal yang tidak tepat dan isu pelemahan kelas menengah menjadi perhatian utama.
- Advertisement -
Kementerian Keuangan (Kemenkeu), mengumumkan bahwa pendapatan negara sampai 28 Februari 2025 mencapai Rp316,9 triliun, atau hanya mencapai 10,5 persen terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang sebesar Rp3.005,1 triliun. Jika dirinci, penerimaan perpajakan sampai akhir Februari 2025 tercatat Rp240,4 triliun, atau 9,7 persen terhadap target APBN 2025 yang sebesar Rp2.490 triliun, dengan penerimaan pajak hanya senilai Rp187,8 triliun dan penerimaan kepabeanan dan cukai hanya sebesar Rp52,6 triliun.
®Yusef

