KLATEN, CHANEL7.ID – Berangkat dari keprihatinan mendalam atas tren peredaran narkoba yang menempatkan Klaten di posisi ketiga tertinggi di Jawa Tengah, Ketua Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Klaten, Sugeng Haryanto S.E., M.M., dengan tegas menegaskan bahwa upaya cipta kondisi yang sedang dirumuskan Pemkab Klaten wajib mengakomodasi pencegahan kenakalan remaja sejak akarnya. Menurutnya, tanpa intervensi terkoordinasi dan sinergis, potensi generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa dalam dua dekade mendatang akan terus terkikis oleh bahaya narkotika dan alkohol. (05/08/2025)
Dalam paparan nya seusai Rapat Koordinasi Cipta Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya yang digelar di Candramaya Pool and Resto Dalangan Tulung, Sugeng mengatakan pada awak media Chanel7.id dan membuka diskusi dengan data terbaru soal peredaran narkoba dan pola kenakalan remaja. Ia menyoroti fakta bahwa kebanyakan kasus kriminalitas, mulai dari tawuran massal hingga kejahatan seksual, berawal dari konsumsi minuman keras (miras). “Miras bukan sekadar budaya nongkrong, tetapi gerbang awal ke jurang narkoba dan tindakan kekerasan,” tegasnya.
Sugeng lalu memaparkan tren peningkatan penggunaan knalpot brong sebagai simbol perlawanan anak muda yang frustasi, sekaligus pintu masuk ke perilaku menyimpang yang lebih berbahaya. Menurutnya, sinyalemen tersebut menunjukkan lemahnya kontrol sosial di lingkungan keluarga dan sekolah. “Kita melihat ada kekosongan figur pengawasan. Tanpa figur pengganti yang positif, seperti tokoh warga, guru, atau pembina organisasi kemasyarakatan, mereka rentan dan mudah terjerumus” ujarnya mengingatkan.
Berangkat dari analisis itu, Pemkab Klaten beserta jajaran forkopimda dan instansi terkait, menyusun kerangka strategi pencegahan yang mengedepankan tiga pijakan, edukasi intensif melalui sekolah dan komunitas, kampanye masif lewat media lokal, serta keterlibatan orang tua secara nyata. Ia menyerukan agar pemerintah daerah merumuskan program wajib “Sekolah Tanpa Narkoba” dan “Keluarga Siaga Bahaya Miras” yang bukan sekadar slogan, tetapi diukur lewat indikator kehadiran, sikap, dan perubahan perilaku.
- Advertisement -
Dalam hal legislasi, Sugeng juga memaparkan pada rakor tadi ikut disorot terkait perlunya Naskah Akademik (NA) untuk Perda baru yang komprehensif. Perda lama dinilai tidak lagi relevan mengatur mekanisme dan teknis pencegahan di akar rumput. Melalui NA, setiap pasal akan memasukkan masukan konstruktif dari Polres, Kejari, BNN, hingga lembaga swadaya masyarakat. “Perda baru harus mampu menjembatani kebijakan represif, seperti penindakan kasus narkoba, dengan pendekatan preventif yang memulihkan,” jelasnya.
Sugeng juga menggarisbawahi urgensi sinergi lintas sektor. Ia menekankan bahwa penegak hukum dan pemerintah daerah harus tampil sebagai mitra strategis, bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Bagi Sugeng, akselerasi proses legislasi dapat tercapai bila aparat birokrasi dan hukum berkomitmen pada timeline yang jelas, dengan sistem monitoring yang transparan. “Jika setiap instansi beroperasi di zona ego sektoral, upaya kita hanya akan retak di tengah jalan,” ujarnya.
Lebih jauh, Sugeng menyoroti peran media massa dan jurnalis sebagai katalisator perubahan. Ia mengajak rekan-rekan media untuk mengedukasi publik secara berkelanjutan, menyajikan konten positif tentang kisah pemuda yang berhasil keluar dari jerat narkoba. “Media bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi agen transformasi. Cerita tentang pemulihan dan keberhasilan jauh lebih ampuh daripada sekadar laporan kriminalitas,” paparnya.
Terkait momentum HUT RI, Sugeng juga menyoroti terkait tren “one piece” yang belakangan viral sebagai simbol alternatif bendera. Menurutnya, agenda kenegaraan tidak boleh dipolitisasi dalam bentuk yang menistakan simbol negara. Ia mendukung himbauan Bupati Hamenang agar masyarakat fokus mengibarkan Merah Putih, sambil menanamkan nilai cinta tanah air sejak dini. “Pengibaran bendera bukan ritual seremonial semata, tapi pondasi nasionalisme yang harus dijiwai setiap anak bangsa,” katanya.
Untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, Sugeng juga menuturkan, dalam rakor tadi telah diproyeksikan program pembagian ribuan bendera dalam beberapa agenda kegiatan. Ia optimistis inisiatif ini akan memupuk rasa bangga sekaligus merekatkan warga pada identitas kolektif Pancasila. Di samping itu, juga sempat ada pembahasan terkait lomba desa terbersih dan terinovatif dalam penataan fasilitas umum dengan tema “Kampung Merah Putihku,” untuk menambah daya tarik sekaligus memperkuat gotong royong.
- Advertisement -
Menyambut agenda besar pada 17 Agustus di alun-alun Klaten, Sugeng mengajak seluruh element masyarakat, pelajar, generasi muda, tokoh adat, hingga pelaku UMKM, untuk tampil berkolaborasi. Ia menegaskan penghargaan dan hadiah menarik bukan semata insentif, melainkan bentuk apresiasi atas kreativitas dan partisipasi aktif. “Ketika lomba dan karnaval budaya diperlombakan, semangat berkarya akan lebih menyala,” ungkapnya.
Tak kalah penting, Sugeng menegaskan kesiapan pemkab menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan BNN Surakarta. Ia berharap kerjasama ini tidak sebatas penandatanganan dokumen, melainkan fondasi kampanye anti-narkoba yang terstruktur, lengkap dengan program rehabilitasi berbasis komunitas. “BNN adalah mitra strategis dalam pemulihan korban penyalahgunaan, sekaligus pencegahan penyebaran,” katanya.
Di ujung pertemuan, Sugeng memberikan penekanan terakhir, cipta kondisi bukan hanya tugas instansi tertentu, melainkan gerakan kolektif. Ia mengajak semua pihak untuk bersikap proaktif dan responsif. Baginya, keberhasilan jangka panjang Klaten ditentukan oleh seberapa baik manusia, terutama generasi muda, dikelola agar tumbuh sehat, kreatif, dan berbudaya. “Ini investasi kita bersama demi masa depan Klaten yang lebih gemilang,” pungkasnya.
- Advertisement -
Dengan dorongan opini tegas Sugeng Haryanto, pemerintah daerah dan mitra strategis kini memiliki pijakan jelas untuk mengokohkan strategi penanggulangan narkoba dan kenakalan remaja. Segala rencana mulai dari revisi Perda hingga lomba kampung merah putih akan dijalankan secara terukur. Pemkab Klaten optimis, dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan total masyarakat, generasi muda yang sehat dan patriotik bukan sekadar harapan, melainkan sebuah keyakinan.
®Pitut Saputra

