KLATEN, CHANEL7.ID – Kegiatan perkemahan dan upacara ulang janji Gerakan Pramuka 2025 berlangsung di Lapangan Duwet Wonosari, Klaten, menghadirkan semangat baru di kalangan siswa SD se-kecamatan Wonosari dan perwakilan Pramuka SMA Pakis Wonosari. Kepala Sekolah SD Negeri 1 Ngreden Wonosari, Rantinah, menegaskan bahwa momen ini lebih dari sekadar ritual tahunan. Menurutnya, kegiatan renungan dan pengucapan ulang Tri Satya menjadi titik balik bagi setiap pramuka muda untuk meneguhkan komitmen dan menanamkan karakter kebangsaan yang kokoh (13/08/2025).
Dalam wawancara bersama awak media, Rantinah menjelaskan tiga rangkaian utama yang dijalankan, yakni renungan, ulang janji, dan tasyakuran. Pada sesi renungan, anggota pramuka diajak merenungkan kembali nilai-nilai Dasa Dharma dan mengukur seberapa jauh mereka telah mengamalkannya dalam keseharian. Selanjutnya, pengucapan ulang Tri Satya di depan pembina memperkuat tekad mereka untuk selalu setia pada janji. Penutupnya, tasyakuran diselenggarakan sebagai bentuk syukur dan mempererat tali persaudaraan antar peserta.
Menurut Rantinah, inti dari renungan adalah membangkitkan kesadaran diri. “Kami ingin setiap anak memahami bahwa Dasa Dharma bukan hanya kumpulan kalimat, melainkan pedoman hidup. Tanpa refleksi, nilai akan menjadi kering tanpa makna,” ujarnya tegas. Ia menambahkan bahwa evaluasi diri dalam renungan membuat siswa lebih jujur menilai kontribusi mereka di sekolah dan masyarakat. Dengan begitu, setiap pramuka tidak sekadar maju dalam baris berbaris, namun juga tumbuh sebagai pribadi bertanggung jawab.
Pada sesi ulang janji, Rantinah menganggap momen tersebut sebagai ritual pemurnian komitmen. Pengucapan Tri Satya yang mengandung janji setia kepada Tuhan, negara, dan sesama, bertindak sebagai pengingat yang mengikat secara emosional. “Ketika mereka berseru bersama, terdengar gema solidaritas yang menghapus keraguan. Janji ini bukan formalitas, melainkan pondasi moral untuk kepedulian sosial,” jelasnya. Ia berharap pengalaman ini menjadi landasan kuat bagi setiap siswa dalam menghadapi tantangan masa depan.
- Advertisement -
Kemudian tasyakuran menjadi wujud syukur bersama atas keberhasilan rangkaian acara. Menurut kepala sekolah, momen santai selepas upacara menumbuhkan kebersamaan tanpa sekat jabatan antara guru, siswa, dan pembina pramuka. “Tasyakuran membuktikan bahwa cinta tanah air juga tumbuh dalam kehangatan kebersamaan,” ucapnya. Hiburan sederhana, doa bersama, dan sanjungan bagi para peserta yang menunjukkan prestasi menutup acara dengan keakraban.
Rantinah menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan renungan dan ulang janji adalah memperkuat semangat pengabdian pada Gerakan Pramuka dan bangsa. Ia percaya, ketika siswa memahami makna di balik setiap lirik Tri Satya, motivasi mereka mengabdi kepada Pramuka akan bertahan lama. Lebih jauh, rasa persatuan dan kesatuan diuji saat mereka bekerja sama dalam upacara, saling membantu mempersiapkan bendera hingga merapikan barisan.
Selain SD Negeri Ngreden, perwakilan SD se-kecamatan Wonosari dan Pramuka SMA Pakis terlibat aktif dalam acara. Kolaborasi lintas jenjang pendidikan ini, menurut Rantinah, memberikan nuansa baru. Interaksi antara siswa SD yang masih polos dan kakak-kakak SMA yang berpengalaman meningkatkan kekompakan tim. “Harmony antar jenjang ini penting untuk menanamkan rasa saling menghormati dan mentoring,” tegasnya. Ia juga memuji kesiapan panitia lapangan yang memastikan keamanan dan kenyamanan selama kegiatan.
Menjelang puncak peringatan Hari Pramuka pada 14 Agustus, upacara bendera akan menjadi seremonial megah nantinya di lapangan utama. Rantinah berharap momen itu menjadi puncak nasionalisme anak-anak. Selain itu, berbagai kegiatan pendukung seperti lomba kreativitas, perkemahan tematik, dan bakti sosial akan digelar di sekolah-sekolah mitra. Kepala sekolah mengajak masyarakat setempat untuk menyaksikan dan turut berpartisipasi, sehingga semangat kebersamaan semakin terasa.
Di mata Rantinah, acara pramuka bukan sekadar pelatihan dasar kepemimpinan. Lebih dari itu, ia melihat Gerakan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter yang melibatkan nilai spiritual, emosional, dan sosial. Kendala seperti terbatasnya sarana atau cuaca tak membuatnya gentar. Ia menekankan panitia juga menyiapkan rencana cadangan, seperti tenda tambahan dan modul kegiatan indoor, serta menggalang dukungan warga sekitar untuk menyediakan konsumsi dan fasilitas kesehatan.
- Advertisement -
Menatap tahun mendatang, Rantinah berencana mengintegrasikan kearifan lokal Klaten dalam program pramuka. Ia berkeinginan menambah materi tentang pelestarian lingkungan persawahan, pembelajaran batik tradisional, dan kunjungan ke situs cagar budaya. Kolaborasi dengan lembaga desa dan UMKM lokal akan memperkaya pengalaman peserta. Dengan inovasi ini, Rantinah yakin Gerakan Pramuka di Klaten tidak hanya mencetak generasi disiplin, tetapi juga pelopor pelestari budaya dan lingkungan.
Harapan Rantinah pun sederhana namun mendalam, semoga setiap pelaksanaan renungan, ulang janji, dan tasyakuran menanamkan semangat pengabdian tanpa pamrih. Ia mengajak seluruh guru, orang tua, dan masyarakat luas untuk terus mendukung Gerakan Pramuka sebagai ajang pembentukan karakter anak bangsa. “Ketika jiwa pramuka tumbuh subur, masa depan negeri ini akan bersinar,” tutup Rantinah dengan penuh optimisme.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

