KLATEN, CHANEL7.ID – Di tengah riuh rendah persiapan menyambut Natal dan Tahun Baru, ada satu nuansa yang selalu menghangatkan hati warga, tradisi berbagi. Bagi umat Kristen Protestan dan Katolik, momen kelahiran Yesus Kristus bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan pengingat perjalanan iman, dari kelahiran hingga penebusan, yang melahirkan semangat kasih, pengampunan, dan kepedulian. Di banyak kampung dan kota, tradisi ini diwujudkan lewat doa bersama, persekutuan keluarga, hingga aksi sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari mereka yang membutuhkan (20/12/2025).
Salah satu wujud nyata dari semangat itu datang dari keluarga besar Hanung Triatmoko, seorang dosen pengajar di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan warga RT 04 RW 03 Kuncen, Sidodadi Delanggu Klaten, yang dikenal sebagai tokoh pemuka masyarakat yang aktif serta peduli, keluarga Hanung telah lama menempatkan kegiatan berbagi sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan akhir tahun mereka.
Bukan sekadar ritual tahunan, tradisi ini tumbuh dari diskusi, refleksi, dan keinginan tulus untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Dari gagasan sederhana hingga gerakan yang terorganisir, setiap langkah dirancang agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak.
Menurut Iwan panitia pembagian undangan berbagi sembako menginformasikan “Pada Minggu 21 Desember 2025 mendatang, keluarga Hanung Triatmoko kembali menyiapkan paket sembako yang akan dibagikan kepada warga yang telah terdata secara khusus oleh panitia team ertepapat Kuncen Delanggu yang selama ini dikenal solid dalam aksi-aksi sosial. Proses pendataan sendiri dilakukan dengan cermat agar bantuan bisa tepat sasaran, keluarga kurang mampu, lansia yang hidup sendiri, dan rumah tangga yang menghadapi kesulitan ekonomi di akhir tahun.” terangnya.
- Advertisement -
Undangan dan kupon sembako yang dibagikan tersebut disambut antusias oleh warga, bagi mereka, kupon itu bukan sekadar kertas, melainkan harapan kecil yang memberi napas lega di tengah tradisi kenaikan harga kebutuhan pokok setiap pergantian tahun.
Iwan juga menambahkan “Suasana pembagian nanti diperkirakan akan berlangsung hangat dan penuh rasa syukur seperti kegiatan serupa sebelumnya. Di sela-sela antrian, biasanya warga saling bertukar kabar, berbagi tawa, dan mengungkapkan harapan agar toleransi serta kerukunan antar umat beragama terus terjaga.” imbuhnya.
Banyak yang menyatakan bahwa bantuan seperti ini bukan hanya soal materi, melainkan juga penguatan ikatan sosial. Ketika seorang tetangga menerima paket sembako, yang lain merasa tergerak untuk turut menjaga kebersamaan, membuktikan bahwa solidaritas bisa tumbuh dari tindakan kecil yang konsisten.
Keluarga Hanung sendiri memandang kegiatan ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang lahir dari nilai-nilai iman dan kemanusiaan. Mereka percaya bahwa berkah yang diterima harus dibagikan kembali, terutama pada saat-saat ketika kebutuhan hidup meningkat. Tradisi berbagi ini juga menjadi ruang bagi keluarga untuk melibatkan generasi muda, anak-anak dan cucu diajak memahami arti memberi, bukan sekadar menerima. Lewat keterlibatan langsung, nilai-nilai empati dan kepedulian diwariskan secara nyata, sehingga menjadi bagian dari budaya keluarga yang berkelanjutan.
Bambang panitia inti dalam distribusi sembako ini menyatakan “Tidak jarang, inisiatif keluarga Hanung melampaui pembagian sembako. Terkadang dari hasil diskusi dan pemikiran bersama, muncul program-program kecil yang memberi dampak jangka panjang, pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha mikro, hingga kegiatan gotong royong memperbaiki fasilitas umum. Pendekatan ini menunjukkan bahwa berbagi bisa bersifat sementara sekaligus transformatif, sementara sembako meringankan beban harian, program pemberdayaan membuka peluang agar penerima dapat berdikari di masa depan.” jelasnya.
- Advertisement -
Respon warga terhadap kegiatan ini sarat dengan rasa terima kasih. Marjoko salah seorang penerima manfaat menyatakan dirinya sangat bersyukur dan menyadari bahwa menjelang akhir tahun, tekanan ekonomi seringkali meningkat, harga bahan pokok merangkak naik, kebutuhan sekolah dan persiapan perayaan menambah beban keluarga.
Oleh karena itu, paket sembako yang diberikan menjadi berkah nyata. Ucapan terima kasih itu mengalir bukan hanya untuk bantuan materi, tetapi juga untuk perhatian dan kepedulian yang ditunjukkan keluarga Hanung. Harapan mereka sederhana, semoga usaha keluarga semakin lancar sehingga kapasitas berbagi bisa terus bertambah dan menjangkau lebih banyak warga kedepannya.
Di balik kegiatan ini, ada pelajaran sosial yang penting, perayaan agama dan momen kebersamaan dapat menjadi pemicu aksi kolektif yang memperkuat jaringan sosial. Ketika tokoh masyarakat mengambil peran aktif, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penerima langsung, tetapi juga memicu inisiatif serupa dari pihak lain, lingkungan, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok keagamaan lain. Dengan demikian, tradisi berbagi menjadi katalisator bagi harmonisasi sosial yang lebih luas.
- Advertisement -
Menjelang hari pembagian esok, persiapan panitia terlihat berjalan rapi. Pembagian kupon, penataan paket, hingga koordinasi dengan warga dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Semua pihak berharap acara berlangsung lancar, aman, dan penuh makna. Bagi keluarga Hanung, momen ini adalah wujud syukur sekaligus komitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat. Bagi warga, ini adalah pengingat bahwa di tengah dinamika hidup, masih ada ruang bagi kebaikan yang tulus.
Akhirnya, perayaan Natal dan Tahun Baru bukan hanya soal perayaan pribadi atau keluarga, melainkan juga kesempatan memperkuat solidaritas sosial. Tradisi berbagi yang dijalankan keluarga besar Hanung Triatmoko menjadi contoh bagaimana nilai-nilai iman diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, memberi harapan, meringankan beban, dan menumbuhkan kebersamaan. Semoga semangat ini terus hidup, menular, dan memberi manfaat bagi banyak orang di masa yang akan datang.
®Pitut Saputra

