KLATEN, CHANEL7.ID – Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, menorehkan langkah nyata dalam memperkuat kesejahteraan warganya melalui pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) yang digelar pada 11–12 Maret 2026 di balai desa. Program dua hari itu membagikan Rp 150.000 dan 5 kilogram beras kepada warga yang memenuhi syarat, sebuah inisiatif yang bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan cermin dari komitmen pengelolaan hasil usaha desa untuk kembali kepada masyarakat (12/03/2026).
Kepala Desa Sidowayah, Mujahid Jariyanto, menegaskan bahwa program ini dirancang dengan kriteria jelas, penerima harus memiliki KTP Sidowayah dan berusia minimal 17 tahun. Dari data yang diverifikasi, jumlah penerima ditetapkan sebanyak 2.375 orang, sehingga alokasi anggaran untuk tunai mencapai Rp 375 juta dan beras sekitar 12,5 ton. “Uangnya Rp 150.000 dan beras 5 kg per orang. Jadi kalau dalam satu rumah ada dua orang yang sudah ber-KTP Sidowayah, mereka mendapatkan masing-masing,” ujar Mujahid, menegaskan prinsip keadilan administratif yang menjadi dasar penyaluran bantuan.
Sumber dana program ini berasal dari laba pengelolaan unit usaha BUMDes Sidowayah, yang selama ini mengembangkan beberapa unit usaha seperti Umbul Kemanten, Umbul Siblarak, Kampung Dolanan, dan Resto Umbul Kemanten. Menurut Mujahid, keuntungan usaha desa tidak disimpan semata untuk akumulasi, melainkan dikembalikan kepada warga melalui program sosial yang langsung dirasakan manfaatnya. Pernyataan kepala desa itu menegaskan filosofi pengelolaan publik yang partisipatif, usaha bersama untuk kesejahteraan bersama.
Pelaksanaan pembagian menarik ribuan warga yang datang, menimbulkan kerumunan akibat antusiasme tinggi. Panitia menerapkan verifikasi KTP dan pengaturan antrian untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Meski demikian, beberapa warga meminta agar pengaturan kerumunan diperketat pada pelaksanaan berikutnya agar proses lebih aman dan tertib. Kepala desa menyambut masukan tersebut sebagai bagian dari evaluasi yang akan memperbaiki mekanisme distribusi ke depan.
- Advertisement -
Suara warga yang menerima bantuan menjadi bagian paling menyentuh dari kegiatan ini. Legiyem, warga Rt 19 Sidowayah, yang menyampaikan rasa syukur tulus, “Alhamdulillah, ini sangat membantu. Uang dan berasnya terasa sekali manfaatnya untuk kebutuhan rumah tangga.” Ucapan sederhana itu menggambarkan bagaimana bantuan kecil sekalipun mampu meringankan beban keluarga menjelang bulan suci. Suarti, seorang pedagang kecil, menambahkan perspektif ekonomi mikro, “Dengan adanya bantuan ini, saya bisa menambah stok dagangan dan menyiapkan kebutuhan keluarga. Semoga program seperti ini terus berlanjut.” harapnya.
Lebih dari sekadar pembagian barang, BUMDes Sinergi Sidowayah juga menjalankan program sosial lain yang memperkuat jaringan perlindungan sosial desa. Di antaranya santunan kematian Rp 1 juta, bantuan RT Rp 13,6 juta per RT untuk kegiatan lingkungan, serta beasiswa pendidikan bagi 10 karyawan BUMDes berupa subsidi 50% untuk menempuh S1 Manajemen. Investasi pada pendidikan ini dipandang sebagai upaya strategis meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang mengelola unit usaha desa, sehingga tata kelola dan inovasi dapat terus berkembang.
Mujahid menegaskan bahwa pengelolaan BUMDes dilakukan secara transparan dan partisipatif agar manfaat usaha dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kami ingin masyarakat benar-benar merasakan hasil nyata dari unit usaha yang ada di desa mereka sendiri,” katanya, menekankan bahwa akuntabilitas dan keterbukaan menjadi kunci keberlanjutan program. Pernyataan ini memberi pesan kuat, ketika pengelolaan publik dilandasi prinsip keterbukaan, kepercayaan masyarakat tumbuh dan program sosial menjadi lebih efektif.
Tantangan teknis seperti pengaturan kerumunan, verifikasi data untuk menghindari duplikasi, dan penguatan administrasi tingkat RT menjadi catatan penting. Kepala desa menyatakan rencana evaluasi berkala terhadap kinerja unit usaha BUMDes dan mekanisme penyaluran bantuan, serta peningkatan kapasitas manajerial melalui beasiswa. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Sidowayah tidak hanya memberi bantuan sekali waktu, tetapi juga membangun fondasi agar program dapat berulang dan berkembang.
Model pembiayaan sosial berbasis laba BUMDes yang diterapkan Sidowayah berpotensi menjadi contoh bagi desa lain, asalkan disertai pengelolaan yang baik dan mekanisme penyaluran yang transparan. Keberhasilan program ini diukur bukan hanya dari besaran bantuan, tetapi dari kemampuan desa menjaga akuntabilitas, merespons masukan warga, dan menginvestasikan kembali keuntungan untuk penguatan kapasitas lokal.
- Advertisement -
Pembagian THR di Sidowayah adalah kisah kecil tentang bagaimana sumber daya lokal dapat diolah menjadi manfaat nyata. Dari pernyataan kepala desa yang menegaskan komitmen pengelolaan partisipatif hingga suara warga yang merasakan langsung manfaatnya, program ini menegaskan satu hal, ketika pengelolaan ekonomi desa diarahkan untuk kesejahteraan bersama, hasilnya bukan sekadar angka di laporan, melainkan senyum lega di rumah-rumah warga.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

