KLATEN, CHANEL7.ID – Desa Ponggok seolah tak pernah kehabisan napas berkreativitas. Di balik gemerlapnya atraksi selfie dan keindahan kolam umbul, ada kolaborasi apik antara Kepala Desa, Pemerintah Desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan Lembaga Usaha Peningkatan Masyarakat Mandiri Desa (LUPMMDES) yang terus memantik inovasi (05/08/2025).
Keriuhan diskusi antar warga, kunjungan studi banding, dan semangat bergotong-royong menjadi energi tak kasatmata yang memacu Desa Ponggok melahirkan terobosan wisata unik. Dari pemuda kreatif hingga kaum ibu PKK, semuanya bergerak bersama, menorehkan sejarah baru bagi pariwisata Klaten.
Salah satu permata Desa Ponggok, yakni Umbul Ponggok, dan umbul Besuki, bukan sekedar kolam pemandian mata air jernih. Di sana, pengunjung bisa mengabadikan momen underwater dengan properti lucu, mulai dari sepeda ontel, kursi kayu, hingga replika motor yang diposisikan pada dasar kolam. Di sisi yang lain Umbul Besuki juga tampil tak kalah menarik dengan tawaran wahana wisata alam dan kolam renang sejernih kaca, Di pinggirannya, area camping menyatu dengan panorama sawah hijau, menghadirkan nuansa alam yang syahdu kala senja merunduk. Keberagaman wahana dan aktivitas ini membuat Umbul Besuki tak hanya ramai di akhir pekan, tapi juga diminati rombongan pelajar dan fotografi alam.
Rahasia di balik keberhasilan Umbul Besuki adalah sinergi antara Pemdes Ponggok, BUMDes, dan LUPMMDES. Mereka merancang program secara terintegrasi, penataan zona atraksi, keamanan pengunjung, hingga pelatihan pemandu wisata lokal. Turun langsungnya kepala desa dalam rapat bulanan memastikan setiap aspirasi warga, termasuk kalangan difabel, terakomodasi. Hasilnya, atraksi budaya, festival kuliner tradisional, festival jazz pinggir sawah dan pasar kreatif terkoneksi satu padu, menciptakan pengalaman wisata yang inklusif dan penuh cerita.
Tak jauh dari lokasi utama, aliran sungai buangan umbul diubah menjadi lahan budidaya yang produktif. Warga memelihara ikan nila merah dalam kolam alami, memanfaatkan kejernihan air dan oksigen melimpah. Di sisi sungai, deretan warung makan dikelola oleh ibu-ibu PKK, menyajikan aneka sambal, lalapan, dan olahan nila segar. Suasana sederhana namun hangat membuat pengunjung betah berlama-lama, menikmati kuliner sambil menyambut sapaan ramah penyaji yang tak pernah lelah bercerita tentang sejarah desa.
Puncak inovasi datang ketika musim panen tiba. LUPMMDES mengundang komunitas pemancing lokal dan luar daerah untuk “memanen” nila langsung dari sungai dengan cara di pancing. Kegiatan ini dipromosikan melalui media sosial dan jaringan tour guide community, termasuk Ipunk, pemandu dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community yang semakin dikenal karena keahliannya merangkai tur edukasi. Para peserta membayar iuran, lalu bersaing secara sportif memancing ikan di arus tenang sungai kecil, sambil menanti hasil tangkapan yang siap dibawa pulang.
Metode panen ini terbilang unik. Selama setahun ikan tumbuh di kolam sungai tanpa perubahan pH atau suhu ekstrem, berkat sistem regenerasi alami umbul. Saat panen, LUPMMDES menutup keramba sungai di atas dan bawah, jaring untuk menahan ikan diambil, sehingga para pemancing tak terganggu dalam aktivitas memancing. Begitu jaring terangkat, ikan yang sudah “gemuk” bisa dipancing satu per satu, di sungai kecil tersebut menciptakan sensasi mendebarkan saat kail terjepit oleh mulut nila. Tradisi ini memadukan kearifan lokal dengan konsep agrowisata modern.
Antusiasme pemancing begitu tinggi. Banyak yang datang bersama keluarga dan teman lama, memanfaatkan kesempatan reuni sambil menyalurkan hobi. Mereka bersenda gurau di atas ponton kayu sambil menunggu kail disambar nila, saling berbagi tips memancing, dan mencicipi sambal warung setempat. Kebersamaan ini memunculkan momen tak terlupakan, tawa lepas ketika kail nyangkut pada kayu bawah air, sorak sorai saat ikan pertama berhasil dinaikkan, hingga sesekali air terciprat akibat gegap gempita euforia.
“Sensasi memancing ujung kail dan menyaksikan perjuangan ikan nila di sungai jernih sungguh memikat,” cerita Ipunk, seorang guide pemandu yang juga mencoba ikut memancing mengatakan. “Setiap tarikan membuat adrenalin naik, tapi kami juga bangga karena ikut mendukung pemberdayaan masyarakat desa Ponggok.” Keseruan itu pun dipercaya akan semakin viral di media sosial, menarik minat lebih banyak komunitas pemancing dan wisatawan urban, sekaligus menguntungkan pendapatan desa melalui iuran dan konsumsi di warung PKK.
Nurcholis, Kepala Unit Usaha Umbul Besuki Kiringan Ponggok, mengungkapkan, “Awalnya kami fokus pada daya tarik bawah air. Namun ketika pemuda desa menginisiasi budidaya nila, muncullah ide memancing massal. Ini bukan hanya soal wisata, tapi juga soal memetik hasil jerih payah LUPMMDES dan semangat gotong royong warga.” Menurutnya, program panen dua hari, yakni hari ini dan esok, sudah mendapatkan banyak pendaftar dari kalangan komunitas pemancing “Kita ingin terus mengeksplorasi potensi desa agar wisata makin berkelanjutan dan berdampak luas, serta memberikan kebermanfaatan pada warga”
Inovasi memancing di Umbul Besuki bukan sekadar atraksi sesaat. Ia menegaskan bahwa kreativitas dan kolaborasi lokal mampu menciptakan nilai tambah yang tak ternilai. Bagi pengunjung, pulang membawa nila segar plus cerita seru tentang perjuangan memancing di air sebening kristal. Bagi warga Ponggok, setiap kail yang terulur berarti dukungan pada ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan kebanggaan bersama. Desa ini telah membuktikan, ketika kreativitas dipadu dengan semangat kolektif, destinasi wisata akan terus berkembang, menebar berkat bagi siapa saja yang singgah.
®Pitut Saputra

