KLATEN, CHANEL7.ID – Desa Palar, Trucuk, menjelma menjadi laboratorium kolaborasi Pentahelix saat KKN 219 dan 220 UIN Raden Mas Said Surakarta bersinergi dengan Pemdes Palar, Karang Taruna, Sanggar Seni Mewarnai Dunia, PKK Desa, Online Media Center, dan #Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community. Sejak perencanaan awal, semua pihak sepakat untuk menyelenggarakan rangkaian workshop dan pelatihan yang inklusif, terbuka bagi umum dan difabel, di Basecamp Disabilitas Sanggar Seni Mewarnai Dunia (22/07/2025).
Para narasumber pilihan direncanakan membawa warna baru ke Desa Palar, Trucuk, Klaten. Sutiyono dari CRM Craft Surakarta direncanakan memandu praktik kerajinan rotan dan anyaman kertas daur ulang, sementara praktisi pertanian dan kerajinan jali dari Klaten mengajarkan teknik tradisional dengan sentuhan inovasi. Serta kuliner dengan bahan baku Jali, Pemilihan bahan baku hingga langkah pemasaran, setiap tahapan dirancang agar peserta, termasuk anak berkebutuhan khusus, bisa mengikuti proses dengan percaya diri.
Mahasiswa KKN UIN RM Said turut memainkan peran vital sebagai fasilitator, pendamping, dan penyelenggara teknis. Mereka membantu penataan ruang belajar yang ramah kursi roda, memastikan jalur di basecamp mudah diakses, serta menyiapkan materi yang komunikatif. Kehadiran mahasiswa juga memperkaya dinamika diskusi, dengan ide-ide kreatif mereka tentang pemberdayaan ekonomi lokal dan pemasaran digital.
Dukungan Pemerintah Desa Palar semakin memperkuat fondasi acara. Fasilitas pendukung seperti perlengkapan workshop, kursi portabel, perlengkapan mengolah bahan dan perangkat multimedia disediakan tanpa biaya, menunjukkan komitmen pemdes untuk memajukan potensi warganya. Karang Taruna bergerak cepat mengkoordinasi relawan, sementara Online Media Center mendokumentasikan setiap momen dan mempromosikan kegiatan melalui platform online dan digital.
Pembina Sanggar Seni Mewarnai Dunia, Nurbertus Trisno Nugroho, menyatakan antusiasme penuh. Ia menilai pelatihan ini membuka cakrawala baru bagi difabel untuk menghasilkan karya bernilai ekonomi. “Ini bukan sekadar workshop, tapi langkah awal bagi mereka untuk mandiri dan dihargai,” ujarnya, menegaskan sembari membayangkan makna sosial dari setiap anyaman yang lahir di tangan peserta nantinya.
Ipunk dari #Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community yang juga ikut hadir menyatakan ketertarikan dan keterkaitan langsung dengan dunia pariwisata. Ia juga berencana mengundang wisatawan untuk bisa ikut melihat kelas edukatif serta menyaksikan proses belajar inklusif ini. Bagi Ipunk, integrasi kerajinan lokal dengan paket tour desa menciptakan pengalaman unik, wisata berbudaya sekaligus berkontribusi pada pemberdayaan sosial.
Puncak rangkaian kegiatan akan dihadirkan dalam Festival Mewarnai Dunia di taman desa Palar Festival yang menampilkan produk UMKM, hasil karya para peserta pelatihan, dan stan interaktif yang mengajak pengunjung mencoba anyaman rotan atau melihat karya-karya difabel. Mahasiswa KKN berharap festival sederhana ini meninggalkan kesan mendalam, jejak kontribusi serta kontribusi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Nur Faizah, Via, Rahmawati, dan Toha, perwakilan KKN UIN RM Said, menegaskan bahwa kegiatan ini lebih dari seremoni. Mereka bercita-cita menjadikan sinergi Pentahelix sebagai pondasi program pemberdayaan jangka panjang. Melalui evaluasi dan pendampingan berkelanjutan, kehadiran mahasiswa dapat bertransformasi menjadi mentor lokal yang mendampingi pengembangan UMKM difabel di Desa Palar.
Desa Palar kini bersiap menapak pada era baru, ekosistem kreatif yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Festival Palar Mewarnai Dunia hanyalah awal. Dengan semangat gotong royong dan sinergi lintas sektor, Desa Palar akan menjadi contoh bagi komunitas lain, tempat di mana seni, budaya, dan kemanusiaan berpadu dalam satu warna kemajuan bersama.
®Pitut Saputra

