KLATEN, CHANEL7.ID – Di tengah gejolak sosial dan politik yang semakin memanas di berbagai daerah, kesadaran kolektif warga desa Delanggu, Klaten untuk menerapkan prosedur Jogo Tonggo memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan lingkungan. Istilah Jogo Tonggo, artinya jaga tetangga, dan lingkungan sekitar bukan sekadar slogan, melainkan filosofi gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun di kampung-kampung Nusantara (31/08/2025).
Kewaspadaan terhadap potensi provokasi dan kericuhan susulan mengharuskan setiap desa menghidupkan kembali tradisi dan budaya lokal sebagai bentuk mitigasi dini. Dengan semangat kebersamaan, warga menyadari bahwa tanggung jawab menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat, melainkan kewajiban moral seluruh elemen masyarakat.
Gelombang provokasi yang kian merambat ke berbagai wilayah memicu kekhawatiran akan terulangnya kerusuhan yang pernah terjadi. Faktor penyebaran informasi cepat melalui media sosial mempercepat eskalasi kerusuhan, sehingga langkah preventif perlu diambil sebelum situasi semakin sulit dikendalikan. Masyarakat tidak sekadar menunggu instruksi aparat, melainkan aktif merespons potensi ancaman dengan memetakan titik-titik rawan di lingkungan masing-masing. Identifikasi dini terhadap gerakan mencurigakan atau kumpulan massa yang berpotensi anarkis dapat menurunkan risiko kerusuhan berlanjut dan meminimalkan kerusakan fasilitas publik serta korban jiwa.
Konsep Jogo Tonggo sejatinya telah lama menjadi bagian dari sistem keamanan tradisional di desa-desa. Masyarakat memanfaatkan jaringan sosial informal, dimulai dari keluarga inti, hingga tetangga terdekat, untuk saling bertukar informasi dan mendukung satu sama lain. Ketika arus provokasi meningkat, mekanisme ini diperkuat melalui koordinasi dengan perangkat desa, Banser, Linmas, dan tokoh adat. Keterlibatan tokoh adat dan pemuka agama menambah bobot moral sehingga himbauan dilakukan dalam koridor nilai budaya dan norma agama yang dipahami bersama. Dengan demikian, semangat solidaritas dapat terjaga sekaligus mempersempit ruang bagi pihak eksternal untuk menebar benih kekacauan.
- Advertisement -
Suroto salah seorang tokoh masyarakat kampung mengatakan “Salah satu upaya konkret yang digaungkan Desa Delanggu adalah menghidupkan kembali tradisi ronda kampung, kegiatan silaturahmi rutin yang melibatkan seluruh warga. Ronda kampung bukan sekadar acara formal, melainkan forum terbuka bagi warga untuk menyampaikan keluh kesah, mengantisipasi isu terkini, dan merumuskan tindakan kolektif.” paparnya pada awak media.
Dirinya menambahkan “Lewat Ronda, setiap kepala keluarga memiliki akses langsung untuk melaporkan perkembangan situasi, mendiskusikan langkah mitigasi, serta mengatur jadwal ronda bergilir. Dengan format dialogis yang inklusif, warga diajak bertanggung jawab bersama, bukan sekadar sebagai penonton pasif dalam menghadapi potensi krisis.” ujarnya.
Ronda bergilir ini kembali menjadi tulang punggung keamanan kampung. Di Delanggu para pemuda, orang tua, dan ibu-ibu kader PKK secara bergiliran melakukan patroli ringan pada malam hingga dini hari. Ronda tidak hanya berfungsi sebagai ‘mata’ yang awas, tetapi juga sebagai ‘telinga’ yang sigap menangkap kabar – kabar mencurigakan. Setiap regu ronda dilengkapi dengan nomor kontak satu sama lain dan juga pos keamanan desa yang terhubung dengan Kantor Satpol PP serta Polsek terdekat. Dengan demikian, koordinasi respons cepat bisa berjalan tanpa hambatan birokrasi yang berbelit.
Inisiatif warga Delanggu ini selaras dengan instruksi Pemkab Klaten yang sudah lebih dulu menginstruksikan kesiapan siaga dalam menanggulangi ancaman kerusuhan. Pemerintah kabupaten mendorong pembentukan posko Jogo Tonggo di setiap desa, lengkap dengan sarana komunikasi dan pelatihan antisipasi konflik. Melalui pertemuan rutin dengan Camat dan Koramil, aparat desa mendapatkan pembekalan mengenai skenario penanganan kerusuhan, termasuk teknik negosiasi dengan massa, patroli terpadu, serta perlindungan fasilitas publik. Sinergi pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci agar upaya pencegahan kerusuhan dapat berjalan efektif.
Walaupun rasa duka dan keprihatinan atas situasi nasional sangat mendalam, warga menolak cara kekerasan dan perusakan. Ekspresi aspirasi hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang lebih terhormat, sesuai nilai budaya timur yang menekankan sopan santun dan tata krama. Aksi unjuk rasa yang anarkis justru merugikan masyarakat itu sendiri, karena ketika fasilitas publik dirusak, proses pelayanan dasar terganggu dan beban biaya pemulihan akan semakin berat. Dengan menolak provokasi, warga menyatakan bahwa pertikaian tidak pernah menjadi solusi, tetapi dialog dan mekanisme kebijakan yang demokratis yang akan menyelesaikan permasalahan.
- Advertisement -
Menyusul instruksi Presiden dan Kapolri yang mulai menegaskan penindakan serius pada para perusuh maka, segenap pemangku kebijakan Desa menghimbau agar warga yang tidak memiliki kepentingan mendesak untuk sementara menahan diri di rumah masing-masing dan tidak keluar malam menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bersama.
Hal senada juga disampaikan Cosa salah seorang tokoh muda Kuncen Delanggu dalam grup WA warga. “Peran generasi muda menjadi vital dalam menjaga momentum Jogo Tonggo ini. Para pemuda tidak hanya terlibat dalam patroli, tetapi juga memanfaatkan platform digital untuk menyebarluaskan pesan damai dan informasi valid. Mereka membuat grup WhatsApp desa, menyiarkan perkembangan terkini, serta menolak penyebaran hoaks atau ujaran kebencian. Kreativitas ini dipadukan dengan pelatihan literasi media sehingga generasi muda tidak hanya menjadi pionir keamanan fisik, melainkan juga benteng bagi ketenangan psikologis warga.” paparnya.
Dampak jangka panjang dari upaya gotong royong seperti ini akan memperkuat kohesi sosial antarwarga. Solidaritas terbangun bukan hanya dalam menghadapi krisis, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari seperti penyelenggaraan posyandu, pembangunan jalan desa, serta program pemberdayaan ekonomi. Kepercayaan antar individu meningkat ketika setiap orang merasa aman dan dihargai. Rasa memiliki (sense of belonging) tumbuh ketika warga secara sukarela menjaga kampung mereka sendiri, dan bukan hanya mengandalkan pihak luar.
- Advertisement -
“Kita semua memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga kondusifitas lingkungan. Melalui Jogo Tonggo, kampung, ronda bergilir, dan penolakan tegas terhadap kekerasan, kita menegaskan bahwa nilai-nilai budaya, persaudaraan, serta empati akan selalu menang atas provokasi dan anarkisme. Dengan sinergi antara warga, aparat, dan pemangku kebijakan, bukan hanya keamanan yang terjaga, tetapi juga harapan untuk mewujudkan bangsa yang lebih adil, damai, dan beradab. Kini saatnya kita bergotong royong demi masa depan yang lebih cerah bagi kampung dan negeri tercinta.” jelas Cosa.
Indonesia sedang berduka dan warga merasakan keprihatinan yang mendalam, namun bagaimanapun stabilitas keamanan harus menjadi pertimbangan, kewaspadaan terhadap potensi provokasi harus ditingkatkan, edukasi dan pemahaman persoalan secara komprehensif semestinya diutamakan agar tidak terjebak dalam wacana dan literasi yang menyesatkan.
®Pitut Saputra

