KLATEN, CHANEL7.ID
Basecamp Komunitas Disabilitas Satu Hati di Desa Birit, Kecamatan Wedi, Klaten, dipenuhi aktivitas yang terasa lebih dari sekadar acara rutin. Suasana hangat dan penuh perhatian memperlihatkan bagaimana berbagai pihak berkumpul bukan hanya untuk memberi bantuan, tetapi untuk mendengarkan, belajar, dan merancang tindak lanjut nyata. Kegiatan yang berlangsung pada 13 September 2026 ini memadukan layanan kesehatan, inovasi alat bantu, edukasi spiritual, hiburan, dan jejaring sosial, sebuah bentuk pengabdian masyarakat yang menyasar kebutuhan praktis penyandang disabilitas secara menyeluruh (13/09/2026).
Rangkaian acara dimulai dengan registrasi peserta dan sambutan dari pengurus komunitas. Bunda Nina, pemimpin Komunitas Satu Hati, membuka kegiatan dengan menegaskan tujuan kegiatan, yakni memperkuat silaturahmi sekaligus menindaklanjuti kebutuhan sehari-hari anggota komunitas. “Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, ini adalah pertemuan untuk mendengar dan bekerja bersama agar solusi yang dihasilkan benar-benar berguna,” ujarnya. Pernyataan itu menjadi benang merah sepanjang kegiatan, yang dirancang agar setiap intervensi bersifat praktis dan berkelanjutan.
Salah satu momen penting adalah penyerahan alat bantu kaki palsu hasil kolaborasi Poltekkes Kemenkes Surakarta dan Klinik Pembuatan Kaki Palsu PT Kuspito Karanganyar. Tiga anggota komunitas menerima kaki palsu yang dibuat dari serabut kelapa, bahan inovatif hasil penelitian yang telah melalui pengukuran dan penyesuaian di klinik PT Kuspito Karanganyar. Dr. Nur Rachmat dari Poltekkes Kemenkes Surakarta menjelaskan latar belakang pengembangan tersebut, “Kami ingin menghadirkan alternatif yang terjangkau dan ramah lingkungan, sekaligus memastikan kenyamanan pemakai. Tujuan akhirnya adalah mengembalikan mobilitas dan kemandirian.” terangnya. Tepuk tangan mengiringi penyerahan simbolis, menandai harapan baru bagi para penerima manfaat.
Tidak kalah penting, dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta turut memperkenalkan krinken, alat panggilan darurat berbentuk kalung atau gelang yang tahan air. Fanny Pratama dari UII menjelaskan bahwa krinken dibagikan sebagai unit uji coba sekaligus bagian dari pengabdian masyarakat. “Alat ini dirancang untuk memudahkan pemanggilan bantuan dalam kondisi darurat. Masukan dari pengguna akan sangat berharga untuk penyempurnaan produk,” ujarnya. Kehadiran krinken menambah dimensi keselamatan bagi penyandang disabilitas yang selama ini sering menghadapi hambatan akses layanan darurat.
Layanan kesehatan menjadi pilar utama lain dalam kegiatan ini. Posyandu Disabilitas yang digelar melayani pemeriksaan kesehatan dasar, edukasi perawatan luka, dan pemberian obat untuk rekan-rekan yang mengalami luka decubitus. Tenaga kesehatan dari Puskesmas Wedi memberikan demonstrasi perawatan luka dan saran pencegahan komplikasi secara praktis agar keluarga dan pengasuh dapat menerapkannya di rumah. Seorang perawat menegaskan, “Perawatan sederhana yang dilakukan rutin dapat mencegah komplikasi serius.” paparnya. Kehadiran layanan ini sangat berarti mengingat keterbatasan akses medis rutin yang selama ini dialami banyak anggota komunitas.
Selain aspek medis dan teknis, acara juga mengakomodasi kebutuhan spiritual dan sosial. Tausiyah oleh Ustad Handoko mengingatkan terkait nilai keikhlasan, kebersamaan, silaturahmi dan saling mendukung. “Keikhlasan membuat setiap bantuan menjadi berkah, kebersamaan membuat beban terasa lebih ringan,” kata Ustad Handoko. Sementara hiburan musik dari RE-PRO, kelompok musik disabilitas Klaten yang dimotori Reihan, makin menghidupkan suasana dan memberi ruang ekspresi bagi anggota komunitas. Musik menjadi medium yang menyatukan, menumbuhkan rasa bangga, dan memperkuat identitas kolektif.
Sosialisasi program umroh oleh Samira Travel juga menambah dimensi harapan jangka panjang. Yuli memaparkan tata cara pendaftaran, persyaratan kesehatan, serta fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas selama pelaksanaan ibadah. Opsi pembiayaan yang fleksibel, tunai, tabungan, atau skema berangkat dahulu bayar kemudian dengan tenor hingga tiga tahun, membuka peluang bagi anggota komunitas yang selama ini merasa terbatas aksesnya untuk menunaikan ibadah umroh ke tanah suci. Informasi ini disambut antusias oleh beberapa peserta yang menyatakan minatnya.
Interaksi langsung antara penyelenggara dan anggota komunitas dalam sesi tanya jawab dan diskusi menghasilkan temuan praktis yang dicatat untuk tindak lanjut. Tim melakukan assessment singkat terhadap kebutuhan individu, seperti permintaan jaket penopang tulang belakang dan pengembangan bantal khusus untuk penderita decubitus yang masih dalam tahap uji coba. Dr. Nur Rachmat menegaskan komitmen tim untuk terus menindaklanjuti masukan tersebut, “Setiap masukan dari lapangan menjadi bahan evaluasi kami. Kami ingin solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai kebutuhan.” tegasnya. Pernyataan ini menegaskan pendekatan responsif yang menjadi ciri kegiatan.
Momentum silaturahmi juga dimanfaatkan untuk memperkuat jejaring antara akademisi, praktisi klinik, layanan kesehatan, biro perjalanan, dan komunitas lokal. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat yang efektif memerlukan keterlibatan berkelanjutan dan komunikasi dua arah antara pemberi layanan dan penerima manfaat.
Acara ditutup dengan suasana haru dan optimisme. Para penerima alat bantu tampak bersemangat mencoba perangkat baru mereka, sementara keluarga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Kegiatan di Komunitas Disabilitas Satu Hati Klaten bukan sekadar program sekali jalan, ia merupakan langkah awal dari rangkaian pengabdian terpadu yang menggabungkan inovasi, layanan kesehatan, dukungan spiritual, dan kebersamaan sosial. Dengan sinergi yang terus dipupuk, langkah kecil hari ini diharapkan berkembang menjadi gerakan yang membuka lebih banyak peluang bagi penyandang disabilitas untuk hidup lebih mandiri, sehat, dan bermartabat.
@ Pitut Saputra

