REMBANG, CHANEL7.ID – Di tengah gempuran makanan ringan modern, sepasang suami istri di Desa Waru, Kecamatan Rembang, tetap setia mempertahankan cita rasa tradisional kerupuk ikan khas daerahnya. Dengan cara pembuatan sederhana dan bahan alami, usaha rumahan ini terus bertahan hingga puluhan tahun.
Cuaca siang itu cukup terik, Selasa (14/10/2025). Di sudut halaman rumah sederhana, Junaidi dan istrinya tampak sibuk mencampur adonan kerupuk. Tanpa mengutamakan tampilan modern, keduanya mengandalkan keterampilan tangan dan pengalaman panjang untuk menghasilkan kerupuk yang gurih dan renyah.
Kerupuk yang mereka buat dikenal masyarakat sekitar sebagai kerupuk bandung khas Waru. Sekilas tampak mirip dengan kerupuk biasa yang dijual di warung, namun racikan keluarga Junaidi memiliki cita rasa berbeda karena menggunakan campuran ikan tengiri sebagai bahan utama.
”Resep ini warisan keluarga. Awalnya saya belajar dari pakde di luar kota sekitar tahun 1990-an, lalu mulai membuat sendiri di sini,” tutur Junaidi, pria paruh baya itu sambil tersenyum.
Menurutnya, proses pembuatan masih sepenuhnya dilakukan secara tradisional. Adonan dari tepung dan ikan dicetak dengan cetakan khusus, dijemur hingga kering di bawah terik matahari, lalu digoreng menggunakan tungku kayu bakar.
”Kalau pakai kompor gas rasanya beda. Dengan kayu bakar, aroma dan rasa lebih gurih,” ujarnya.
Dalam sekali produksi, Junaidi bisa menghasilkan ratusan bungkus kerupuk. Setiap bungkus berisi enam keping kerupuk, dijual seharga Rp1.500 per bungkus ke pengecer. Biasanya, ia menitipkan dagangannya di warung-warung sekitar desa.
Namun, di balik gurihnya kerupuk buatan mereka, usaha kecil ini juga menghadapi berbagai tantangan. Penjualan sering menurun, terutama saat masyarakat sibuk dengan hajatan atau sedekah bumi yang membuat banyak warga memilih membuat kerupuk sendiri di rumah.
”Kalau sepi, kadang bahan baku kami biarkan dulu. Produksi tidak tiap hari, karena stok bisa tahan beberapa waktu,” jelasnya.
Meski demikian, Junaidi tak patah semangat. Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan pelaku usaha kecil seperti dirinya agar bisa terus bertahan dan berkembang.
”Kalau ada bantuan alat atau pelatihan, tentu kami senang. Biar bisa meningkatkan kualitas dan kemasan,” tambahnya.
Bagi warga sekitar, kerupuk buatan Junaidi bukan sekadar pelengkap makan, tetapi juga bagian dari cita rasa tradisi yang sulit tergantikan. Gurihnya kerupuk bandung khas Waru menjadi bukti bahwa usaha kecil dengan rasa dan ketekunan masih bisa bertahan di tengah zaman yang serba modern.
®Aziz

