KLATEN, CHANEL7.ID – Disebuah sudut desa Karanglo, Polanharjo, berdiri sebuah angkringan sederhana yang perlahan menarik perhatian warga dan wisatawan lokal. Pemiliknya, Ahmed, adalah pemuda desa yang sedang menempuh pendidikan di AMIKOM Yogyakarta. Alih-alih menghabiskan waktu luang tanpa arah, ia memilih membuka warung kecil di depan rumahnya. Pilihan itu bukan sekadar mencari penghasilan tambahan, angkringan yang dinamainya Nggirli (pinggir kali) atau pinggir sungai, menjadi wujud kemandirian, eksperimen wirausaha, dan cara menikmati hari sambil menunggu pengumuman wisuda (08/01/2026).
Keunikan Angkringan Nggirli terletak pada lokasinya yang memanfaatkan kontur tanah miring yang menjorok ke tepi Sungai Pusur. Dari teras warung, pengunjung bisa menikmati segelas kopi sambil menyaksikan rombongan river tubing yang meluncur di arus sungai setiap sore dan akhir pekan. Pemandangan itu memberi sensasi berbeda, hembusan angin pinggir sungai, gemericik air yang menenangkan, dan sorak-sorai peserta tubing yang sesekali memecah keheningan. Suasana seperti ini membuat angkringan sederhana itu terasa seperti tempat pelarian singkat dari rutinitas, sekaligus titik temu komunitas lokal dan wisatawan.
Menu yang disajikan di Angkringan Nggirli juga tidak rumit, nasi goreng, nasi telur, nasi ayam, nasi lele, berbagai varian mie, dan beberapa pilihan menu makanan bakaran. Tidak ada kemewahan restoran bintang lima, namun cita rasa rumahan dan kehangatan pelayanan menjadi daya tarik utama. Ahmed paham betul bahwa konsumen angkringan mencari kenyamanan, keakraban, dan makanan yang mengingatkan pada rumah. Dengan modal sederhana dan keterampilan memasak yang terus diasah, ia berhasil membuat pelanggan kembali lagi, baik warga sekitar maupun pengunjung yang kebetulan lewat untuk melihat aktivitas river tubing.
Motivasi Ahmed membuka angkringan cukup sederhana dan jujur. Ia sebenarnya sedang menunggu jadwal pengumuman wisuda, dan daripada menganggur, ia memilih mengisi waktu dengan aktivitas produktif. “Selain menambah pengalaman, usaha kecil ini juga menjadi sarana menabung untuk masa depan, modal untuk melanjutkan kuliah atau bekal memasuki dunia kerja.” ungkapnya.
Kesadaran untuk tidak terus-menerus bergantung pada orang tua mendorongnya bekerja lebih giat. Di sela-sela kuliah, Ahmed juga dikenal sebagai driver pengantar makanan Shopee Food. Pekerjaan itu dilakoni ketika tidak ada perkuliahan atau saat pulang ke rumah dari sekolahnya di Yogyakarta. Uang yang didapat dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti bensin, pulsa dan rokok, sehingga ia tidak perlu meminta uang tambahan dari orang tua.
Selain berjualan makanan, Ahmed memanfaatkan keahliannya di bidang teknik pemrograman komputer untuk membuka jasa servis laptop, Pc, Handphone dan pemrograman beragam perangkat elektronik, Keahlian teknis ini menjadi nilai tambah yang membuatnya lebih fleksibel dalam mencari penghasilan. Karena kebetulan bidang usaha tersebut adalah usaha harian ayahnya, maka otomatis sedikit banyak ia juga mewarisi keahlian tersebut, dan untuk customer tertentu yang dekat dengannya dipastikan segala teknis pengerjaan dan service pasti dilakukannya sendiri. Ketika ada pelanggan yang membutuhkan perbaikan atau set up instalasi, ia menerima pesanan sesuai kemampuan dan waktu luangnya. Kombinasi antara usaha kuliner, layanan antar makanan, dan servis laptop serta elektronik ini menunjukkan bagaimana seorang pemuda desa bisa menggabungkan keterampilan dan peluang lokal untuk menciptakan sumber penghasilan yang beragam.
Perkembangan Angkringan Nggirli juga tak lepas dari kemampuan Ahmed bergaul. Sikap ramah, keramahan dalam melayani, dan kemampuan berinteraksi membuat warungnya cepat dikenal. Pelanggan tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga untuk bercengkrama, menikmati pemandangan, dan berbagi cerita. Di sore hari, ketika sinar matahari mulai meredup dan rombongan tubing melintas, suasana warung menjadi hidup, tawa, obrolan ringan, dan aroma kopi yang membumbung ke udara. Momen-momen sederhana inilah yang membuat angkringan Nggirli menjadi tempat yang lebih dari sekadar tempat makan, ia menjadi ruang sosial yang mengikat komunitas.
Ahmed sendiri tidak memasang target besar untuk usahanya. Ia menyatakan bahwa angkringan ini adalah kegiatan positif yang membantu menabung sedikit demi sedikit sambil menunggu wisuda. Rencana jangka panjangnya masih terbuka, ada keinginan melanjutkan studi, namun ia juga ingin mencoba dunia kerja terlebih dahulu untuk menambah pengalaman. Sikap realistis dan bertanggung jawab ini mencerminkan kedewasaan yang tumbuh dari kesadaran akan tanggung jawab keluarga dan biaya pendidikan yang tidak sedikit.
Tantangan tentu ada. Mengelola warung sambil kuliah dan bekerja paruh waktu menuntut manajemen waktu yang baik. Cuaca, musim, dan fluktuasi pengunjung juga mempengaruhi pendapatan. Namun, kreativitas Ahmed dalam memanfaatkan lokasi, mengubah view Sungai Pusur menjadi daya tarik, membantu mengurangi risiko tersebut. Ia juga terus berinovasi pada menu dan layanan, misalnya menerima pesanan lewat aplikasi online, menyediakan paket hemat untuk pengunjung tubing, memberi diskon pada tour guide atau menawarkan layanan servis laptop di tempat bagi pelanggan yang menunggu.
Angkringan Nggirli adalah contoh kecil dari semangat kewirausahaan yang lahir dari kebutuhan dan kreativitas. Dari teras sederhana di tepi sungai, Ahmed belajar banyak hal, mengelola usaha, berinteraksi dengan pelanggan, mengatur keuangan, dan menggabungkan keterampilan teknis dengan layanan publik. Ketika kelak ia melangkah ke dunia kerja atau melanjutkan studi, pengalaman ini akan menjadi modal berharga, bukan hanya dalam bentuk tabungan, tetapi juga dalam bentuk keterampilan hidup dan jaringan sosial.
Di balik kesederhanaan menu dan bangunan, Angkringan Nggirli menyimpan cerita tentang tekad, kemandirian, dan harapan. Bagi Ahmed, warung itu bukan sekadar tempat mencari uang, ia adalah ruang latihan hidup, tempat mengasah tanggung jawab, dan saksi bisu perjalanan seorang pemuda desa yang berusaha membangun masa depan dengan langkah-langkah kecil namun pasti.
®Pitut Saputra

