SUMUT, CHANEL7.ID – Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) melakukan penelusuran terhadap banjir bandang yang melanda Dusun I Sitobu, Desa Garoga, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, pada 26 September 2026.
Penelusuran dilakukan untuk melihat kondisi di lokasi sekaligus mengumpulkan informasi mengenai sejumlah faktor yang diduga berkaitan dengan bencana tersebut. KSPPM juga menyoroti kondisi kawasan perbukitan Kenegerian Ambarita dan tata kelola kawasan hutan di wilayah tersebut.
Tim KSPPM yang turun ke lokasi terdiri dari Susi Halawa, Yenzi Tampubolon, Yohannes Tamba, serta Tim Pemetaan, Data dan Publikasi, Delima Padang dan Asi Sitinjak. Kegiatan tersebut berada di bawah penanggung jawab Direktur KSPPM Roki Pasaribu.
Berdasarkan keterangan warga yang dihimpun KSPPM, banjir bandang terjadi setelah hujan deras disertai petir berlangsung sekitar satu jam. Sungai Holbung dilaporkan meluap, sementara material berupa batu, lumpur dan kayu dari arah perbukitan terbawa arus menuju permukiman dan lahan warga.
- Advertisement -
Sedikitnya tiga rumah dilaporkan terdampak. Salah satu rumah mengalami kerusakan cukup parah, sementara sejumlah lahan pertanian warga tertutup lumpur.
Salah satu warga terdampak, Tika Harianja (58), menceritakan bahwa dirinya sedang berada di rumah ketika mendengar suara gemuruh dari arah belakang rumah. Material berupa batu, kayu dan lumpur kemudian masuk ke bagian rumah.
Tika mengaku sempat menyelamatkan pakaian dan sejumlah dokumen penting sebelum keluar dari rumah. Ia kemudian berlindung di bawah pohon alpukat dan dievakuasi warga ke rumah keluarga terdekat.
Menurut Tika, sejumlah peralatan restoran yang sebelumnya disimpan di gudang di samping rumah turut rusak. Dua toren air dan dua mesin pompa air juga mengalami kerusakan.
“Perladangan yang saya kerjakan sekarang juga ikut terendam longsor,” kata Tika.
- Advertisement -
Warga lainnya, JN (72), disebut mengalami kerugian pada lahan jagung seluas sekitar dua rante dan sekitar 20 batang tanaman kopi yang baru ditanam.
Selain kerugian materi, Tika mengaku masih mengalami trauma setelah kejadian tersebut. Ia mengatakan akan memilih tinggal di rumah keluarganya apabila cuaca mendung atau hujan deras.
Aliran Air dan Perubahan Kondisi Sungai
- Advertisement -
Sehari setelah kejadian, Minggu (27/9/2026), KSPPM kembali melakukan penelusuran di sekitar lokasi terdampak.
Tim menemukan material lumpur dan kayu berada di sekitar rumah warga. Menurut KSPPM, lokasi terdampak berada di kawasan yang dikelilingi lembah dan perbukitan.
Direktur KSPPM Roki Pasaribu mengatakan material longsor bergerak dari arah belakang rumah warga, melewati sisi bangunan, kemudian mengalir ke badan jalan.
“Dari kondisi tersebut, bisa dibayangkan betapa besar dan kuatnya terjangan longsor yang bergerak dari arah belakang rumah,” ujar Roki.
Dalam penelusuran tersebut, KSPPM juga menemukan alur air dengan lebar sekitar 1 hingga 1,5 meter dan kedalaman sekitar 0,5 hingga 1 meter di belakang rumah warga.
Menurut keterangan warga, alur tersebut bukan merupakan sungai utama, melainkan jalur yang terbentuk akibat peristiwa longsor sekitar delapan tahun lalu. Warga menyebut aliran Sungai Holbung berada di bagian atas dan mengarah ke sisi berbeda.
Penelusuran kemudian dilanjutkan menuju aliran Sungai Holbung. Di sejumlah bagian, jalan menuju ladang warga ditemukan dipenuhi bebatuan berukuran besar.
Menurut warga bernama Manik, lebar aliran sungai sebelumnya sekitar 1,5 meter dengan kedalaman sekitar dua meter. Setelah terjadi longsor, aliran tersebut disebut melebar menjadi sekitar 10 hingga 15 meter dengan kedalaman sekitar tiga hingga lima meter.
Penelusuran dihentikan ketika hujan kembali turun karena kondisi kawasan dinilai masih berpotensi mengalami longsor susulan.
KSPPM Soroti Aktivitas di Kawasan Perbukitan
Selain kondisi aliran air, KSPPM juga menghimpun keterangan warga mengenai aktivitas di kawasan perbukitan Kenegerian Ambarita.
Warga JN dan EM menyampaikan adanya aktivitas penyadapan getah pinus yang menurut mereka dilakukan secara cukup dalam.
®Ambrosius

