KLATEN, CHANEL7.ID – Siang ini, bersama Ipunk dari komunitas pemandu wisata Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community, kami menapaki jalan setapak di tengah persawahan dan lorong sempit desa menuju workshop sederhana Via Handycraft. Bau kayu segar dan aroma pernis yang pekat langsung menyapa indera (25/08/2025).
Di ruang mungil workshop penuh tumpukan kayu dan peralatan pertukangan, Wondo, sebutan akrab Sunardi, menyambut dengan senyum hangat. Keberanian dan kecintaannya pada kerajinan kayu terpatri jelas pada setiap sudut ruang kerja. Meski sederhana, nuansa kreativitas dan dedikasi terpancar pada ragam miniatur transportasi yang menunggu sentuhan akhir. Langit Juwiring yang cerah, menambah semangat Wondo untuk bercerita tentang perjalanan usahanya.
Di atas meja panjang, ratusan souvenir miniatur aneka moda transportasi darat, laut, dan udara disusun rapi menanti proses finishing dan packing. Mainan kayu kecil ini siap dikirim ke berbagai daerah di Tanah Air bahkan hingga mancanegara. Ada vespa bergaya klasik, mobil bergaya klasik, perahu pinisi dengan tiang layar menjulang, hingga pesawat terbang mini yang detailnya memukau. Setiap potongan kayu menunggu lapisan pernis untuk menonjolkan tekstur alami, sebelum akhirnya dibungkus dan diangkut ke pelabuhan pengiriman. Dia menuturkan bahwa setiap miniatur juga melewati proses cek kualitas agar bentuk dan catnya sempurna.
Miniatur kayu ini meski dibuat dari bahan dasar potongan limbah kayu mahoni dan jati, bahan yang dipilih juga di sortir agar terjamin kekuatan dan keindahan seratnya. Wondo bercerita bahwa sebelum pandemi, ia memiliki workshop besar dengan puluhan pekerja terampil. Ketika Covid-19 melanda, permintaan mendadak anjlok, pemasok kayu terhenti, dan ia terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya. Masa sulit itu memaksanya berinovasi dan hanya menjalankan operasi minimal di workshop sederhana ini. Kini, meski skala produksi mengecil, semangat berkarya tak pernah padam. Pelibatan warga sekitar menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga rantai produksi tetap hidup dan terpenuhi.
- Advertisement -
Setiap bulan, Wondo menerima puluhan hingga ratusan pesanan. Untuk memenuhi permintaan, ia membagi pekerjaan, memotong dan membentuk kayu di beberapa rumah tetangga, lalu mengumpulkan potongan mentah di workshop utama. Di sana, ia melakukan tahap pernis, pengeringan, serta pengecekan detail. Proses packing mengikuti standar aman agar miniatur tidak rusak selama pengiriman. Sistem ini tidak hanya memulihkan perekonomian kecil, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi warga yang sempat kehilangan pendapatan saat pandemi. Melalui kolaborasi ini, terjalin rasa kebersamaan yang semakin menguat dan mempererat ikatan sosial di antara warga Ngrukuh, Trasan, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.
“Via Handycraft” menawarkan tiga ukuran miniatur, kecil, sedang, dan besar. Dari sekitar 18 jenis desain, sebagian besar menggambarkan moda transportasi. Setiap ukuran dibanderol antara harga sepuluh ribu rupiah untuk miniatur kecil hingga lima puluh ribu untuk ukuran besar yang lebih kompleks. Bagi pembeli dalam jumlah banyak, tersedia harga grosir dengan potongan khusus, mempermudah pelaku usaha menjadikan miniatur kayu ini sebagai produk andalan mereka. Program ini turut mendukung pengembangan UMKM lokal. Skema grosir memperluas distribusi dan meningkatkan pendapatan perajin desa.
Detail finishing menjadi nilai tambah utama. Permukaan kayu yang dilapisi pernis mengkilap atau dop memancarkan nuansa antik. Tekstur serat jati atau mahoni terlihat jelas, memberi kesan alami dan elegan. Beberapa miniatur diberi aksen cat tipis untuk menonjolkan detail roda, layar, atau bodi kendaraan. Wondo memaparkan bahwa proses pelapisan pernis dilakukan dua hingga tiga lapis, dengan jeda waktu pengeringan agar hasilnya tahan gores dan tahan lama. Ketelitian pada setiap tahap menghasilkan produk berkualitas ekspor, sehingga miniatur kayu “Via Handycraft” kerap direkomendasikan sebagai souvenir khas Indonesia.
Pada masa sebelum pandemi, pesanan mengalir deras dari Solo, Yogyakarta, Bali, hingga luar negeri. Souvenir mereka sempat menjadi pilihan prioritas dalam pameran kerajinan dan festival budaya. Kini, meski intensitas order menurun, beberapa pelanggan lama tetap setia kembali memesan tiap bulan. Wondo optimis pasar lokal akan terus tumbuh seiring geliat pariwisata domestik. Beliau juga menjajaki peluang kemitraan dengan komunitas wisata dan pemandu dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community untuk mempromosikan miniatur sebagai oleh-oleh edukatif bagi pengunjung. Sikap adaptif ini menjadi kunci bertahan dan membangun kembali jaringan pelanggan yang sempat terhenti saat krisis global melanda.
Selain miniatur kayu, Via Handycraft juga menawarkan lukisan kaligrafi di atas kulit kambing atau sapi. Karya ini memadukan seni tulisan Arab dengan bahan alami, menciptakan nuansa spiritual yang kental. Prosesnya meliputi pemilihan kulit, pengeringan, pengeleman, hingga pengecatan dan finishing pigura dengan tinta khusus. Lukisan kaligrafi menjadi alternatif suvenir nilai seni tinggi, sering dipesan untuk hiasan masjid, rumah, atau kantor.
- Advertisement -
Untuk pemasaran, Wondo memanfaatkan berbagai saluran. Di minimarket keluarga yang dikelola istrinya, serta via online medsos. Kerajinan “Via Handycraft” ini berlokasi lumayan strategis di dekat jalan utama Juwiring, produk miniatur dan kaligrafi mudah dijangkau pengunjung lokal. Selain itu, penjualan online melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp juga memudahkan pelanggan luar daerah memesan. Bagi Wondo, kombinasi offline dan online ini saling menguatkan, menambah cakupan pasar tanpa mengorbankan sentuhan personal dalam setiap transaksi. Ia juga aktif mengikuti pameran kerajinan skala lokal dan nasional untuk menjalin relasi dengan kolektor, distributor, serta menjajaki peluang kerjasama baru.
Di balik kesederhanaan workshop Via Handycraft, tersimpan kisah ketangguhan, inovasi, dan semangat gotong royong. Wondo menjadi contoh nyata bagaimana pelaku usaha mikro mampu bangkit dari keterpurukan dengan kreativitas dan kolaborasi. Saat matahari menyusup ke celah jendela workshop, sinar keemasan memantul di atas permukaan kayu yang siap diukir menjadi karya indah. Harapan tumbuh agar Via Handycraft tidak hanya bertahan, melainkan terus berkembang, menjadi teladan kerajinan lokal desa yang mendunia.
Dengan tekad dan kolaborasi, “Via Handycraft” membuktikan bahwa usaha sederhana bisa menghasilkan karya luar biasa dan memberi manfaat luas bagi masyarakat desa. Semoga kisah ini menginspirasi semangat kebangkitan UMKM di berbagai sudut negeri.
- Advertisement -
®Pitut Saputra

